Sabtu, 26 Juli 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 8 Maret 2008

Perut sakit. Mulas. Nyeri mendera. Memelintir dan memilin urat perut semakin sakit. Tapi penyair mencoba melawan rasa sakit itu. Perang bilateral terjadi. Antara sakit dan menyembuhkan secara alami.
Konsentrasi penyair hilang untuk menguntai kalimat-kalimat menarik dalam sebuah tulisan, gara-gara Si Boy. Si Boy yang melontarkan kata-kata yang membuat penyair berpaling kepadanya. Karena kata-katanya menyentil urat saraf pendengaran dan penglihatan penyair untuk menoleh ke arahnya. Dasar Si Boy memang suka usilan. Dari urusan penyair sampai-sampai urusan Lewan pun diusilinya. Akhirnya penyair mengambil keputusan untuk tidak mempedulikannya lagi. Hal yang sama juga dilakukan Lewan. Sehingga Si Boy menghindar dari pandangan kami.
Kini penyair menjadi lega dan senang. Karena ditemani Lewan yang berada di samping penyair. Asyik deh. Rasa sakit perut penyair pun sedikit berkurang. Karena si Lewan ketawanya mengalahkan tawa raksasa. Oke deh.
”Awas katanya. Enak saja dia bilang. Ini barang mahal lho.”
Di sudut kursi depan pandangan mata kami, agak mencuruk ke dalam, si Wati tersenyum kecil. Menertawakan suatu hal yang dianggapnya lucu. Padahal yang ditertawakannya adalah hal yang tidak lucu bagi kami. Jadi dimana letak kelucuan itu menurut penilaiannya? Tidak tahulah. Karena kelucuan adalah sesuatu yang misteri. Penilaian kelucuan sesuai dengan persepsi masing-masing orang.
~&&&~

0 komentar: