Rabu, 09 Juli 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 9 Februari 2008

Menarik untuk mengkaji setiap perkataan yang dilontarkannya. Menarik untuk menganalisis setiap jengkal denyutan napas yang dihembuskannya. Memberikan sebuah pencerahan yang membingungkan. Masak dia menyamakan saya dengan tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Darimana sih dia mendapatkan penilaian seperti itu? Padahal saya merasa masih banyak kesilafan yang saya perbuat. Padahal saya tidak sesaleh Fahri. Tetapi dia tetap menyamakan saya dengan Fahri.
Saya hanya tersenyum.
”Kalau saya Fahri, siapa yang jadi Aisya, Maria, Noura, dan Nurul.”
”Kalau yang jadi Noura tidak ada. Jadi Nurul juga tidak ada. Tapi jadi Aisya, ada. Dia yang selalu kamu ceritakan pada saya. Dia yang memakai jilbab. Mudahan saja dia benar Aisya dalam hidupmu. Sedangkan saya, karena tidak pakai jilbab, saya hanya jadi Marianya saja.”
”Oh begitu, kalau kamu yang jadi Aisya saya, bagaimana?”
”Yang benar kamu, masak saya yang tidak pakai jilbab bisa jadi Aisyamu.”
”Bisa saja terjadi. Kalau kamu ada kemauan dan keinginan untuk menjadi yang terbaik.”
”Insya allah, saya akan coba. Dulu pun saya pernah punya keinginan untuk berjilbab dan mendekatkan diri kepada Allah.”
”Alhamdulillah. Baguslah. Mudah-mudahan saja niat baik selalu diridai Allah.”
”Amin.”
Selanjutnya dia menampilkan senyuman manis. Tak ketinggalan matanya juga bersinar cemerlang. Seakan dia telah menghirup kehidupan baru. Kehidupan barunya untuk merasakan manisnya berjilbab dan kelezatan cinta Allah padanya.
~&&&~

0 komentar: