Jumat, 22 Mei 2009

Hebohnya Kanibal

Belum lepas dalam ingatan kita mengenai kasus Sumanto yang menggemparkan tanah Jawa. Sumanto memamah daging manusia sebangsanya. Alasannya simpel saja, karena Sumanto adalah orang miskin. Cari sayuran susah, daging ayam juga mahal, hanya daging manusia yang murah dan gratis untuk disesah. Perbuatan Sumanto yang unik dan aneh itu menimbulkan keresahan berkepanjangan bagi masyarakat. Keresahan itu tak hanya dialami oleh orang tua tetapi juga anak-anak kecil yang semakin lasah. Sampai anak-anak itu melakukan perbuatan sedahan keparat. Anak-anak itu juga memaki ingus-ingus yang sudah jadi kulat. Kulat-kulat yang enak dimakan oleh manusia yang doyan martabak dan masuk dalam kategori manusia kualat.
Mereka suka mengerat-ngerat dagingnya sendiri. Suka memotong rambut-rambutnya menjadi cepak. Suka menggunakan baju setengah merata. Menampilkan perut yang memberojol keluar. Memamerkan pusat. Pusat yang dijualnya di pasar loak. Ditawar seribu rupiah dicampur odol. Dodol.
Lain lagi dengan Sumanti, di belahan bumi yang lain, juga menggegerkan dunia persada. Menyaingi rekor Sumanto. Sumanti memproklamirkan dirinya sebagai kanibal. Dengan melahap tubuh anak yang baru dilahirkan di dunia seperti kerupuk udang. Kruk... kruk....
Karena, dia sendiri yang membuat undang-undang. Undang-undang yang mengantarkan dia diundang di setiap pertemuan tingkat nasional maupun internasional. Membahas tentang bagaimana proses seseorang menjadi manusia kanibal. Dia menjawab santai.
”Jadilah Mak Lampir.”
Rupanya salah satu mahluk alam gaib dimunculkan lagi di sini untuk meramaikan suasana. Yang berciri-ciri berambut panjang melebihi batas bahu. Menggunakan suhu-suhu ampuh untuk menggaet perjaka ting-ting. Anting-anting yang sudah hilang dimakannya. Mengapa anting-anting bisa dimakannya? Tanya saja guru yang sudah dinonaktifkan. Guru pelajaran etika malam kelam, yang di sana ada bintang kecil. Bintang kecil yang menyanyi sambil berjingkat-jingkat sampai tubuhnya terbuka transparan. Manusia planet. Menyatakan dirinya adalah grupnya Jannet Jackson.
”Suka sekali Sumanti menjiplak popularitas orang. Dasar orang kurang kerjaan,” maki semut belang hari itu.
Sudah tahu kerjaan sekarang susah. Masih sempat dia membunyikan genderang tukang sapu lidi. Kemana-mana menuntut ilmu berjudi agar bisa mengalahkan vokalis Rendi Bragi, penulis hebat Chika Riki. Pokoknya yang mempunyai nama berakhiran gi- atau ri-. Siap-siap saja akan dimamahnya. Lalu dimakannya lahap sekali saat saluran kencingnya tak berfungsi lagi. Baru dia tahu diri. Mengurus penyakitnya itu ke dokter gigi. Memang manusia sinting. Bukan tambah sembuh malah tambah sakitnya mengering. Bukankah dokter gigi hanya tahu menambah dan mencabut gigi orang dari mahkota enamelnya. Sehingga gigi orang-orang terlihat ompong. Jadi om-om dong atau tante-tante kempong. Yang terpenting ada ongnya.
”Kalau ingin menjadi manusia kanibal berikutnya, mudah saja,” kata Sumanti bangganya. Melihatkan giginya yang berwarna kuning maya.
”Daftarkan dirimu ke teman saya yang berakhiran ti-. Bakalan kamu akan kami beri jurus pamungkas yang digunakan untuk membengkas soal-soal ujian yang tersimpan dalam brankas. Pakai gaya tangkas. Lalu menggunakan lompatan yang khas dan deras membuat hidup tak bisa diperas. Karena susu sapi banyak sudah diperas. Hanya menyisakan ranjin. Maaf salah, maksudnya rajin. Rajin mengoleksi pi-pi-pi. Dari pipi, lipi, terapi, supi, mimpi... pi... pi... pelakunya adalah jampi-jampi.”
Ending cerita ini. Jangan punya mimpi. Jangan punya jampi-jampi. Nanti banyak yang mendaftarkan diri untuk dikadali atau dibuayai. Buaya yang hidup satu senti dekat saluran ereksi (pembuangan). Kalau ingin lebih jelas mengenai ereksi tanya saja cleaning servis. Pokoknya beres, dan kamu pun akan diservisnya sampai bersih. Ditanggung tak kecewa.
Kalau tak manjur cara itu. Sudah. Borong saja bubur. Makan saja sendiri sampai tersembur-sembur. Maaf ada sesuatu yang akan kabur.... he...he...
Selamat menikmati mata kalian yang mengabur!
~&&&~

0 komentar: