Jumat, 08 Agustus 2008

Balai Berkuak, Rabu, 23 April 2008

Sering kali dalam tulisan saya, saya menyebut teman saya itu dengan sebutan gadis menara Peking. Alasannya, tubuhnya terlalu kecil dan menjulang langit. Berbentuk tiang bendera yang menjolok angkasa. Keadaan tubuhnya mirip sekali dengan menara Peking.
Gadis menara Peking memiliki seorang teman yang barusan datang dari pulau seberang. Bertubuh sedang dan saya menyebutnya gadis melon. Alasannya, pemikirannya yang masih menghijau seperti melon. Kelembutan bicaranya seperti isi buah melon. Kondisi tubuhnya yang sedikit bundar bukan tinggi menjolok langit mirip dengan buah melon.
Mereka singgah di warung pemakanan diri. Memesan sebungkus gado-gado. Di situ duduk manis penyair, yang lagi asyik makan gado-gado. Penyair asyik dengan makanannya. Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam keasyikan makan gado-gado. Pandangan mata penyair terusik. Sekilas penyair memperhatikan mereka. Penyair memandang ke arah mereka untuk melihat mereka lebih jelas. Penyair menyapa dengan kelembutan kepada gadis menara Peking. Basa-basi untuk mengajak makan gado-gado.
”Silakan saja,” sahut gadis menara Peking.
Gadis melon hanya tersenyum. Sejenak dia berpikir. Dalam keasyikannya berpikir, datanglah koceng menghebohkan suasana. Memudarkan lamunannya. Membawanya pada sebuah keceriaan.
Seketika gadis melon menyanyikan lagu jatuh cinta. Pada bait jatuh cinta lagi. Lagi-lagi kujatuh cinta. Diulang gadis melon sampai tiga kali.
Kekritisan otak penyair bekerja ketika mengamati psikisnya.
Benarkah gadis melon sedang mengalami jatuh cinta?
Jatuh cinta kepada siapa?
Apakah dia jatuh cinta kepada makanan gado-gado yang sebentar lagi akan dimakannya? Apakah dia jatuh cinta kepada khayalan indahnya yang tadi sempat diputuskan oleh koceng? Apakah dia jatuh cinta kepada jalan yang masih menyisakan butir-butir hujan?
Apakah jatuh cintanya ini adalah jatuh cinta pada pandangan pertama? Apakah jatuh cintanya ini adalah jatuh cinta pada lelaki kedua dan seterusnya? Apakah jatuh cintanya ini adalah jatuh cinta pada kepedulian rasa hatinya yang mendalam teringat pada kekasih lamanya atau kekasih barunya?
Apakah yang memerlukan kalimat jawaban ini, hanya terdapat dalam hati gadis melon. Akan terungkap oleh perputaran waktu.
”Banggalah sebagai pencinta dan agungkanlah cinta sebagai ungkapan hati yang mencinta,” kata waktu.
~&&&~

0 komentar: