Senin, 01 September 2008

Balai Berkuak, Jumat, 2 Mei 2008

Sudah lama imaji ini beku. Tidak berinteraksi denganmu. Bercerita kepadamu. Seakan-akan aku telah melupakanmu. Padahal tidak. Kesibukan yang membuatku sejenak melupakanmu. Maafkanlah aku. Aku tak bermaksud mencuekkanmu. Tidak. Hanya saja kesibukan itu telah menguras waktu santai pikiran dan badanku. Sehingga begitu lelahnya untuk melakukan interaksi denganmu. Bercerita, curhatan, ngobrol, dan lain sebagainya.

Saat sinar belum menerang di waktu luang ini, aku sempatkan untuk melakukan interaksi denganmu. Walau flu ringan sesekali mengganggu aktivitasku, aku tak peduli. Aku tetap akan berinteraksi denganmu.

Ry, aku ingin menceritakan suatu hal padamu. Aku yakin kamu pasti suka mendengarkannya. Ceritanya kudapatkan ketika imaji kesunyian menggerogoti kepalaku. Cerita itu datang dengan kebanggaan padaku. Ceritanya begini.

Seorang pangeran mencari seorang putri di sebuah dimensi yang jauh dari tempat tinggalnya. Dalam pengelanaannya. Pangeran itu menemukan seorang wanita yang sederhana tetapi kecantikan dan kebaikannya melebihi putri di lingkungan kerajaan. Pangeran merasa tertarik padanya. Pangeran itu mendekati wanita itu. Terjadilah perkenalan singkat. Pangeran itu memanggil wanita itu dengan sebutan putri. Wanita itu tidak marah dipanggil begitu, malahan dia senang dan bahagia.

Mereka mulai menumbuhkan benih-benih kasih sayang. Mekar. Indah dan mewangi. Menyebarkan keharumannya ke semua dimensi yang lain, yang ada di alam mayapada ini. Semua penghuni dimensi terpana. Karena baru kali inilah mereka mencium bau keharuman yang sungguh alami. Mereka tertarik untuk mengetahui darimana sumber keharuman itu berada. Mereka segera melakukan perjalanannya menuju sumber keharuman itu dengan mengikuti perasaan di hati dan radarnya adalah hidung kearifan dan bijak.

Bertahun-tahun melakukan perjalanan. Akhirnya mereka menemukan sumber keharuman itu berada. Mereka terkejut sangat. Melihat keharuman itu bersumber dari musuh bebuyutan mereka.

”Pangeran Pentagon.”

Pangeran Pentagon juga kaget luar biasa. Karena musuh bebuyutan kerajaannya datang semua. Yang lebih kaget adalah putri. Putri Septi. Karena dia tidak tahu bahwa yang dikasihinya selama ini adalah seorang pangeran. Seseorang yang terhormat dalam lingkungan kerajaan. Seseorang yang akan menggantikan posisi ayahnya kalau sudah meninggal. Putri Septi jadi minder. Dia sadar betapa rendah derajatnya dengan derajat pangeran itu. Bagaikan bumi dan langit.

”Abang Pentagon bohong. Katanya abang adalah musafir, tetapi ternyata abang adalah seorang pangeran. Kalau kutahu abang bohong, tak sudi aku memberikan kasih ini pada abang. Karena terus terang bang, aku tidak suka dengan kebohongan. Abang sudah ketahuan berbohong, maka detik ini perhubungan kasih kita cukup sampai di sini saja.”

”Tapi Putri Septi. Jangan mengambil keputusan seperti itu. Kebohongan ini aku lakukan, karena dilandasai oleh kasihku kepadamu. Kalau awalnya aku berbuat jujur, mungkin kamu tidak akan menerimanya. Kamu pasti membandingkan derajat seorang pangeran dengan seorang rakyat jelata. Sungguh jauh perbedaannya. Padahal aku tidak memandang perbedaan itu. Aku memandang semua perbedaan itu adalah sama. Begitu juga dalam mengasihi, aku tidak membedakannya. Baik dia rakyat jelata dan orang kerajaan, semuanya sama. Bertahun-tahun aku mengelana untuk menemukan wanita yang menjadi labuhan kasihku tetapi belum juga aku temukan. Baru dengan kamulah aku cocok. Aku mulai yakin bahwa kamu adalah jodohku. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Selamanya aku ingin bersamamu. Maafkanlah kebohonganku itu.”

”Kebohongan abang tidak bisa kumaafkan. Karena dalam sumpahku telah terucap bahwa aku tidak ingin mempunyai seorang kekasih pembohong walaupun sedikit. Maaf Bang Pentagon, aku harus pergi meninggalkan abang. Walau sebenarnya aku mengasihi abang. Tidak selama rasa kasih dan sayang untuk memiliki. Ini semua kulakukan. Karena aku lebih suka memilih kejujuran daripada menerima abang yang seorang pembohong.”

Selesai ucapannya. Putri Septi melesat ke sebuah dimensi biru. Untuk mengubur dirinya dan menantikan seseorang kekasih yang benar-benar jujur kepadanya. Jujur dalam perkataan maupun perbuatan.

0 komentar: