Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Minggu, 17 Februari 2008

Allah, begitu hebat cintanya pada penyair. Penyair tak bisa berbuat apa-apa lagi. Penyair sadar bahwa penyair hanyalah seorang hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya. Mengenai cinta, penyair tidak dapat berkomentar banyak, karena cinta alami adalah pemberian-Mu. Pemberian-Mu yang tak pernah usang ditelah zaman. Pemberian-Mu yang tak pernah pupus dilibas kemunafikan diri.
Allah, begitu hebatnya deraan cinta menghantam batin persada ini. Batin persada ini yang telah menghantarkan penyair pada kesilafan-kesilafan cinta yang mungkin terlalu naif untuk dapat dimaafkan. Mungkin terlalu kotor untuk dapat dibersihkan. Mungkin terlalu tak layak mendapatkan tempat di relung hati terdalamnya. Karena penyair hanyalah seorang penyair yang tak terlalu fasih memaknai syair-syair-Mu.
Allah, begitu hebat ujian cintanya Kamu sematkan di dalam jiwa. Dengan harus rela menahan perih dan luka di dada. Meninggalkan sebuah kesan mendalam mengenai cinta yang terawang-terawang di angkasa-Mu yang Maha Luas. Mengenai kasih yang terpenggal pilu di samudera hidayah-Mu yang Maha Menghampar. Mengenai sayang yang tersayat-sayat sembilu kepedihan di kenikmatan-Mu yang sungguh banyak.
Allah, mengapa tidak sedari dulu kamu tikam cinta ini dengan sebanyak-banyaknya agar penyair dapat mengerti dan memahami serta berani mengarungi cintanya.
Mengapa malah sebaliknya. Kamu berikan ujian yang membuat penyair hampir kelimbungan? Untunglah penyair tetap tegar menjalaninya demi menunaikan amanat yang Kamu berikan. Penyair tidak menyesali yang sudah terjadi. Penyair hanya memohonkan pengertian-Mu saja.
Allah, apakah kejadian ini adalah teguran-Mu untuk menyadarkan penyair bahwa penyair telah banyak melakukan dosa dan kesilafan kepada-Mu. Sehingga Kamu harus memberikan pelajaran hikmah-Mu mengenai cinta yang terlalu panjang. Berliku-liku, tersendat-sendat, tersengal-sengal di perjalanan kehidupan ini.
Allah, jikalau ia memang terbaik yang Kamu berikan pada penyair yang berdosa dan banyak silaf ini. Mantapkan dan ikhlaskan hati penyair untuk menerimanya. Demi menjalankan kodrat-Mu dan menunaikan amanat yang Kamu embankan pada penyair. Berikanlah penyair jalan terang dan mantap untuk menapaki kehidupan yang telah Kamu gariskan.
Yang telah.......
Kamu gariskan....
Syair lagu terakhir yang harus penyair senandungkan bersama keteguhan hati untuk menjalaninya.
~&&&~

0 komentar: