Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Rabu, 27 Februari 2008

Di malam hari. Banyak sekali kereyang di rumahku. Dia terperangkap oleh dinding rumahku yang pengap dan jendela rumahku yang tertutup. Kereyang-kereyang itu tidak bisa meloloskan diri untuk menikmati alam kesegaran dan kebebasan.
Aku merasa kasihan melihatnya. Aku peduli akan kebebasannya.
Akhirnya pagi hari ketika sinar matahari menyiram bumi. Kubuka jendela yang tertutup itu agar kereyang-kereyang itu dapat keluar. Betul sekali perkiraanku. Setelah jendela rumah dibuka maka kereyang-kereyang itu terbang untuk menghirup alam kesegaran dan kebebasan. Masih ada beberapa kereyang yang terperangkap lorong sempit, lubang gelap, dan terjepit di sudut rumah. Kereyang-kereyang itu tak bisa bergerak. Karena kebebasannya dihalangi oleh lorong sempit, lubang gelap, dan jepitan sudut rumah.
Aku yang sigap dan tanggap akan kemanusiaan, membantunya. Aku mencari kemana kereyang-kereyang itu berada. Setelah kutemukan keberadaannya maka aku melepaskan kereyang-kereyang itu yang terkekang kebebasannya. Kereyang-kereyang itu merasa senang karena dia sudah terlepas dari pengekangan kebebasan hidup oleh bagian rumahku, yang menyiksa dirinya.
Aku senang-senang saja dapat melakukan perbuatan itu. Aku senang dapat membantu sesama mahluk ciptaan Allah.
~&&&~

0 komentar: