Senin, 02 Juni 2008

R. Guru (Balber), Kamis, 29 November 2007 – (10.45)

Mainstream itu terlalu memabukkanku. Memusingkan kepalaku. Terlalu banyak percikan bunga yang harus kususun menjadi taman bunga. Taman bunga yang memberikan keindahan pada siapa saja yang sudi mampir. Mengendus keharuman bunga warna-warni yang kususun sedemikian rupa apiknya. Bunga itu ada yang kuambil dari hutan, langit, sungai, awan, bahkan senja.
Maket itu terlalu menegangkan urat syarafku. Mendenyut-denyutkan peredaran urat nadiku. Terlalu banyak tetes-tetes embun harus kualirkan menjadi sungai. Sungai kehidupan yang memberikan penghidupan kepada siapa saja. Siapa saja yang dapat menikmati untuk keperluan hidupnya. Dari mencuci, membasuh kotoran atau buang hajat, mandi, minum, dan segala keperluan hidup lainnya.
Mahligai bangku memenatkan pantat berpikirku. Mengilukan pemikiran optimisku. Terlalu banyak kata-kata yang tertuang dalam gelas-gelas kosong itu. Tetapi belum ada gelas-gelas terisi yang dapat menyelaraskan jiwa kedamaian dan kebahagiaanku di musim ini. Musim ini yang terus berganti. Musim semi sampai musim gugur.
Apakah aku juga akan gugur seperti daun-daun? Bisa saja. Kalau ketuaan sudah bercokol di kehidupanku? Berserakan tak terurus dan tak berguna. Begitukah nasibku?
Kelihaian pena yang terselip di saku bajuku, mengajakku bercanda. Aku tak memedulikannya. Abis aku lagi penat hari ini. Sebongkah kapur-kapur penyakit telah menyerang ketahanan tubuhku. Rasa nyeri menikam badanku bagian kiri dan kanan seperti ditusuk-tusuk jarum sembilu. Aku meringis. Menahan kesakitan itu. Berusaha untuk tegar. Aku ingin selalu penuh kesabaran dalam menahan kesakitan. Aku ingin jadi hamba Allah yang sabar dalam ujian-Nya. Semoga saja.
~oOo~

0 komentar: