Rabu, 25 Juni 2008

Durian Sebatang, Rabu, 26 Desember 2007

”Mengapa sih kamu selalu menginginkanku menjadi rembulan?”
”Karena aku ingin melihat cahayamu yang berpencar-pancar dan berkilau-kilau mewarnai wajahku. Karena aku saat ini dalam kegelapan.”
”Tidak perlu jadi rembulan. Jadi lilin pun aku bisa menerangi kegelapanmu? Mengapa kamu tidak izinkan?”
”Karena kalau kamu jadi lilin memang bisa menerangi kegelapanku. Bisa membuatku lebih jelas melihat dalam keteranganmu. Tapi pengorbanan itu yang aku tidak mau. Karena dengan kamu menjadi lilin maka kamu akan mengorbankan dirimu sendiri. Itu yang tidak kuinginkan. Selain itu kalau kamu jadi lilin bukan cahaya yang penuh keindahan berkilau-kilau terpancar, tetapi hanya cahaya putih-putih yang tidak seluruhnya dapat membersihkan kegelapanku. Aku ingin kamu dapat membersihkan kegelapanku dengan sempurna.”
”Tapi aku tak bisa jadi rembulan.”
”Tidak bisa. Kamu harus mampu menjadi rembulan. Rembulan dalam kegelapanku.”
”Sudah kucoba. Aku tak bisa lagi jadi rembulan. Aku hanya bisa menjadi matahari dan bintang dalam kegelapanmu.”
”Sudah kukatakan. Aku tidak mau. Aku hanya ingin kamu jadi rembulan. Aku tidak ingin kamu jadi yang lain. Apalagi jadi matahari dan bintang. Itu akan menyiksaku.”
”Mengapa bisa begitu?”
”Kalau kamu jadi matahari. Memang sinarnya dapat menerangi semua kegelapanku, tetapi aku harus mengorbankan tubuhku terbakar oleh keganasan sinar mataharimu. Aku tidak ingin hangus terbakar. Aku ingin selalu bersamamu. Kalau kamu jadi bintang terlalu kecil cahayamu menerangi kegelapanku. Hanya sepercik keindahannya saja. Aku tidak ingin. Aku mau keindahan yang sempurna untuk menerangi semua kegelapanku, yang hanya terdapat di rembulan. Semoga kamu mengerti.”
”Aku mengerti akan maumu. Tapi ....”
”Jangan ragu. Kamu bisa melakukannya. Aku yakin. Karena kamu memang memiliki semangat dan keimanan yang tinggi. Modal itu yang bisa menguatkan kepercayaanku kepadamu. Bahwa kamu dapat melakukannya. Kamu dapat menjadi rembulan untukku. Aku mohon lakukanlah untukku. Lakukanlah demi cinta dan kasih sayangmu padaku.”
”Baiklah. Aku akan mencoba melakukannya untukmu. Tapi kamu jangan menyesal sekiranya aku tidak dapat melakukannya. Kamu jangan bersedih jika sekiranya ketika jadi rembulan aku harus terbelah berkeping-keping.”
”Kamu jangan berpikiran yang bukan-bukan. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa padamu.”
”Mudah-mudahan saja. Itulah yang kuharapkan.”
Dia mulai melakukan apa yang diinginkan kekasihnya. Dia mulai merubah dirinya menjadi rembulan. Keringat semangat dan keimanan tinggi mengalir deras. Sebentar lagi perubahan akan terjadi. Perubahan dirinya menjadi rembulan. Saat itu dia menggunakan voltase kekuatan 17 kandela tingkatan akhir. Tubuhnya meledak. Percikannya berserakan sepanjang alam luas ini.
”Tidak.....!”
Pekik kekasihnya karena melihat tubuh dia yang telah terbelah berkeping-keping. Kekasihnya mulai menyadari keegoisannya. Terlalu memaksakan kehendaknya. Menginginkan dia sesuai dengan imaji hidupnya.
Akhirnya dengan menangis-nangis dikumpulkannya percikan tubuh dia yang meledak satu per satu itu. Kemudian mulai disusunnya kembali seperti semula. Kekasihnya berharap bahwa yang dilakukannya belum terlambat. Tetapi itu tidak bisa terlaksana. Malahan yang terjadi dari penyatuan tubuh dia adalah membentuk lajuran memanjang dan melengkung menghiasi langit yang menampilkan tujuh warnanya dalam memberikan keindahan rupa.
”Bianglala.”
”Masya Allah, mengapa jadi begini?”
~&&&~

0 komentar: