Minggu, 29 Juni 2008

Balai Berkuak, Senin, 4 Februari 2008

Kuungkapkan kejujuran padanya agar dia dapat mempertimbangkan kejujuranku. Aku ingin setelah mengetahui kejujuranku maka dia juga akan berbuat yang sama. Sampai sekarang belum sempat dia membicarakan kejujurannya. Kejujuran tentang dirinya, dengan tidak menutup-nutupinya. Kejujuran yang benar-benar asli.
Aku tetap sabar menantikan dia mengatakan kejujuran itu. Kejujuran mengupas dirinya sendiri. Kejujuran untuk mengantarkan pada jalinan ikatan hati yang mendalam. Ikatan untuk mengarungi mahligai bahagia bersama.
Mungkinkah dia akan mengatakan kejujurannya? Mungkinkah dia tidak memanipulasi kejujurannya? Mungkinkah... Mungkin dan mungkin. Itulah yang setia menemaniku sampai saat ini. Menantikan kejujuran yang ingin diungkapkannya padaku.
Aku tidak ingin memaksanya.
Kalau sekiranya dia tidak mau mengungkapkan kejujuran itu. Itu adalah haknya. Hanya saja aku tidak ingin perhubunganku dengannya nanti dilandasi dengan ketidakjujuran. Itu saja. Lain tidak.
Jika pengungkapan kejujuran itu tidak dilakukannya maka hal itu mengindikasikan padaku bahwa dia bukan seseorang yang dapat kuajak untuk mengarungi mahligai bahagia bersama. Dia hanya bisa kujadikan sebagai teman dalam perjalanan kehidupan saja.
~&&&~

0 komentar: