Minggu, 19 Oktober 2008

Selasa, 29 Juli 2008

Subuh yang menerawang. Hawa kesejukan yang mendera tubuh. Hawa kesejukan yang dihembuskan oleh udara perbukitan yang terlihat jelas dari balik kaca kamarku. Aku bangun. Aku melakukan senam ringan untuk menghalau hawa dingin yang menusuk tubuh. Kehangatan menjalar. Kedinginan mulai sedikit berkurang kurasakan. Aku beranjak ke kamar mandi untuk mandi.
Sebelum ke kamar mandi, masih kulihat sekilas Anton yang tertidur dengan pulasnya dalam puntalan selimut tebal, seperti kucing yang meringkuk kedinginan.
Aku menjalankan kran air panas. Di bawah kran air panas ada ember hitam sebagai penampung. Air pun mengalir dari kran ke ember hitam. Setelah air memenuhi setengah ember hitam itu maka kran air panas kumatikan. Kemudian aku menambahkan air dingin yang ada dalam bak mandi ke dalam ember hitam yang sudah berisi air panas. Sehingga air dalam ember hitam menjadi hangat. Aku mulai mandi dengan senangnya. Selesai mandi aku berpakaian rapi.
Aku keluar kamar.
Saat di depan pintu kamar, aku dihadang hawa dingin yang menusuk tubuh. Aku tak memedulikannya. Aku terus menuju teras di depan kamar.
Di teras depan kamar, aku menghirup udara pagi yang segar. Aku menikmati pagi di Kota Bogor yang terkenal dengan dinginnya. Sesekali mataku berkeliaran menyaksikan burung layang-layang terbang indah dengan sayap keriangannya. Dua pemuda tukang cuci mobil membersihkan mobil dengan rajinnya. Dua ekor kucing bercanda dengan riangnya. Air juga meriak dengan senandung senangnya menuju tempat perhentiannya. Pepohonan pinus yang menjulang tinggi tafakur dalam kesyahduan zikirnya. Angin sepoi-sepoi berhembus girangnya membelai pagi. Semakin membuat pagi bertambah indah dan asri. Seorang dara manis keluar dari rumah di depan wisma. Dara manis itu menaburkan makanan ikan ke kolam pemeliharaan ikan yang berada di depan rumahnya. Aku semakin asyik menikmati pagi.
Aku melihat teman-teman telah berkemas-kemas dan rapi. Perlengkapan dan peralatan yang akan mereka bawa ke Wisma Argamulya sudah siap sedia. Semuanya sudah dimasukan dalam mobil panitia. Teman-teman sudah berada di dekat mobil panitia. Teman-teman meneriakiku yang masih berada di atas.
”Saifun, turun cepat dan bawa perlengkapanmu. Kita segera ke Wisma Argamulya pagi ini.”
Aku melihat jam di arloji tanganku. Rupanya jam enam lewat empat puluh lima menit, pagi hari.
”Tunggu sebentar. Aku lagi menunggu Anton,” sahutku.
”Jangan terlalu setia kawan begitu. Cepatlah turun. Masak kamu yang bangun awal, harus terakhir masuk mobil panitia,” sela Bu Guru Putu Eka.
”Ya. Aku tahu. Tenang,” kataku berlalu masuk kamar kembali. Mengambil perlengkapan yang sudah kupersiapkan sejak subuh sebelum teman-teman bangun.
Waktu aku masuk kamar, Anton sedang mandi.
”Ton, cepat sedikit mandinya. Kita sudah ditunggu teman-teman. Aku menunggumu di luar kamar,” kataku.
”Ya, kak,” sahut Anton dari kamar mandi.
Aku membawa tas laptop dan tas tangkingku ke luar kamar. Aku menunggu Anton di depan pintu kamar. Tak lama menunggu, Anton selesai mandi dan berkemas-kemas. Lalu Anton mengunci pintu kamar. Aku dan Anton menuruni anak tangga dari samping kiri masuk menuju mobil panitia. Tas tangking, laptopku dan perlengkapan Anton disimpan di belakang mobil panitia.
”Kalian lama betul, kalah dengan wanita-wanitanya,” kata Bu Guru Putu Eka.
Aku tak menyahut. Hanya Anton yang menyahut perkataan itu dengan kata yang pendek.
”Biasalah.”
Mobil panitia segera meluncur ke Wisma Argamulya. Membawa kami ke tempat penginapan sebenarnya. Sesuai undangan yang diberikan kepada kami sebagai peserta mastera cerpen 2008.
~oOo~

Aku sekamar lagi dengan Anton di Wisma Argamulya. Menghuni kamar nomor B1 10. Kami memang padanan serasi. Tak pernah berpisah kamar.
Di kamar ini. Aku melepaskan penat. Sebentar.
Kemudian aku bersama Anton menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Di sana sudah ramai berkumpul peserta-peserta mastera cerpen maupun pembimbing. Aku mengambil teh panas dengan ditambah sedikit gula, tak terlalu manis. Tak lupa aku mengambil sepiring nasi goreng dengan lauk pauk yang kunilai cukup untuk mengisi perut. Aku sarapan semeja dengan Anton dan Anis. Meja makan kami dekat televisi sehingga kami bisa menonton acara televisi dengan jelas. Di belakang kiri dan kanan kami para teman-teman yang lain dan pembimbing mastera cerpen 2008. Makan kami begitu tertib walau disertai dengan obrolan ringan.
Selesai makan. Semua peserta mastera cerpen mengambil perlengkapan yang disediakan panitia untuk mengikuti kegiatan mastera cerpen. Perlengkapan itu adalah sebuah tas hitam, sehelai baju yang berlogo pusat bahasa di bagian kiri dan logo mastera di bagian kanan dengan tulisan Program Penulisan Mastera Cerpen: Bogor, 28 Juli – 2 Agustus 2008, jadwal acara kegiatan yang akan dilakukan, dua buku tulis, sebuah pulpen, dan buku kumpulan cerpen peserta mastera cerpen yang belum dipublikasikan. Kumpulan cerpen para peserta akan dibahas dalam diskusi bersama pembimbing.
Sebelum acara diskusi panel situasi penulisan dan perkembangan cerpen di negara anggota mastera, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dimulai.
Panitia terlebih dahulu mengumumkan pengelompokkan masing-masing peserta mastera cerpen yang dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok Pak Sako, Shawal Rajab, dan Kuntowijoyo. Kelompok Pak Sako terdiri dari Imam Muhtarom, Ferina Meliasari, Ragdi F. Daye, Nazmi Yaakob, Ishak Latiff, dan awang Moh. Hairul Azmi bin Haji Bidin. Kelompok Syawal Rajab terdiri dari Wa Ode Wulan Ratna, Alimuddin, Anis Kurniawan Al-Asyari, Putu Budi Eka Yani, Noraini Othman, Hj. Azman Ahmad, Awang Mohd. Md. Zaim Ridhwan bin Haji Ahad. Kelompok Kuntowijoyo terdiri dari Nadhira Khalid, Saifun Salakim, Muhammad Anton, Tung Wai Chee, Dayang Fatimah binti Haji Othman, Dayang Ena Herni binti Wasli, dan Roslie Buang Sidik.
Pembimbing juga dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok I, kelompok II, dan kelompok III. Kelompok I terdiri dari Prof. Dr. Budi Darma, Dra. Helvy Tiana Rosa, M.Hum, dan Awang Moh. Zefri Ariff bin Md. Zain Ariff. Kelompok II terdiri dari Joni Ariadinata dan Hj. Mohammad Ghazali Abdul Rashid. Kelompok III terdiri dari Oka Rusmini dan Yazid Hussein.
Acara tersebut diadakan di ruang pertemuan yang berbentuk persegi panjang. Kursi yang digunakan untuk duduk peserta dan pembimbing disusun saling berhadapan, seperti ruang diskusi. Para pembimbing dari semua negara duduk di depan dan peserta masteranya duduk di samping kanan, kiri, dan belakang, dengan saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya. Di belakang pembimbing terdapat white board panjang.
Acara diskusi panel itu dimulai pukul delapan pagi dipandu oleh Bunda Helvy. Di samping Bunda Helvy duduk Pak Budi Darma yang selalu berpakaian rapi, Hj. Mohammad Ghazali Abdul Rashid yang berjas kecoklatan, Awang Moh Jefri Ariff juga berjas kecoklatan, dan Yazid Hussein yang duduk dekat Norlila, sang istri tercinta, sedangkan Joni Ariadinata duduk dekat Imam Muhtarom. Oka Rusmini dekat Fina Sato. Aku duduk dekat Oka Rusmini.
Bunda Helvy memberikan kesempatan kepada ketua rombongan negara Singapura untuk memaparkan perkembangan cerpen di negaranya. Yazid Hussein sebagai pemimpin rombongan segera tampil ke depan dan memaparkan penulisan dan perkembangan cerpen di negara Singapura. Kemudian dilanjutkan dari negara Malaysia yang disampaikan oleh Hj. Mohammad Ghazali Abdul Rashid. Negara Indonesia oleh Joni Ariadinata. Yang terakhir negara Brunei Darussalam oleh Awang Moh. Jefri Ariff. Selesai pemaparan penulisan dan perkembangan cerpen masing-masing negara peserta mastera, acara dilanjutkan dengan diskusi seputar materi penulisan dan perkembangan cerpen sampai jam menunjukkan pukul sepuluh.
Pukul sepuluh. Semua pembimbing dan peserta mastera istirahat. Semuanya menuju ke ruang makan-minum. Masing-masing minum dan mengudap kue yang telah disediakan oleh panitia.

0 komentar: