Rabu, 25 Juni 2008

Durian Sebatang, Sabtu, 22 Desember 2007 – (17.00)

Hari ibu.
Hari untuk menghormati ibu yang telah susah payah melahirkan dan membesarkan kita.
Apa yang bisa kuberikan pada hari ibu ini?
Entahlah.
Hanya kasih sayang saja yang bisa kuberikan pada ibuku yang tercinta. Kasih sayang yang tak pernah lekang ditelan keganasan zaman. Kasih sayang yang murni dari kedalaman palung hatiku yang paling mendalam.
Hari ibu.
Seluruh orang di dunia mulai mengenang betapa besar kasih sayang yang diberikan seorang ibu padanya. Ibu yang berjuang mati-matian ketika melahirkan kita ke dunia. Antara hidup dan mati. Sungguh mulia dan tulus hati seorang ibu berkorban seperti itu. Sudah sepantasnya seorang ibu kita letakkan lebih tinggi derajatnya dari seorang bapak. Bukan berarti mendeskriditkan seorang bapak. Bukan.
Maksudnya dengan perngorbanan yang besar dan tulus seorang ibu demi seorang anaknya. Sudah sepantasnya kita menghormati dan menghargai dia sepenuh jiwa raga kita sehingga tidak heran bahwa sebuah hadist mengatakan bahwa Surga Di bawah Telapak Kaki Ibu.
Mengenai kata Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu ini, membuat keterharuan terjadi.
Hujan tangisan di acara Stardut terpampang jelas. Semua orang terharu dan menitikkan airmata. Mendengarkan lagu yang berjudul Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu. Lagu tersebut dinyanyikan dengan penuh penghayatan mendalam oleh Ike Nurjanah. Penghayatan menyanyinya yang betul-betul dibilang sangat bagus dan baik. Ike Nurjanah sebagai penyanyi lagu itu menitikkan airmatanya juga. Terharu. Karena ketika dia menyanyikan lagu itu, anaknya mendatangi dan memberikannya setangkai bunga yang indah padanya. Cinderamata yang tulus dari seorang anak pada ibunya. Perasaannya sebagai seorang ibu mencuat melihat kenyataan itu. Begitu berartinya sebuah ketulusan dalam pemberian hadiah kepada seseorang. Ketulusan yang mengharukan sebuah perasaan. Perasaan yang benar-benar keluar dari lubuk hati yang dalam.
Melihat kenyataan itu. Semua orang yang berada di studio Indosiar itu juga ikut menitikkan airmata. Banjir bandang tangis menggenang di studio Indosiar tidak bisa dibendung lagi. Tangisan murni mengenang pada ibu-ibu mereka. Apakah yang telah mereka perbuat selama ini? Sudahkah mereka benar-benar membahagiakan ibunya atau sebaliknya mereka banyak menyakitkan hati ibunya?
Keterharuan ini sungguh fantastis. Akting hebat ini sungguh tulus keluar dari hati yang paling dalam. Sedalam-dalam lautan India.
Kalau mau jujur sih. Kedalaman lautan ini bisa diukur. Hehe...!
Mau tahu kebenarannya. Ini aku berikan kebenarannya. Untuk mengetahui kedalaman lautan India. Kamu panggil saja tukang ukur kedalaman air untuk mengukurnya. Pasti dia bisa mengetahui kedalamannya. Hehehehe....!
Kalau kamu ingin tahu. Bahwa ada lautan yang bisa diukur, tetapi ada juga lautan yang tidak bisa diukur kedalamannya oleh siapapun atau mahluk yang terpintar di dunia ini. Penasarankan. Mau tahu lautan itu. Ini aku beritahu. Lautan itu adalah lautan iradat Allah. Kedalaman lautan ini hanya Allah saja yang bisa mengukurnya. Kita sebagai manusia tidak memiliki pengetahuan untuk mengukur kedalaman lautan itu. Kita hanya dituntut untuk menyukuri dan menikmati kemanisan lautan iradat Allah dan meminum sepuas-puasnya kelezatan air lautan itu.
~&&&~

0 komentar: