Jumat, 08 Agustus 2008

Balai Berkuak, Sabtu, 5 April 2008

Percikan kesalahpahaman meledak. Menimbulkan percikan bunga api. Mengenai ketiga orang yang sudah saling kenal dan bertetangga. Sehingga terjadi adu tegang dan otot. Hampir-hampir lelaki itu, suaminya ibu wanita kesatu melampiaskan emosinya kepada teman si penyair. Untung saja saat melakukan pemukulan yang dilakukan suami wanita kesatu kepada teman si penyair, dia dihalangi oleh istrinya. Sehingga pukulannya tidak mengenai teman si penyair.
Kesalahpahaman itu meledak disebabkan oleh seorang wanita dari seberang lautan. Tepatnya daerah itu adalah tanah Jawa. Wanita itu melancarkan terornya kepada ketiga orang tersebut agar bersitegang. Sehingga percikan percekcokan itu sempat menggegerkan tetangga sebelahnya.
Penyair yang asyik menikmati percikan butiran air, harus diberhentikan. Diminta oleh seseorang untuk mengantisipasi percikan kesalahpahaman itu menjadi melebar dan menimbulkan perang bom atom segitiga. Lebih dahsyat dan lebih menghebohkan. Tergesa-gesa sekali penyair mengenakan celana dan memakai handuk. Langsung saja penyair menuju ke arah kesalahpahaman itu sedang beraksi. Di sana penyair hanya dapat memberikan nasihat saja.
”Picik sekali kalau kita bertengkar sesama kita yang sudah saling mengenal di sini. Apalagi kitakan bertetangga. Sedangkan masalah yang membuat pertengkaran ini berasal dari orang yang tidak ada di sini. Kita yang rugi. Mungkin saja di sana orang itu akan tertawa. Melihat kita menjadi berantem. Cobalah dalam menyelesaikan masalah ini kita jangan emosian begini, tetapi dengan cara kepala dingin dan dimusyawarahkan dulu.”
”Sebenarnya, saya tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi dia yang menuduh kami bersekongkol dengan wanita itu. Itu yang tidak kami terima. Padahal kami tidak pernah melakukan perbuatan itu,” jawab suami ibu wanita kesatu.
”Ya... Ya... Saya tahu itu. Tapi, diakan tidak melakukan hal itu. Seharusnya hal itu dikonformasikan dulu dengan dia. Benarkah dia melakukannya atau tidak? Nyatanya diakan tidak melakukan. Sekarang kita tahu bahwa dia tidak bersalah tetapi yang bersalah adalah ibu yang di seberang lautan itu, yang telah mengadu domba kalian, melakukan silat lidah kata. Utuk itu, urusan ini tidak perlu diributkan lagi. Malu sekali didengar oleh tetangga. Lebih baik kita berdamai saja. Tidak baik kita berkelahi hanya karena orang yang tidak kelihatan. Orang yang ada di tanah Jawa.”
Suami ibu itu mulai memahami apa yang saya sampaikan.
Akhirnya dia pergi meninggalkan saya dan teman saya tanpa permisi. Selanjutnya istrinya menyusul, mengikuti langkah suaminya. Kami dapat berlega hati.
~&&&~

0 komentar: