Sabtu, 28 Juni 2008

Pontianak, Selasa, 15 Januari 2008

Menunggu adalah suatu perbuatan yang melelahkan. Begitulah yang kualami hari ini. Menunggu pelunasan pajak sepeda motor yang belum juga selesai. Aku menunggu dari pukul dua belas sampai pukul dua. Pukul dua baru aku dipanggil. Berarti penungguan yang kulakukan adalah dua jam. Sungguh penungguan yang begitu lama. Penungguan yang menyebabkan rasa kesal menjalar. Karena dalam antrian ini terjadi ketidaktertiban.

Orang yang mempunyai koneksi instansi ini akan dicepatkan. Kita yang betul-betul tidak ada koneksi, terus dipinggirkan. Mereka menyelesaikan antrian yang punya koneksi dulu.

Dianjurkannya, kita tertib antrian. Tetapi ternyata ketertiban itu disalahartikan oleh mereka yang punya koneksi tersebut. Mereka sah-sah saja menyerobot antrian orang lain demi urusannya. Itukah yang dinamakan tertib dalam antrian?

Kita diharuskan bersabar dalam mengantri. Kesabaran yang bagaimana yang diminta. Ternyata kesabaran untuk selalu disisihkan. Karena kita adalah orang yang tidak punya koneksi.

Jadi, orang yang berkoneksi dapat lancar urusannya, sedangkan urusan yang tidak berkoneksi akan lama jalan penyelesaiannya.

Melihat fenomenal seperti ini saya berpikir. Bahwa tempat ini adalah sebuah tempat yang tidak menjalankan ketertiban yang sesungguhnya. Penerapan ketertiban dalam mengantri di daerah ini masih setengah-setengah. Seharusnya kalau penerapan ketertiban dalam antrian di sini dilakukan dengan sesungguhnya maka orang yang pertama mendapat giliran akan diberikan pertama, tetapi ini terbalik. Orang yang mendapat antrian pertama malahan mendapatkan antrian kedelapan. Antrian kesatu dan ketujuh akan diisi oleh orang-orang yang punya koneksi dengan daerah tersebut. Mudah-mudahan saja hal yang sama tidak terulang kembali di kemudian hari di tempat ini. Mudah-mudahan tempat ini dapat menerapkan kedisplinan dalam mengantri yang sesungguhnya.

~&&&~

0 komentar: