Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Rabu, 13 Februari 2008

Seorang penyair berjalan tegar menapaki kepanasan. Keringat mengucuri wajahnya. Jatuh menetes dan sirna ke dalam bumi. Matahari tak pernah dapat diajak kompromi dalam kepanasan ini. Matahari tidak dapat disuruh sebentar saja berhenti, agar matahari dapat memberikan kesejukan pada penyair. Penyair tetap berjalan dengan ketabahan.
Penyair ingin menemui teman-temannya, di kepanasan matahari kali ini. Penyair ingin mendapatkan definisi perawan menurut pemikirannya.
Teman penyair yang akan ditemui adalah seluruh wanita yang ada di dunia ini.
Banyak wanita yang memberikan definisi perawan. Perawan adalah terenggutnya selaput dara yang dimilikinya. Definisi perawan seperti ini sudah menjadi pembicaraan umum. Memang begitulah adanya. Sampai sekarang definisi perawan seperti yang diutarakan wanita-wanita itu masih berlaku dan tak pernah ada yang melunturkannya. Sudah menjadi ketentuan yang absah di kehidupan ini.
Penyair sempat tersentak dan kaget. Ketika Syakira, teman wanita penyair yang datang dari kedalaman hati dan ketulusan perasaan. Memberikan definisinya tentang perawan. Perawan menurutnya adalah rasa yang merasai.
”Yang benar Syakira?” tanya penyair untuk memastikan.
”Benarlah. Orang keliru sekali mengatakan bahwa perawan itu adalah terenggutya selaput dara wanita. Sebenarnya perawan adalah rasa yang merasai. Saat hati kita merasai dan jiwa merasakan ketulusan seseorang itulah yang disebut perawan.”
”Pemikiranmu yahut sekali teman. Pemikiran yang spektakuler. Tapi bagaimana kita merasakan keperawanan menurut konsepmu itu?”
Dia tertawa.
”Aduh penyair. Kamu nih lugu amat. Kamu, mau merasakan keperawanan yang saya katakan itu?”
”Maulah. Karena saya penasaran ingin membuktikan ucapanmu.”
”Begitu. Baiklah, kalau kamu ingin membuktikannya. Saya memberikan arahan dulu. Arahannya adalah kamu harus mempersiapkan dirimu menjadi hati yang peka dan bersih dari perbuatan nista. Kamu harus mempersiapkan ketulusan dalam perasaanmu untuk hanya merasakan kenikmatan itu karena Allah SWT. Bisa?”
”Secepat ini?”
”Iyalah. Katanya ingin merasakan keperawanan itu sekarang. Sekaranglah.”
Saya hanya bisa terdiam.
”Belum mampu ya? Kalau belum mampu jangan bertanya-tanya tentang ingin membuktikan keperawanan seperti yang saya ucapkan. Lebih baik kamu jadi kekasih saya saja? Bagaimana? Mau?”
Ah, tambah gila saja pemikiran Syakira.
Tapi tunggu dulu...
Benarkah dia menginginkan saya menjadi kekasihnya? Apa untung baginya?
Tapi saya penasaran dan ingin mengetahuinya. Apakah yang dikatakannya mau menjadikan saya sebagai kekasihnya sekadar bercanda atau serius?
”Kamu serius atau bercanda Syakira? Ingin memainkan perasaan saya ya?”
”Tidak penyair, saya serius. Mau tidak? Kalau kamu mau, saya akan mewisuda kamu mendapatkan pembuktian tentang keperawanan itu sesegera mungkin.”
Ah, tidak saya sangka bahwa saya mendapatkan kebahagiaan sebesar ini.
Terima kasih Allah, atas kemurahhatianmu memberikan Syakira untuk saya.
Saya pun tersenyum. Tersenyum karena membayangkan perasaan saya yang bahagia dengan keinginan cintanya. Cinta seorang Syakira yang merupakan cinta seorang gadis peramah, beriman, lembut dalam perilaku, tulus dalam pemberian, dan ikhlas dalam perbuatan. Semua yang dilakukannya, murni hanya untuk mengharapkan rida Allah. Lebih tepat cinta dari seorang bidadari surga. Siapa berani menampiknya.
Senyuman saya diartikan Syakira setuju dengan permintaannya. Dia pun mewisuda saya dengan definisi keperawanan yang disebutkannya.
Saya terlonjak. Kemudian kaku dan senyap dalam senyuman berarti.
~&&&~

0 komentar: