Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Selasa, 12 Februari 2008

Banyak tuntutan yang diminta pada saya. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang sederhana sampai yang rumit. Dari yang dapat diusahakan sampai tidak bisa diusahakan. Rasanya saya tidak sanggup lagi melaksanakannya. Namun, saya masih saja berusaha melaksanakannya dengan menguat-nguatkan diri ini.
Ada yang minta kriteria pendamping hidup saya harus sama dan sederajat. Kalau saya pegawai negeri maka pendamping hidup saya, idealnya juga pegawai negeri. Ada yang meminta pendamping hidup saya, terserahlah. Tergantung Allah mau memberikannya. Dengan satu catatan, agamanya mantap. Kalau agamanya mantap otomatis akhlaknya juga mantap. Karena nilai-nilai agama telah dipraktikkannya dalam kehidupannya.
Di sini akan terlihat bahwa tidak adanya perbedaan tingkatan yang digunakan manusia dalam dunia. Kadangkala menyakitkan dan memilukan. Di sini malah terlihat sikap egalitarian. Sikap yang memandang semua orang adalah sama di mata Allah. Hanya ketakwaannya saja yang membedakannya.
Ada yang meminta kriteria isteri saya adalah wanita yang patuh, hormat, dan baik kepada mertuanya dalam segala hal, baik kita ada maupun tidak ada di hadapannya. Jangan malah sebaliknya. Menantunya bermain sandiwara. Mertuanya dijadikan bulan-bulanan kemarahan dan omelannya di saat kita tidak ada di hadapannya. Hanya pandai bermanis-manis mulut saja. Di belakang kita, sungguh kebablasan sikapnya.
Semua pendapat yang ada, saya tampung dan saya kaji. Saya mengkajinya menurut kacamata agama dan rida Allah. Untuk itulah, saya mulai memohon pada yang Kuasa agar memberikan petunjuk-Nya dalam memilih isteri yang ideal menurut penilaian Allah.
Mudah-mudahan saja, saya diberi Allah isteri yang dapat menenteramkan jiwa, menyenangkan hati suami, baik kepada siapa saja, lemah lembut tutur sapanya, keimanannya mantap, kesabarannya yahut, dan akhlaknya menjadi panutan masyarakat. Amin.
~&&&~

0 komentar: