Rabu, 25 Juni 2008

Balai Berkuak, Selasa, 18 Desember 2007

Asyik bercengkerama bersama teman. Seketika ada telepon masuk ke HPku. Setelah kulihat dari Siska BB. Kumatikan saja. Karena aku berpikir dia hanya ingin misscall doang. Iseng saja. Tiga kali telepon masuk darinya kumatikan. Ternyata aku salah menilainya bahwa dia ingin mengabarkan padaku. Motor Pak Handoko akan jadi berangkat meraih ikan ke Teluk Batang. Berartikan dia akan melewati kampungku, Durian Sebatang.
Aku berkemas cepat sekali. Pakaian yang kujemur dan ingin kubawa ke kampung kumasukan saja dengan asal-asalan, tidak berlipat. Sisa pakaian yang masih berjemur, kusuruh Phebry nanti mengangkatnya.
Kami bertolak dari Balai Berkuak sekitar pukul dua belas lewat sepuluh menit. Motor airnya berjalan pelan-pelan karena sungainya banyak mengandung kayu tenggelam dan kelebaran sungainya pun sangat kecil. Dalam menjalankan motor air ini harus hati-hati. Apalagi arus sungainya sangat deras. Keterhati-hatian tingkat tinggi lebih ditanamkan lagi.
Motor air yang saya tumpangi melintasi Batu Bosi yang dikeramatkan oleh rakyat Pendaun. Batu Bosi yang dipagari oleh cat warna kuning. Warna kuning yang melambangkan keturunan raja atau kelas bangsawan.
Mungus juga dilewati. Seterusnya Lempaoh, tabung air, kuburan yang sudah runtuh ke air, Selimbung, Mungguk Naning, Sekucing Labai.
Selama perjalanan ini hujan turun dengan derasnya. Perjalanan motor air lebih pelan lagi jalannya. Di Sekucing Labai rencananya kami akan menginap. Menantikan hujan reda. Tapi jadi batal. Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan. Hingga alhamdulillah motor air kami keluar dari Sungai Bulan. Aku pun berlega hati. Karena tidak lama lagi kampungku akan kelihatan. Sekitar tiga tanjung lagi. Benar saja. Setelah melewati tanjung pertama dan kedua kelihatanlah Sawmil SBAL yang terang benderang. Sawmil SBAL yang dekat dengan Sungai Durhaka. Motor air itu terus melaju. Hujan tetap mengguyur. Seketika hujan yang deras itu berubah menjadi gerimis yang turun pelan-pelan seperti titik-titik jarum super.
Motor air yang kutumpangi pun singgah di pelabuhan depan rumahku. Aku mengucapkan syukur alhamdulillah, karena aku sudah sampai di kampungku dengan selamat.
Terima kasih Allah, atas anugerah terbesar-Mu padaku. Kamu telah memberikan pengalaman baru untukku melewati Sungai Kualan dari Balai Berkuak sampai ke kampungku. Yang sebenarnya belum pernah kulalui.
Terima kasih Allah, atas hidayah-Mu ini sehingga aku dapat selamat sampai ke kampungku.
Terima kasih Allah, banyak keindahan alam yang kusaksikan selama perjalanan ini yang menunjukkan kemahabesaran-Mu, sehingga aku menyadari bahwa diriku ini hanyalah sebuah keindahan kecil di mata-Mu jika dibandingkan dengan kemahabesaran alam-Mu.
~&&&~

0 komentar: