Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Jumat, 15 Februari 2008

Tatapan matamu dalam sebuah bingkai persegi empat di laptop menampilkan kedukaanmu. Kedukaan yang begitu lama kamu pendam dan kamu jalani sendiri hanya karena ingin mengikuti nasihat seseorang yang selalu menguatkan dan menegarkan hatimu agar dapat melupakan kedukaan itu. Walau terasa berat sekali kamu jalani, tetapi kamu mampu juga menjalaninya.
Tatapan matamu dalam sebuah bingkai persegi empat di laptop menampilkan kekerasan jiwamu. Kekerasan jiwamu yang memberikan impuls ketegaran kepadamu untuk menapaki kehidupan ini dari sebuah cobaan yang begitu berat. Berat dilihat dari pandangan masyarakat. Terasa ringan kalau dilihat dari kacamata keimanan dan keikhlasan agama yang dipegang.
Tatapan matamu tajam menusuk. Keluar dari laptop. Menampar kebekuan penyair. Menyadarkan penyair yang terlena dalam khayalan dan imajinasi. Menyadarkan penyair yang hanya bisa memadahkan syair-syair dalam dentingan waktu berair.
Penyair hanya bisa memadahi syair tetapi tidak bisa memaknai tatapan matamu yang merupakan syair yang paling indah dan menarik dalam kehidupan ini.
Waktu ini penyair mulai berusaha memaknai tatapan matamu yang terdapat di dalam sebuah bingkai persegi empat.
Dalam tatapan matamu terdapat puisi-puisi yang menarik untuk dilantunkan.
Dalam tatapan matamu terdapat gelombang besar menghempas pantai yang harus diarungi dengan perjuangan besar dan ketabahan maksimal dengan mengikhlaskan diri hanya kepada Allah semata-mata.
Dalam tatapan matamu adalah taman laut yang indah untuk dinikmati.
Dalam tatapan matamu adalah tempat segar mengembalikan kejernihan pikiran kusut yang dibilit oleh masalah-masalah kehidupan.
~&&&~

0 komentar: