Rabu, 25 Juni 2008

Durian Sebatang, Rabu, 19 Desember 2007

”Inikah kampung Om? Sunyi amat? Dimana pasarnya? Tidak seramai di kota tempat tinggalku ya?” comelnya dia mengatakan itu. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
”Yalah. Karena antara daerah di desa dan kecamatan pasti berbeda. Pasti ramailah di daerah kecamatan. Sudahlah jangan kita permasalahkan hal itu. Mari kita berteduh ke rumahku dulu yang tidak terlalu bagus,” ajakku pada semuanya sekaligus dia.
”Mari Om. Jauh tidak rumah Om dari pelabuhan?”
”Tidak. Hanya kurang lebih seratus meter. Itu pun sudah jauh. Mari,” kataku sekali lagi.
Aku mulai melangkah menuju rumahku. Mereka mengikutiku. Dia heran melihat rumahku yang besar sekali.
”Waw, tidak kusangka rumah Om besar dan luas.”
”Yalah. Inikah rumah tua.”
”Ramai juga penghuninya dan rumahnya berdekatan sekali. Berarti ramai dong penduduknya.”
”Begitulah...!”
”Berarti aku salah dalam menilainya tadi. Aku kira sunyi, tidak tahunya di sini ramai sekali. Maafkan kesalahanku tadi ya Om.”
”Tidak apa-apa. Kesalahanmu sudah kumaafkan. Sekarang silakan beristirahat untuk melepaskan penatnya. Mudah-mudahan saja keletihannya hilang berganti dengan timbulnya kesegaran. Permisi saya ke belakang dulu.” Aku pergi ke kamar belakang rumahku untuk melepaskan letih juga.
”Silakan Om.”
Dia hanya tersenyum.
~&&&~

0 komentar: