Kamis, 10 Juli 2008

Balai Berkuak, Senin, 18 Februari 2008

Penyair diserang oleh pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh lima orang. Pukulan itu dilakukan mereka dengan serentak. Tidak memberikan ruang kesempatan pada penyair untuk menghindar atau mengelak. Penyair terjepit pada dinding dan pembatas kebenaran. Akhirnya penyair tak berkutik. Tak berdaya. Mengalah demi sebuah kemenangan.
Penyair dikalahkan mereka dengan telak sekali. Lima kosong. Karena masing-masing mereka dapat menyarangkan pukulannya, masing-masing satu pukulan. Pukulan yang yang bersumber pada satu kekuatan. Kekuatan yang menyuruh penyair untuk mengambil dia sebagai pendamping hidup.
Selain itu, ada seorang penyerang memberikan pukulannya yang berupa pukulan menganalisis sebuah makna kata. Kata itu adalah TRESNO MERGO SOKO KULINO. Penyair kelabakan setengah mati. Karena penyair bukanlah orang Jawa. Serangan kata yang dilakukan penyerang itu berasal dari pepatah cinta berbahasa Jawa. Penyair tidak patah semangat. Penyair harus menemukan makna serangan kata-kata itu. Penyair bertekad. Harus bisa.
Sepulang bertugas. Penyair langsung mencari penerjemah ulung yang bisa mengartikan kata TRESNO MERGO SOKO KULINO. Penerjemah itu adalah salah seorang lima penyerang yang melancarkan serangannya kepada penyair. Penyerang itu adalah seorang wanita. Wanita yang bila keluar dari dunia tugasnya akan menjadi teman yang penuh persahabatan dengan penyair.
Dari wanita itu penyair mendapatkan makna arti kata TRESNO MERGO SOKO KULINO, yaitu CINTA ITU DATANG DARI SERING BERTEMU.
Oh, begitu arti kata itu.
Sungguh pepatah cinta dari Bahasa Jawa yang sungguh mengesankan.
~&&&~

0 komentar: