Sabtu, 30 Mei 2009

K e m p u n a n *

Rumah itu sederhana: atap dan dindingnya dari daun nipah, hanya lantainya dari kayu meranti. Luasnya empat kali lima meter persegi. Ruangan dapur dan kamar tidur saling berdekatan. Di bagian kiri ruangan dapur dan kamar tidur terdapat ruang tengah, digunakan untuk bersantai keluarga. Ruangan tengahnya tak terlalu lebar. Rumah sederhana itu, dulunya dihuni oleh empat orang. Seorang suami dengan istrinya beserta dua orang anaknya. Sekarang, rumah itu hanya dihuni oleh dua orang saja. Seorang anak wanita yang berumur empat belas tahun dan seorang umaknya. Mereka tinggal berdua menghuni rumah itu sejak ditinggal meninggal apaknya dan kepergian abang anak perempuan itu yang tak tahu rimbanya.
Anak itu duduk santai di dekat tikar pucok. Umaknya juga duduk tak jauh duduk di dekatnya. Umaknya sedang menghisap rokok pucok yang diberi tembakau shag. Aroma asap rokok mengepul bermain-main di atas kepala mereka. Setelah itu asap rokok kabur melalui lelongop rumahnya yang sengaja terbuka. Sesekali tangan umaknya yang sudah terlatih menganyam tikar pucok baru yang terbuat dari daun pucok nipah muda yang sudah dikeringkan. Anak itu bertanya kepada umaknya.
”Mak, abang ke mana? Sudah berapa bulan ini tak ada di rumah?”
Umaknya hanya diam. Tak memberikan jawaban. Umaknya terus saja meneruskan menganyam tikar pucoknya.
Anaknya mengulangi pertanyaannya lagi.
”Mak, abang ke mana? Sudah berapa bulan ini tak ada di rumah?”
Umaknya tetap diam. Tak terpengaruh dengan apa yang ditanyakan anaknya.
Anaknya tambah penasaran.
”Mak, jawablah pertanyaan ini. Abang ke mana?”
Anaknya mendesak.
Umaknya segera menoleh mendengarkan desakan anaknya itu yang mengusik pekerjaannya menganyam tikar pucok. Umaknya memperhatikan anaknya. Wajah mendung terlihat sekali di wajah umaknya. Seakan umaknya menyimpan rahasia kepiluan tentang abang dari si anaknya yang bertanya tersebut. Karena itulah umaknya sulit untuk mengungkapkannya.
”Mak, tolong jawablah. Saya ingin tahu abang ke mana?”
Anaknya merengek. Meminta dengan berharap.
Umaknya tambah pilu. Sepatah kata tak terucap. Air mata keluar dari mata bening umaknya. Melihat umaknya menangis, anaknya timbul rasa kasihan. Akhirnya anaknya tak bertanya lagi. Anaknya tak ingin umaknya bersedih.
Belum saatnya anak bungsunya mengetahui perihal tentang abangnya. Nanti saja. Kalau anak bungsunya sudah dapat menerima kenyataan pahit itu, barulah umaknya akan memberitahukannya. Biarlah sementara ini anak bungsunya dipenuhi dengan pertanyaan tentang abangnya berada. Nanti setelah anak bungsunya berumur tujuh belas tahun, barulah dia akan memberitahukan perihal abangnya kepada anak bungsunya.
Karena menurut pandangan umaknya bahwa umur tujuh belas tahun merupakan umur di mana anak bungsunya akan mendapatkan kedewasaan berpikir. Dengan kedewasaan berpikir, anaknya akan memiliki ketahanan mental. Dengan ketahanan mental yang dimiliki anak bungsunya, anak bungsunya akan kuat dan tabah menerima kenyataan pahit yang akan diungkapkan umaknya mengenai abangnya.
Anaknya itu tak berhenti mencari jawaban keberadaan abangnya pada teman-teman abangnya atau tetangganya yang pernah melihat abangnya. Tetapi jawaban yang didapatkannya selalu beragam. Bermacam-macam.
”Abangmu pergi berlayar menggunakan perahu besar bersama teman-temannya mengarungi lautan luas. Lalu saya lihat dari kejauhan kapal abangmu sudah berada di tengah lautan. Setelah kapal abangmu berada di tengah lautan. Seketika angin bertiup dengan kencang. Langit mengombak hitam. Gelombang membesar menghantam kapal abangmu. Kapal abangmu miring ke kanan dan ke kiri. Oleng. Akhirnya kapal abangmu pecah. Jeritan kepiluan terdengar sayup-sayup yang dilayangkan oleh angin pada saya. Saya tak dapat berbuat apa-apa. Tak dapat memberikan pertolongan, karena gelombang begitu besar. Kalau saya paksakan untuk menolong penumpang kapal yang ditumpangi abangmu sama saja dengan bunuh diri. Saya hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari kejauhan saja. Dengan dalam hati saya berdoa semoga gelombang laut yang besar cepat mereda. Rupanya doa saya dikabulkan Tuhan. Seketika gelombang laut mulai mengecil dan mereda. Barulah setelah itu saya dapat berbuat. Melaporkan kejadian kapal abangmu yang tenggelam dan pecah itu ke regu penyelamat. Sekelompok regu penyelamat segera memberikan pertolongannya. Regu penyelamat hanya menemukan mayat teman-teman abangmu, tetapi mayat abangmu tak pernah ditemukan. Mereka menyimpulkan bahwa abangmu meninggal dunia dimakan ikan hiu.”
”Saya pernah melihat abangmu pergi berburu ke sebuah hutan. Abangmu terus menelusuri hutan itu sampai ke hutan yang tak pernah dimasuki orang. Karena hutan itu dikenal keangkerannya. Tapi abangmu begitu tupal. Abangmu terus memasuki hutan itu. Setelah memasuki hutan itu abangmu tak pernah kembali-kembali. Karena hutan yang dimasuki abangmu adalah hutan sibayan1. Mungkin saja abangmu meninggal dunia dimakan hantu penguasa hutan tersebut.”
”Saya melihat abangmu dibunuh hantu rumpun bambu ketika abangmu tak mengindahkan perkataan umakmu. Agar berpusak dengan ubi rebus dan air kopi yang telah dihidangkan. Nanti bisa kempunan. Tapi abangmu pergi begitu saja. Sehingga tak sempat memakan ubi rebus dan air kopi yang disediakan umakmu. Abangmu meninggal dunia karena kempunan.”
Semakin banyak versi cerita tentang kepergian abangnya. Kepergian abangnya selalu dikaitkan dengan kematian yang membuatnya pusing kepala. Karena cerita yang disampaikan orang-orang tentang abangnya tak ada kaitan antara satu dengan yang lainnya. Anak itu tak percaya bahwa abangnya sudah meninggal dunia. Apalagi abangnya meninggal dunia dimakan ikan hiu. Dimakan hantu penguasa hutan sibayan. Dimakan hantu rumpun bambu karena kempunan. Dia menepis semuanya. Bahwa apa dikatakan orang-orang tentang abangnya tak benar. Hati kecilnya mengatakan abangnya belum meninggal dunia. Abangnya masih hidup. Abangnya tak pernah kembali ke rumah karena ada masalah. Bisa saja masalah abangnya dengan umaknya atau tetangganya? Itulah yang ingin diketahuinya. Sumber akurat tentang ketidakhadiran abangnya di rumah adalah umaknya. Untuk itulah, anak itu akan terus menanyakan keberadaan abangnya pada umaknya. Agar umaknya dapat memberikan penjelasan yang akurat tentang abangnya. Sebab dia begitu menyayangi abangnya.
Dia teringat abangnya yang selalu mengasihi dan melindunginya. Pernah sekali dia diusili teman-temannya hingga menangis. Abangnya langsung memarahi anak yang membuatnya menangis. Anak itu merasa takut untuk mengusilinya lagi. Karena takut dimarahi abangnya. Selain itu, pernah sekali dia minta jambu monyet dengan abangnya. Dengan seketika abangnya memanjat jambu monyet milik tetangganya. Abangnya mengambilkan jambu monyet tersebut. Membuat dia menjadi senang. Abangnya selalu memenuhi keinginannya. Abangnya selalu menjaganya. Tetapi kini abangnya tak berada di sisinya. Dia merasa kesepian. Seakan ada separuh kehidupannya yang hilang. Untuk itulah, sampai kapanpun dia akan berusaha menemukan abangnya. Karena abangnya adalah orang yang paling baik di mata kehidupannya selain umaknya.
~oOo~

”Mak, kenapa saya tak boleh tahu tentang abang? Sebenarnya abang ke mana?” tanyanya.
Saat itu umaknya sedang menjahit pakaian robek dengan menggunakan jarum. Umaknya tak memedulikannya. Umaknya terus saja menjahit pakaian yang robek.
Dia semakin penasaran. Mengapa umaknya tak pernah menjawab pertanyaannya mengenai abangnya? Kalau pertanyaannya semakin mendalam tentang abangnya, umaknya akan meneteskan airmata? Sebenarnya apa yang telah terjadi pada abangnya? Apakah benar abangnya telah meninggal dunia seperti yang diceritakan teman-teman abangnya atau tetangga yang pernah melihat abangnya sebelum kejadian nahas itu menimpa abangnya? Benarkah abangnya meninggal dunia dimakan ikan hiu? Benarkah abangnya meninggal dunia dimakan hantu hutan sibayan? Benarkah abangnya meninggal dunia dimakan hantu rumpun bambu karena kempunan? Betulkah abangnya meninggal dunia karena kempunan? Betulkan kempunan akan membuat orang meninggal dunia? Jangan-jangan....
Dia teringat tentang kematian apaknya. Dia mendapat kabar dari teman-teman apaknya. Apaknya meninggal karena kempunan. Kempunan dengan sayur rebong nibong. Apaknya meninggal ditimpa pokok kayu yang telah ditebangnya. Kepala apaknya pecah. Mayat apaknya dibawa teman kerjanya dari bagan di sungai dungun ke rumah dengan menggunakan spit dua peka dan mayat apaknya diletakkan di sampan yang ditarik dengan spit dua peka. Mayat apaknya tiba di rumah sekitar pukul lima sore yang disambut dengan tangisan keluarganya. Seakan tangisan itu tak merelakan kepergian apaknya yang merupakan tulang punggung keluarga. Apaknya dimakamkan hari itu juga agar tak lama menggantung roh apaknya untuk menemui Tuhannya.
Apaknya meninggal karena kempunan. Betulkah abangnya juga meninggal dunia karena kempunan? Kalau benar begitu adanya, mengapa semua keluarganya harus meninggal karena kempunan? Betulkah kempunan merupakan kutukan turunan dari leluhurnya? Kalau benar, apa dosa yang telah dilakukan oleh leluhurnya dulu sehingga anak cucunya menanggung beban derita berat seperti ini. Meninggal karena kutukan kempunan. Kalau benar ini kutukan. Sampai kutukan berapa kematian kempunan itu akan berakhir? Sampai berapa keturunan? Apakah keluarganya adalah keturunan terakhir yang menerima kutukan itu atau sebaliknya. Atau kutukan kempunan tak akan berhenti untuk selama-lamanya.
Tidak. Saya harus memastikannya. Benarkah abang meninggal dunia karena kempunan. Bantahnya sendiri pada hatinya. Saya harus meminta penjelasan umak.
”Mak, benarkah abang meninggal dunia karena kempunan?”
Umaknya seketika menghentikan jahitannya. Umaknya kaget dengan pertanyaan anaknya. Umaknya memperhatikan anaknya dengan saksama.
”Kamu dapat darimana informasi itu?”
Umaknya balik bertanya.
”Teman-teman abang dan tetangga kita yang pernah melihat abang sebelum abang meninggal dunia. Benarkah Mak yang dikatakan mereka?”
Umaknya menghembuskan napasnya yang pendar, karena gejolak hatinya yang begitu lama menyimpan rahasia kematian tentang anak tertuanya. Kematian anak tertuanya karena kempunan. Apa yang dikatakan oleh teman-teman dan tetangganya, benar. Tapi, belum saatnya, umaknya memberitahukan kematian anak tertuanya kepada anak bungsunya.
”Belum saatnya kamu mengetahuinya, Nak. Nanti suatu saat umak akan memberitahukan padamu ketika kamu sudah dewasa dan siap menerima kenyataan tentang abangmu.”
”Kapan Mak, bukankah umur saya sudah dewasa.”
”Belum, Nak. Jikalau kamu sudah berumur tujuh belas tahun. Umak akan memberitahukan sebenarnya tentang kemana abangmu pergi dengan sejelas-jelasnya. Mengapa abangmu tak pernah ada di rumah bersama kita. Apakah abangmu sudah meninggal atau belum? Umak akan memberitahukan padamu pada pukul 17.00 atau jam lima sore. Jadi bersabarlah kamu menunggu umurmu sampai tujuh belas tahun.”
”Tapi lama sekali, Mak. Masih tiga tahun lagi. Mengapa tidak sekarang?”
”Bersabarlah, Nak. Waktu itu akan tiba. Mak, mau ke kamar dulu. Mak mau istirahat. Jahitan Mak yang belum selesai nanti Mak lanjutkan besok saja.”
Umaknya lalu meninggalkannya.
Dia tak dapat mencegah umaknya. Dia hanya bisa berpikir sejenak. Lama sekali dia harus menunggu kabar tentang abangnya sampai tiga tahun. Sebenarnya apa yang dirahasiakan umaknya tentang abangnya? Jangan-jangan abangnya telah meninggal dunia karena kempunan.
Ah, tak boleh saya berpikir seperti itu. Saya yakin abang masih hidup. Abangkan pernah berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi saya.
Bang, di mana kamu berada. Adik selalu merindukanmu. Kembalilah pada adik. Kita rajut lagi kebersamaan dan keceriaan kita seperti dulu.
Umurnya masih empat belas tahun. Lama sekali menunggu umurnya sampai tujuh belas tahun. Agar dia mendapatkan kejelasan berita tentang abangnya yang disayanginya. Tiga tahun penantiannya untuk mencapai umur tujuh belas tahun sungguh waktu lama dalam pergolakan perasaannya. Jikalau waktu tiga tahun bisa diputar sekejap itu. Maka ingin rasanya dia menggenapkan umurnya tujuh belas tahun dalam detik itu. Tetapi, waktu selalu berputar sesuai dengan aturan dari pembuat waktu. Waktu tak bisa dirubah dan terus berjalan sesuai kodratnya.
Dalam waktu penantian tiga tahun itu. Anak itu tak pernah menanyakan lagi kemana abangnya pergi kepada umaknya? Karena anak itu tak ingin membuat umaknya bersedih lagi. Anak itu yakin bahwa umaknya tak akan membohonginya. Saat umurnya tujuh belas tahun, umaknya akan memberitahukan padanya tentang abangnya sejelas-jelasnya tepat pukul tujuh belas. Pukul tujuh belas yang sama dengan jam lima sore. Anak itu mengerti bahwa umaknya adalah orang yang jujur dan tak pernah berbohong pada siapapun, termasuk dirinya. Apa yang selalu dikatakan umaknya tak pernah diingkarinya, selalu ditepati umaknya.
~oOo~

Cuaca tenang tak menampakkan mendung sore itu. Matahari sudah tak segarang tengah hari. Angin bertiup sejuk dan lembut menembus lubang-lubang angin rumah itu. Seorang anak bungsu sedang duduk berhadapan dengan umaknya di ruang tengah. Dia lagi menunggu sebuah kepastian mengenai kabar abangnya. Apakah sudah meninggal dunia atau belum? Umaknya menghisap rokok pucok tambah tembakau shag. Asapnya mengepul. Berputar-putar bulat seperti piring ufo yang kemudian menghilang di balik lubang-lubang angin rumah. Umaknya berusaha bersikap tenang. Umaknya memandang anak bungsunya dengan tatapan iba. Sekali umaknya berdehem. Setelah itu umaknya mulai berbicara.
”Anakku, hari ini Umak akan mengungkapkan kebenaran tentang abangmu yang selalu kamu tanyakan. Umak yakin, kamu dapat menerima kabar ini dengan sabar bukan mengandalkan emosi. Nak, abangmu sudah...”
Tok...Tok....
Bunyi ketukan di pintu memutuskan kata Umaknya yang akan memberitahu perihal abangnya.
Siapa lagi yang bertamu sore-sore begini? Buat kerjaan saja. Ganggu urusan orang saja, dumal si anak bungsu.
”Nak, coba kamu lihat siapa yang datang? Dan tanya juga apa keperluaannya?” suruh Umaknya pada Si Bungsu.
”Baik Mak, perintah Umak saya laksanakan,” jawab Si Bungsu.
Si bungsu segera menuju pintu. Pelan-pelan dibukanya pintu. Si Bungsu pun terperanjat melihat orang yang datang. Kegembiraannya meluap-luap. Orang yang berdiri di depannya adalah abangnya yang selalu dirindukannya. Abangnya membawa bundelan di bahunya. Postur tubuhnya sedikit kurus. Tapi, tak masalah. Si Bungsu merangkul abangnya. Abangnya juga melakukan hal yang sama. Mereka berharu-biru. Sudah lama tak bertemu. Selesai berangkulan Si Bungsu mengajak abangnya masuk. Kemudian Si Bungsu berteriak dengan girangnya.
”Mak, abang sudah pulang.”
”Apa?” kaget Umaknya menoleh ke arah teriakan Si Bungsu. Umaknya beranjak dari duduknya melihat hal yang sebenarnya yang dikatakan Si Bungsu. Benar. Umaknya melihat anak sulungnya berada di depan matanya. Anak sulungnya bergandengan mesra dengan anak bungsunya. Tanpa diperintahnya cairan bening ke luar dari matanya. Cairan bening karena terharu atau bahagia, Umaknya tak tahu. Namun, dalam hatinya terus berkecamuk sebuah perasaan. Perasaan yang menanyakan pada hatinya.
Benarkah ini nyata anak sulungnya? Bukankah anak sulungnya sudah mati ditabrak mobil karena kempunan? Jangan-jangan dia hanya bermimpi...
Umaknya mengerjip-ngerjipkan matanya untuk membuktikan apakah dia bermimpi melihat anak sulungnya? Ternyata, dia tak bermimpi. Anak sulungnya tetap tak hilang dari pandangan matanya. Anak sulungnya tetap berada di samping anak bungsunya. Dia bingung sendiri dengan semua kejadian ini.
”Mak, maafkan anakmu karena telah membuat Umak menderita,” kata anak sulungnya sembari merangkul umaknya.
Umaknya tak bergeming saat anak sulung merangkulnya. Karena dia masih dalam kebingungan.

Pontianak, 28 Mei 2009

~&&&&~

0 komentar: