Senin, 01 September 2008

Perjalanan (Pontianak), 21 Mei 2008

Tak ada masa yang mencatat secara detail tentang sejarah seorang gadis berkacamata jengkol yang memungut hati-hatinya yang berserakan di jalanan. Saat itu jalanan sedang ramai-ramainya mengadakan karnaval tahunan. Segala budaya dan kesenian ditampilkan kepada pemakai jalanan yang lewat. Sehingga situasi jalanan menjadi macet. Itu sudah biasa. Aku juga salah satu orang terjebak dalam kemacetan itu.

Dalam kemacetan itu, aku menemukan gadis berkacamata jengkol yang berwarna biru laut yang sungguh tegar mengambil serpihan hati-hatinya yang berserakan di jalanan. Hatiku terenyuh melihatnya. Bisa dikatakan. Aku terpana memandangnya. Bukan terpana karena kecantikannya. Lebih tepat, aku terpana dengan ketegarannya mengambil serpihan hatinya yang sudah hancur lebur digilas sepeda motor, mobil, angkutan karnaval tahunan, dan lain sebagainya.

Aku tidak termasuk dalam kategori orang yang menggilas hatinya. Karena ketika aku ingin melindas hatinya aku menghentikan sepeda motor jiwaku secara mendadak sehingga aku tidak menabrak hatinya.

Aku hanya terhuyung maju dan terjerembap mencium aspal, akibat pemberhentian sepeda motor jiwaku secara mendadak itu. Badanku lecet. Bukannya mau menolongku yang menahan keperihan ini. Orang di belakang memakiku.

”Kalau berhenti jangan mendadak begitu. Lihat sepeda motorku bonyok. Ganti kerusakan sepeda motorku.”

”Maaf, Pak!”

~&&&~

0 komentar: