Sabtu, 28 Juni 2008

Pontianak, Sabtu, 12 Januari 2008

Titik jalan masih hitam ketika kulewati jalan berkabung aspal itu. Pelan-pelan. Kembali ke peraduanku di dunia mahligai kebahagiaan. Terlihat vega yang kukendarai berjalan tertatih-tatih menapaki malam yang entah ke berapa. Malam yang penuh kesyahduan. Serasa menghangatkan aliran pernapasanku. Di belakang sadel, adik sepupuku tak dapat bicara. Karena kedinginan melandanya. Kedinginan yang terus merangsek maju menembus pertahanan tubuhnya. Tangannya sedikit bergetar.

Kasihan sekali dia, lirih hatiku bersenandung kecil.

Titik jalan masih hitam ketika kuhentikan kuda besiku di persimpangan itu. Persimpangan tiga yang menentukan perjalanan hidupku. Persimpangan tiga itu mengarah pada satu keputusan yang harus kuambil. Persimpangan kiri yang lebih menekankan keputusan yang diambil pada emosional semata tanpa pertimbangan bijaksana. Persimpangan kanan yang lebih menekankan keputusan yang diambil pada pertimbangan bijaksana, kedalaman hati, dan mampu membedakan yang mana salah dan yang mana benar. Persimpangan lurus ke depan yang lebih menekankan keputusan yang diambil pada keinginan untuk mengikuti kemajuan zaman.

Keputusan pun kuambil dengan cermat dan akurat. Kuda besi segera kukendarai melewati persimpangan kanan yang menuju ke arah peraduanku yang hakiki. Adik sepupuku menyela.

”Sungguh pemilihan jalan yang tepat sekali.”

~&&&~

0 komentar: