Rabu, 25 Juni 2008

Durian Sebatang, Sabtu, 22 Desember 2007 – (20.30)

Sepanjang perjalanan ini hanya dapat kusisakan sebuah catatan harian. Catatan harian untuk kamu baca yang mungkin tidak terlalu berarti, tapi bagiku adalah sebuah hal yang sungguh berarti sekali. Dengan terminalnya tak pernah dapat kukatakan.
Apakah bisa selamanya aku begini? Apakah selamanya aku bermain dalam ketidakmengertian ini?
Sepanjang perjalanan ini hanya dapat kusisakan sebuah catatan harian. Catatan harian untuk kamu telaah yang mungkin tidak terlalu bermanfaat, tapi bagiku adalah sebuah hal sungguh bermanfaat sekali. Manfaatnya itu membuat semua orang dapat merasakan kebahagiaan batin dan jasmani. Terminal dari kebahagiaan ini adalah pantai putih di seberang lautan tak bertepian. Yang di atasnya ada langit merah yang menaunginya. Sungguh sejuk.
Apakah selamanya aku akan kemerahan? Apakah selamanya aku bergerak dalam ketidakberdayaan ini?
Sepanjang perjalanan ini hanya dapat kusisakan sebuah catatan harian. Catatan harian untuk menjadikan hati yang tulus dan ikhlas, yang mungkin tidak pernah kamu pedulikan, tapi bagiku adalah sebuah kepedulian yang luar biasa. Peduli terhadapmu dengan melakukan pengorbanan apapun. Pengorbanan besar yang sesuai dengan kamu minta. Aku tak bicara muluk-muluk.
Kalau kamu minta senyumanku, akan kuberikan itu walau bibirku kelu untuk kupamerkan pada dunia. Tapi jangan kamu minta harta kekayaan yang melimpah. Sungguh aku tak bisa memenuhinya.
Kalau kamu meminta aku selalu mengasihi dan menyayangimu. Semua itu dapat kuberikan walau kering lautan dalam hatiku. Lautan kasih sayang yang airnya kualirkan pada muara hatimu. Tapi jangan kamu minta aku mengambilkan bulan di langit biru. Sungguh kukatakan dengan ketulusan hatiku bahwa aku tak bisa. Itu hanya bahasa seorang penyair untuk menyenangkan hati kekasihnya, tetapi kenyataan dari bahasa itu adalah sebuah kemuskilan.
Sepanjang perjalanan ini hanya dapat kusisakan sebuah catatan harian. Catatan harian yang berwarna hijau sampai coklat. Kusam dan berhalimun. Tinggal kamu sendiri yang menilainya.
Apakah mau membersihkannya? Apakah mau menerimanya atau tidak?
Semua penilaian ini kuserahkan padamu. Menilai untuk menyimpan erat-erat catatan harian itu ke dalam lemari perasaan dan nuranimu yang terdalam. Disimpan rapat-rapat dan dibuka setelah fajar menjelang. Menyibak cover depan catatan harian itu. Catatan harian yang merupakan kisah perjalanan kehidupanku.
Aku ingin kamu membuka cover depan catatan harian itu ketika ikrar sahabat sejati dikumandangkan melalui akad dan ucapan dua kalimat syahadah di depan orang ramai. Saat itu warna-warni keindahan menghiasi pelangi hati.
~&&&~

0 komentar: