Rabu, 25 Juni 2008

Balai Berkuak, Senin, 17 Desember 2007

Usai mandi, berpakaian yang rapi. Aku pergi mengawas ujian S-1 Universitas Terbuka di SDN 36 Balai Berkuak. Aku minta diantar Phebry. Tetapi ternyata Phebry belum siap.
Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.00. Aku bisa terlambat. Akhirnya aku minta kerelaan Pak Dedi mengantarku. Dia bersedia. Aku diantarnya. Benar. Aku terlambat sepuluh menit. Aku minta maaf kepada pengawas dari Pontianak. Dia memaafkanku dan langsung menyuruhku untuk mengawas.
Pada ujian kedua. Sekitar pukul 10.00. Hpku berdering. Ternyata ada penelepon yang ingin berbicara denganku. Benar. Penelepon itu dari Pontianak. Dari adik sepupuku. Dia ingin mengerjaiku. Suaranya dibesar-besarkannya layak suara orang tua. Benar. Aku sempat tidak mengenali suaranya. Kemudian aku sudah bisa mengenali suaranya. Dia adalah Dedi. Aku berbicara dengannya.
Asyik berbicara dengannya. Hpnya diserahkannya kepada Edi Ramin. Dia lagi yang gantian bicara denganku. Bicara dengannya telingaku menjadi panas. Abis dia lama berbicaranya. Aku sampai bilang.
”Telingaku sudah panas nih. Nanti lagi meneleponnya ya? Sorelah!”
”Belumlah. Belum juga setengah jam.”
”Telingaku sudah panas. Aku mau masuk mengawas. Sudah lama sekali aku keluar. Aku tidak enak dengan peserta ujiannya. Sore lagilah meneleponnya ya?”
”Yalah, kalau begitu.”
Edi Ramin mengalah. Pembicaraan lewat HP pun terputus. Aku pun masuk ke ruangan untuk mengawas lagi.
~&&&~

0 komentar: