Minggu, 19 Oktober 2008

Cisarua (Bogor), 28 Juli 2008

Suatu anugerah terbesar yang diberikan Allah padaku.
Dalam acara Mastera: Cerpen, saya dapat bertemu dengan cerpenis kawakan yang sudah terkenal di Indonesia, seperti Budi Darma, Joni Ariadinata, Oka Rusmini, dan orang yang selalu kuidolakan Helvy Tiana Rosa. Serasa mimpi saja. Tetapi mimpiku ini jadi kenyataan. Sungguh luar biasa.
Dalam Mastera Cerpen ini, kami utusan dari Indonesia diambil dari provinsi yang berbeda. Beragam warna yang berbeda, tetapi tetap satu membawakan harumnya negara kami, yaitu Indonesia.
Dari Jakarta Wa Ode Wulan Ratna, dari Bandung Ferina Meliasari atau Fina Sato, dari Surabaya Imam Muhtarom, dari Aceh Alimuddin, dari Padang Ragdy F. Daye, dari NTB Nadhira Khalid, dari Bali Putu Budi Eka Yani, dari Makassar Anis Kurniawan Al-Asyari, dari Palembang Muhammad Anton Bae, dan dari Pontianak saya sendiri.
Selain Indonesia, ada juga penulis cerpen dari Brunei Darussalam, seperti Awang Mohammad Md. Zaim Ridhwan bin Haji Ahad, Awang Mohammad Hairul Azmi bin Haji Bidin, Dayang Fatimh binti Haji Othman, Dayang Ena Herni binti Wasli dengan pembimbingnya Awang Mohammad Jefri Ariff bin Md. Zain Ariff.
Dari Malaysia, yaitu Nazmi Yaakob, Noraini Othman, Hj. Azman Ahmad, Tung Wai Chee dengan pengasuhnya Hj. Mohammad Ghazali Abdul Rashid.
Dari Singapore, yaitu Ishak Latiff dan Roslie Buang Sidik dengan pembimbingnya Yazid Husein.
Mereka datang dalam Mastera: Cerpen ini untuk berbagi pengalaman dalam menghasilkan cerpen yang terbaik untuk ke depan. Terutama lingkup Asia Tenggara.
Dari penulis cerpen yang datang dari luar Indonesia, hanya ada satu orang yang kukenal, dia mengasuh laman cerpen di e-sastera.com, yaitu Roslie Sidik. Kami berkenalan dan ngobrol. Orangnya enak diajak ngobrol.
“Saya sudah baca karyamu. Kamu sudah memiliki bakat menulis cerpen, tetapi tinggal menemukan format yang tepat agar cerpenmu menjadi lebih baik,” kata Roslie Sidik.
“Ya Awang Roslie, untuk itulah aku akan terus belajar dan belajar sampai menemukan format terbaik itu,” jawabku.
Awang Roslie Sidik tersenyum segar seakan menunjukkan bahwa dia memberikan spirit penuh kepadaku untuk menulis cerpen yang baik ke depan. Menciptakan cerpen terbaik dan memiliki kekhasan.
Sekali lagi kukatakan ini adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah padaku bahwa aku dipertemukan dengan cerpenis-cerpenis berbakat yang datang dari Indonesia, Malaysia, Singapore, dan Brunei Darussalam.
Di pertemuan ini, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar menciptakan cerpen terbaik dari mereka yang sudah terlatih menciptakan cerpen. Sedangkan aku sendiri, aku sadari bahwa aku penulis cerpen yang masih tertatih-tatih dalam menciptakan cerpen. Istilahnya belang-belang kambing. Syukurlah kalian dapat mengerti arti tersebut. Berarti tak perlu kujelaskan lagi.
Untuk rasa kebahagiaan yang kurasakan ini maka aku mengucapkan syukur kepada-Allah dengan segenap jiwaku.
~&&&~

0 komentar: