Sabtu, 26 Juli 2008

Pontianak, Sabtu, 22 Maret 2008

Panas yang gelisah di tengah malam. Mendera-dera semakin hebat. Hebat dan menghebat. Menggerakkan mata terjaga. Nyalang. Diterangi lampu neon yang putih. Kerlap-kerlip hati yang tak tenang semakin memberatkan resah. Resah yang begitu dalam. Ditambah lagi mouse berkerlap-kerlip dalam tabungan jiwa. Semakin ramai suasana warna malam ini. Beragam dan berfatamorgana. Memperindah suasana semakin tak menentu. Ingin mewujudkannya menjadi kenyataan.
Gelisah dan resah itu adalah sesuatu yang abstrak. Mana mungkin dapat direalisasikan menjadi sebuah kenyataan.
Sekiranya gelisah dan resah adalah sesuatu yang konkrit. Sudah sedari tadi dia saya ajak bertarung. Biar dia dapat saya kalahkan. Kalau dia kalah dan sudah menjadi taklukan saya maka saya dapat memerintah dan mengekangnya. Agar dia tidak dapat seenak perutnya datang merajam pemikiran saya sehingga menjadi tak menentu seperti malam ini.
Apakah kegelisahan dan keresahan saya ada kaitan dengan kejadian yang tak mengenakkan yang akan saya terima nantinya? Itu sih hanya sebuah firasat. Mudah-mudahan saja tak begitu adanya.
Secangkir air putih di cawan menemani saya bergadang. Belajar memahami makna keheningan malam ini. Malam ini yang tidak lagi terdengar suara kehidupan. Hanya suara mesin air yang terus bersenandung. Menyenandungkan lagu khasnya dalam mengalirkan air dari pipa PDAM ke bak hitam penyimpanan air. Air yang dalam bak hitam itu akan digunakan untuk mandi besok pagi. Karena siang hari, air PDAM tidak mengalir. Entah mengapa tidak mengalir? Mana saya tahu.
Biarlah sepertiga malam yang akan menjawabnya. Biarlah keheningan yang akan memberikan jawaban yang akurat. Biarlah kesyahduan yang akan mengafdolkan jawabannya.
~&&&~

0 komentar: