Minggu, 19 Oktober 2008

Senin, 28 Juli 2008

Kami menuruni anak tangga. Di bawah duduk dua orang wanita sedang menonton televisi. Kami terus melewati mereka untuk mencari warung. Tentu untuk pengisi perut yang keroncongan semalam. Salah satu wanita itu menegur kami, tapi kurang jelas. Hingga kami bertiga hanya kebingungan. Sudahlah. Kami tak memedulikan dan mau ambil tahu apa yang diucapkannya. Kami terus melangkah keluar wisma untuk mencari warung.
Di simpang kanan wisma ada warung tegal. Di sanalah langkah kami berhenti. Kami memesan mie ayam. Pelayan warteg segera membuatkan mie ayam. Sambil menunggu pesanan, kami ngobrol. Tak selang lama pesanan mie ayam datang dan segera dihidangkan. Kami mulai menikmati mie ayam. Nikmatnya. Setelah itu, Anis membayar pesanan mie ayam. Anis menraktir kami. Kami kembali lagi ke wisma untuk bersiap-siap mengikuti seminar. Saat naik ke lantai atas, kami disapa oleh salah satu wanita itu.
”Kalian mencari sarapan ya tadi? Kalian peserta masterakan?”
”Ya,” jawab kami.
”Kami sebenarnya juga mau mencari sarapan tadinya. Tapi, pas kami mau mencari sarapan, panitia bilang pada kami bahwa sarapan pagi untuk peserta mastera sudah disiapkan. Jadi kami tak jadi sarapan keluar.”
”Oh, begitu. Ya, makasih atas pemberitahuannya.”
”Tadi, sebenarnya kami ingin memberitahukan kalian bahwa sarapan paginya sudah disediakan panitia. Tapi kalian tidak mendengarkannya,” kata wanita berkerudung coklat dan berpakain coklat.
”Maaf ya, suara kalian memanggil kami tak jelas. Jadi kami tak bisa mengetahui apa maksudnya dan terus berlalu saja,” jawabku.
”Oh, begitu. Ya, sudahlah.”
”Kalau begitu kita kenalan. Aku adalah Fina dari Bandung, dan di sebelahku adalah Ibu Nadhira,” sela wanita yang postur tubuhnya sedikit pendek dan kecil dari wanita yang berkerudung coklat dan berpakaian coklat yang duduk di sampingnya.
Karena aku yang dekat duduk dengannya. Akulah yang pertama mengenalkan namaku dan menjabat tangannya.
“Aku Saifun, dari Pontianak. Tepatnya Kabupaten Ketapang.”
”Anton dari Palembang,” kata Anton mengikuti dan menjabat tangan Fina.
Tak lupa Anis juga mengenalkan namanya dan menjabat tangan persahabatan itu.
”Anis dari Makassar.”
Perkenalan itu mengakrabkan persahabatan kami sesama peserta mastera cerpen 2008.
~oOo~

Aku, Anton, dan Anis memasuki ruang seminar untuk mengikuti seminar dan sekaligus pembukaan resmi program penulisan mastera cerpen 2008 yang akan dibuka Kepala Pusat Bahasa, Jakarta, yaitu Dr. Dendy Sugono.
Di ruang seminar sudah ramai berkumpul orang-orang dari semua lapisan pendidikan, seperti mahasiswa, guru, dosen, pengamat sastra, sastrawan, peserta mastera cerpen, dan umum.
Aku, Anis, dan Anton mengambil kartu pengenal dan perlengkapan seminar. Kemudian kami menuju kursi yang telah disediakan oleh panitia untuk para peserta. Aku duduk dekat di samping kanannya Anis dan Anton. Di Belakangku adalah ibu-ibu guru.
Acara segera dimulai oleh pembawa acara. Diteruskan dengan kata sambutan. Pertama, dari ketua pelaksana oleh Dr. Mu’jizah.
Setelah kata sambutan dari Ketua Pelaksana Mastera: Cerpen 2008 acara diselingi dengan musikalisasi puisi yang dibawakan Teater Kapas, Jakarta yang sempat memukau peserta. Peserta seminar juga memberikan tepukan meriah untuk keberhasilan mereka dalam membawakan musikalisasi puisi.
Kemudian acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ketua rombongan dari Malaysia oleh Wan Azizah. Ketua rombongan dari Brunei Darussalam Awang Mohammad Jefrri Ariff bin Md. Zain Ariff. Ketua rombongan dari Singapura adalah Yazid Hussein.
Setelah itu, raja penyair Indonesia (Sutardji Calzoum Bakrie) membacakan puisi panjangnya dengan gaya khasnya yang isi puisinya berisi kritikan tentang masalah sosial yang terjadi di Indonesia. Lalu acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Kepala Pusat Bahasa, Jakarta oleh Dr. Dendy Sugono.
Dalam kata sambutannya, Kepala Pusat Bahasa, Jakarta sebagai Ketua Mastera. Beliau mengucapkan terima kasih atas kedatangan ketua rombongan dan peserta mastera dari negara mastera selain Indonesia, seperti Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura serta para peserta Seminar Pengajaran Sastra Indonesia/Melayu di Sekolah. Beliau juga menekankan bahwa program penulisan mastera cerpen 2008 diadakan untuk mempersiapkan generasi pelapis atau sastrawan muda agar mempunyai bekal dan pengalaman yang banyak, yang akan didapatnya dalam kegiatan mastera: cerpen ini baik dari sesama peserta dan pembimbing senior, yang merupakan orang-orang hebat dalam bidang kepenulisan cerpen. Generasi pelapis/sastrawan muda itu diharapkan nantinya dapat menggantikan posisi sastrawan tua yang sudah lelah dan tidak mampu berproduktif lagi, karena dimakan usia tua. Selain itu, Beliau sekaligus membuka program penulisan mastera cerpen 2008 secara resmi.
Tepuk tangan hadirin riuh. Menyambut hangat pembukaan tersebut.
Acara dilanjutkan dengan Seminar Asean Pengajaran Sastra Indonesia/Melayu di Sekolah oleh Dr. Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa, Jakarta, Indonesia) dengan judul papernya “Pembinaan Generasi Pelapis Melalui Pembelajaran Sastra” yang isinya mempersiapkan generasi pelapis atau generasi muda sebagai pengganti generasi tua yang telah uzur dan tidak produktif lagi berkarya agar generasi muda itu dapat mengharumkan negaranya, baik tingkat nasional maupun internasional.
Lalu Prof. Dr. Yus Rusyana (Indonesia) dengan judul “Pembelajaran Sastra dalam Perpektif Meningkatkan Apresiasi Siswa di Indonesia” yang isinya menciptakan pembelajaran sastra di sekolah oleh guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang dapat membangkitkan dan meningkatkan apresiasi siswa agar dapat menikmati, memahami, berekspresi, berkreasi, dan menghargai sastra dengan cara terpelajar.
Encik Malim Ghazali (Malaysia) dengan judul “Penilaian Semula Teks Sejarah sebagai Sumber Karya” yang isinya mengajak kepada kita untuk mengkaji ulang dan membetulkan penulisan teks sejarah kita yang ditulis penulis luar negara kita agar tidak terjadi pembohongan sejarah.
Dayang Faridah binti Abdul Hamid (Brunei Darussalam) dengan judul “Pengajaran Sastera Menjana Pemikiran Kritis” yang isinya memberikan alternatif metode pengajaran sastra yang relevan dengan kemajuan zaman, seperti pendekatan mengalami dan menghayati, Kaidah Kajian Soal, Membuat proyek, Kemahiran berpikir untuk menjadikan pembelajaran sastra lebih menarik dan tidak monoton, dan dapat menghindarkan perasaan jemu guru yang mengajar dan pelajar yang belajar.
Selesai Dayang Faridah menyampaikan makalahnya. Jam menunjukkan pukul 13.15. Para peserta seminar istirahat. Acaranya akan dilanjutkan pukul 14.00. Para peserta seminar segera menikmati kudapan dan makanan.
Aku dan Anis keluar mengambil jatah makanan. Di luar aku bertemu Ragdy F. Daye dari Padang bersama Imam Muhtarom dari Surabaya.
”Saifunkan?” sapa Ragdy padaku.
”Ya, kok tahu,” jawabku.
”Yalah. Karena aku melihat daftar peserta mastera: cerpen dari panitia.”
”Oh, begitu.”
”Aku Ragdy dari Padang dan itu Imam Muhtarom dari Surabaya.”
”Okelah. Kalau aku tak perlu mengenalkan nama lagi. Kamukan sudah tahu. Mari kita mengambil makanannya,” ajakku.
”Silakan saja kamu duluan,” jawab Ragdy.
Aku segera mengambil makanan dan makan dekat dengan Ali dan Anis. Sungguh nikmat makan kali ini. Selesai makan, aku dan Anis menuju kamar. Aku melihat Anton masih tidur. Aku tidak mau mengusiknya. Aku salat Zhuhur. Kemudian aku melemaskan otot-otot badan yang pegal dengan membaringkan tubuh di kasur empuk. Belum lama aku merehatkan badan. HP-ku berdering. Ada sms yang masuk. Sms dari panitia mastera: cerpen 2008 yang memberitahukan supaya aku dan peserta mastera: cerpen bersiap-siap untuk menuju Bogor pada pukul 15.00.
Aku menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke Cisarua, Bogor. Ternyata keberangkatan kami menuju Bogor sedikit molor dari jadwal yang ditentukan. Molor satu jam lima belas menit. Sehingga aku sempat salat asar.
Pukul 16.45, aku bersama teman-teman mastera: cerpen dari Indonesia berangkat ke Cisarua, Bogor dengan mobil yang sudah dipersiapkan panitia. Kami bercengkerama selama perjalanan. Sekali-kali aku melihat pemandangan yang sungguh menarik. Aku terkagum-kagum. Sungguh asri.
Mobil yang kami tumpangi sampai di Wisma Argamulya, Cisarua, Bogor menunjukkan pukul 17.30 menit. Kami segera keluar dari mobil. Panitia berbincang-bincang dengan penanggung jawab wisma. Rupanya wisma penuh untuk malam ini.
Untuk sementara waktu, kami diungsikan ke Wisma Jayakarta, tidak jauh dari Wisma Argamulya. Kami sedikit kecewa. Tapi kami menerima keputusan panitia.
Akhirnya kami masuk lagi ke mobil dan segera diangkut ke Wisma Jayakarta. Setibanya di sana arloji di tanganku menunjukkan pukul 17.40. Kami segera keluar dari dalam mobil. Kami menunggu beberapa menit. Menunggu tas kami yang diangkut dengan mobil yang lain oleh panitia. Sebentar saja mobil panitia yang membawa tas kami tiba. Kami mengambil tas kami masing-masing.
Sebelum kami menuju kamar peristirahatan, panitia berpesan. Pukul 07.00 kami disuruh bersiap-siap dibawa ke Wisma Argamulya untuk mengikuti acara pembukaan penulisan mastera: cerpen 2008. Kami semua mengiyakan.
Seterusnya kami menuju kamar peristirahatan. Aku berdua lagi dengan Anton.
Melepaskan penat sejenak. Anton mengajakku dan rekan-rekan mastera dari Indonesia mencari warung atau restoran yang bisa menyediakan makanan. Karena sebelum berangkat ke Cisarua, Bogor. Kami belum makan. Perut kami keroncongan minta diisi.
Aku, Anis, Anton, Fina, Wulan, Bu Nadhira, dan Bu Guru Putu Eka berjalan keluar Wisma Jayakarta untuk mencari makanan. Kami mengajak Imam, Ragdy, Ali untuk mengisi perut keroncongan. Tapi mereka bilang.
”Kami masih kenyang.”
”Okelah, kalau begitu. Kami cari makan dulu ya.”
“Silakan.”
~oOo~

Kami mengobrol sambil menunggu hidangan makanan disediakan pelayan.
Belum sempat mencicipi makanan yang dipesan pelayan. Bu Guru Putu Eka melihat arloji di tangannya telah menunjukkan batas waktu yang ditentukan panitia. Pukul 19.00. atau jam tujuh malam. Bu Guru Putu Eka memencet HP-nya mengebel panitia.
“Pak, maaf ya kami sedikit terlambat menghadiri pembukaannya. Karena kami menunggu makanan dulu. Perut kami lapar, Pak.”
”Tidak bisa. Kalian harus dijemput sekarang,” sahut suara panitia lewat Hp.
”Kok bisa begitu, Pak. Kasihan makanannya sudah dipesan. Mubazir. Beri kami kelonggaran waktu lima belas menit lagi untuk makan. Kami usahakan dalam waktu lima belas menit selesai. Bapak jemput kami lima belas menit lagi dari sekarang. Ya, Pak.”
Panitia mempertimbangkannya. Akhirnya panitia menyetujuinya.
”Baiklah. Kami jemput kalian lima belas menit lagi. Tapi sudah siap ya.”
”Beres, Pak! Terima kasih.” Bu Guru Putu Eka menutup pembicaraannya lewat HP dengan panitia.
“Beres teman-teman, kita diberi waktu lima belas menit untuk menikmati makanan ini.”
”Oke, Bu Guru Putu Eka,” kata kami ramai-ramai.
Kami segera menyantap makanan yang dihidangkan pelayan restoran. Makannya sangat lahap. Makannya begitu cepat. Dalam waktu sepuluh menit sudah selesai. Hanya Fina yang lamban makannya. Sehingga kami harus menunggu dia selesai makan. Fina menyudahi makannya. Bu Guru Putu Eka menuju kasir membayar pesanan. Bu Guru Putu Eka kembali menemui kami.
”Berapa bayaran semuanya, Putu?” tanya Bu Nadhira.
”Kurang dari seratus ribu rupiah,” jawab Bu Guru Putu Eka.
”Kalau begitu masing-masing kita harus nyetor dengan Bu Guru Putu Eka sebesar dua puluh ribu rupiah. Selebihnya untuk dia,” kata Bu Nadhira.
”Beres,” jawab kami semua.
Kami ingin mengeluarkan uang dari saku sebesar yang diminta Bu Nadhira. Tapi Bu Guru Putu Eka menyela.
”Sudahlah, tak perlu. Simpan saja uang kalian. Hari ini aku ikhlas menraktir kalian, karena kitakan sudah satu saudara. Saudara seperjuangan dari Indonesia.”
”Man di atas tap. Mantap deh,” celetukku.
”Bisa saja kamu, Fun.” Anis mencoel bahuku.
Aku hanya tersenyum.
Kami pun berlalu dari restoran itu untuk menuju mobil jemputan yang akan membawa kami ke Wisma Argamulya, Bogor untuk mengikuti acara pembukaan mastera cerpen 2008.
~oOo~

Jam delapan malam dimulailah acara pembukaan. Yang dibuka Bu Mujizah selaku Ketua Pelaksana Mastera: Cerpen 2008. Dalam kata sambutannya, beliau tak berpanjang lebar. Dia mengharapkan kegiatan Mastera: Cerpen 2008 dapat berjalan lancar sampai selesai.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan perkenalan peserta mastera cerpen yang dipimpin oleh Prof. Dr. Budi Darma dengan didampingi Dra. Helvy Tiana Rosa, M.Hum. Perkenalan itu dimulai berdasarkan abjad negara masing-masing peserta.
Yang mendapat urutan pertama adalah negara Brunei Darussalam. Ketua rombongan Brunei Darussalam Awang Mohammad Jeffri Ariff bin Md. Zain Ariff memulai memperkenalkan dirinya dilanjutkan dengan peserta dari Brunei, yaitu Munshi, Azmi, Dayang Fatimah yang berkerudung biru laut, dan Dayang Ena Erni bin Wasli yang berkerudung hijau.
Lalu Ketua Rombongan Malaysia, Encik Malim Ghazali PK memperkenalkan dirinya diikuti oleh pesertanya dimulai dari Nazmi, Azman, Tung Wai Chee, dan Norlila.
Kemudian Rombongan Indonesia yang dimulai dari Joni Ariadinata (Ketua Rombongan) dilanjutkan dengan Imam Muhtarom dari Surabaya, Ragdy F. Daye dari Padang, Alimuddin dari Aceh, Nadhira Khalid dari Nusa Tenggara Barat, Ferina Meliasari dari Bandung, Wa Ode Wulan Ratna dari Jakarta, Putu Budi Eka Yani dari Bali, Mohammad Anton Bae dari Palembang, lalu saya dari Pontianak tepatnya Kabupaten Ketapang, dan Anis Kurniawam Al-Asyari dari Makassar.
Selanjutnya dari negara Singapura. Dimulai dari Yazid Hussein (Ketua Rombongan) diikuti oleh Roslie Buang Sidik dan Ishak Latiff.
Dalam perkenalan itu, semua peserta memperkenalkan nama lengkap dan nama penanya serta tujuannya datang ke mastera cerpen.
Selesai memperkenalkan diri. Acara malam ini selesai. Semua peserta kembali ke tempatnya masing-masing. Kami peserta Indonesia diangkut lagi oleh mobil panitia kembali ke Wisma Jayakarta.
~oOo~

0 komentar: