Kamis, 28 Mei 2009

Riam Kek Kondang dan Puncak Kek Kondang yang Memukau dan Penuh Mitos

Pagi minggu itu cuaca sangat cerah. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Tiga buah kuda besi membedah jalan menuju Riam Kek Kondang. Tiga buah kuda besi itu masing-masing ditunggangi oleh dua orang. Satu orang sebagai pengendara dan satu orang lagi berboncengan. Rombongan itu berjumlah enam orang. Masing-masing dari rombongan itu membawa peralatan dan makanan untuk mengisi perut di tempat yang dituju, yaitu Riam Kek Kondang. Rombongan itu diketuai oleh Saifun AK yang memakai kuda besi warna oranye. Dia juga sebagai penunjuk jalan selama perjalanan ke Riam Kek Kondang.
Selebihnya yang berjumlah lima orang itu adalah Agus Supiansyah, Welly, Martina Yulina, Vivi Sumanti, dan Nurhayati. Ketiga orang dalam rombongan itu adalah orang Kompenkat (Kelompok Penulis Berbakat). Mereka itu adalah Saifun AK, Welly, dan Nurhayati. Ketiga orangnya lagi adalah orang yang berminat sekali ingin melihat Riam Kek Kondang. Karena selama ini mereka belum pernah ke sana. Mereka ingin membuktikan sendiri Riam Kek Kondang itu secara dekat.
Rombongan itu tiba di Riam Kek Kondang Pukul 10.30 WIB.
Riam Kek Kondang tepatnya berada di Desa Kayu Bunga, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Dari Desa Kayu Bunga ke Riam Kek Kondang harus ditempuh dengan berjalan kaki yang memakai waktu sekitar setengah jam.
Riam Kek Kondang memiliki empat undakan rendah yang selalu dialiri oleh air. Keempat undakan itu memiliki legukan yang berbeda. Undakan terakhir mempunyai legukan yang begitu besar. Di undakan keempat itulah tempat muaranya air mengalir dari atas. Air di undakan keempat Riam Kek Kondang selalu menghempas bebatuan di samping kiri kanan atau batuan yang berada di tengahnya yang menimbulkan suara yang merdu. Bergemuruh dan berbual-bual.
Di dalam undakan keempat yang terdapat legukan keempat Riam Kek Kondang itu juga dihuni oleh ikan yang berwarna hitam dan putih yang disebut ikan tembalang. Ikan tembalang oleh penduduk setempat dijadikan petunjuk yang baik atau buruk pendatang yang datang ke sana.
Menurut mitos masyarakat. Jika sekiranya ikan tembalang banyak berkeliaran di legukan keempat Riam Kek Kondang saat seseorang datang maka penunggu Riam Kek Kondang menerima kedatangan orang tersebut. Berarti kedatangannya disambut dengan baik. Tapi, jika ikan tembalang tak banyak bahkan tak muncul berkeliaran di legukan keempat Riam Kek Kondang maka seseorang yang datang itu tak berkenan diterima oleh penunggu Riam Kek Kondang. Berarti orang tersebut kedatangannya tak disambut baik. Jika sudah begitu, lebih baik orang yang datang itu tak usah berlama-lama di sana. Karena jika orang itu berlama-lama di Riam itu maka orang itu akan dikerjai penunggu riam. Selain itu, ikan tembalang yang ada di legukan keempat Riam Kek Kondang tak boleh diambil atau dibawa pulang, karena akan menyebabkan penyakit pada orang yang membawanya.
Di Riam Kek Kondang, Rombongan itu melepaskan lelahnya. Welly, Vivi, Nur, Ulin, Agus, menikmati sejuk air Riam Kek Kondang di Undakan kesatu yang berada di atas, sedangkan ketua rombongan menikmati riak-riak air yang berada di legukan keempat riam. Ketua rombongan itu asyik memperhatikan begitu banyak ikan tembalang berkeliaran di dalam air tersebut. Dia bersyukur dalam hati bahwa kedatangan mereka disambut dengan baik oleh penghuni riam. Karena sebelum memasuki Riam Kek Kondang, rombongan itu sudah minta izin pada penghuni riam bahwa mereka datang tak mengganggu dan mengotori riam yang dipimpin ketua rombongan yang dilakukan melalui panjatan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rombongan itu datang hanya sekadar untuk menikmati keindahan dan kesejukan air riam saja.
Setelah letih menikmati ikan tembalang dan riak air yang berbual-bual di legukan keempat Riam Kek Kondang. Ketua rombongan segera naik ke legukan satu yang berada di atas. Bergabung bersama rombongannya. Mandi. Bersuka ria. Tak lupa mereka juga mengisi perut yang sudah keroncongan dengan perbekalan makanan yang mereka bawa. Sungguh nikmat mereka menikmati makanan di alam terbuka.
Selesai menikmati keindahan dan kesejukan air Riam Kek Kondang dan makan untuk mengisi perut. Rombongan itu melakukan perjalanan lagi untuk menuju Puncak Riam Kek Kondang.
Puncak Riam Kek Kondang terdapat Bendungan Air Bersih. Bendungan Air Bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air penduduk Desa Kayu Bunga dan desa sekitarnya. Penyaluran air bersih itu melalui pipa-pipa besi dari bendungan sampai ke rumah penduduk. Sehingga penduduk desa Kayu Bunga dan di sekitarnya tak sulit lagi untuk menikmati air bersih. Di samping untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Desa Kayu Bunga dan desa sekitarnya, bendungan air bersih juga memiliki mitos yang tak kalah menariknya. Menurut mitos yang beredar bahwa di bendungan air bersih itu dihuni oleh sepasang naga. Benarkah hal itu?
Rombongan terlihat berjalan santai mendaki bukit yang terjal. Pelan-pelan dan hati-hati untuk menuju Bendungan Air Bersih yang berada di Puncak Riam Kek Kondang. Ternyata perjalanan rombongan itu tersesat jauh. Jauh ke Puncak Riam Kek Kondang. Jangankan menemukan Bendungan Air Bersih, riak air Riam Kek Kondang pun tak terdengar. Akhirnya ketua rombongan memerintahkan rombongannya untuk berhenti. Karena dia menemukan persimpangan jalan yang menunjukkan dua jalan yang berbeda. Satu jalan menuju naik ke kanan dan satu jalan lagi turun ke kiri.
Di persimpangan jalan itu, ketua rombongan menemukan bunga bangkai dan pondok penduduk. Pondok penduduk yang tak berpenghuni. Kosong. Sambilan memikirkan jalan mana yang harus dipilih. Ketua rombongan meminta Nur untuk mengabadikan bunga bangkai itu lewat sebuah HP kamera. Hp kamera milik Vivi. Ketua rombongan berembuk paham dengan anggotanya untuk menentukan jalan ke kanan atau ke kiri yang akan dipilih. Kata sepakat diambil. Mereka akan mencoba dulu menempuh jalan yang ke kanan. Jika sekiranya buntu mereka akan kembali ke persimpangan jalan.
Setelah mengikuti jalan ke kanan. Mereka menemukan jalan yang semakin mengecil, sepertinya akan buntu. Mereka berhenti. Mereka berembuk lagi. Apakah dilanjutkan perjalanan mereka mengikuti jalan mengecil itu atau turun lagi ke persimpangan jalan? Kata sepakat diambil. Mereka kembali lagi ke persimpangan jalan sebelumnya. Mereka pun mengambil jalan ke kiri. Mereka menemukan aliran air Riam yang bercabang dua. Ada yang ke kanan dan ada yang ke kiri. Mereka bingung lagi. Yang mana harus mereka pilih. Yang ke kanan atau ke kiri?
Mereka mencoba yang mengambil arah ke kanan. Tapi, mereka menemukan aliran air riam yang mengecil. Akhirnya mereka kembali ke tempat semula. Mereka berhenti sebentar melepaskan penat. Mereka membasuh badan dan kepala agar segar. Seterusnya Welly memeriksa aliran air riam yang ke arah kiri. Dia juga menemukan hal yang sama. Mereka berembuk lagi. Kata sepakat diambil. Mereka turun saja. Tapi dengan syarat mengikuti aliran air riam. Mereka pun mengikuti aliran air riam dengan sangat hati-hati.
Di sebuah batu yang datar ketua rombongan memberi isyarat untuk berhenti. Dia melihat jam tangannya. Menunjukkan pukul dua belas tepat. Dia berkata kepada anggota rombongannya bahwa dia akan melaksanakan salat zuhur. Anggota rombongannya mengerti. Anggota rombongannya mencari tempat yang enak untuk melepaskan letih. Ketua rombongan itu segera melaksanakan salat zuhur. Dalam salatnya, dia bermohon pada Allah agar dapat mempermudahkan jalan mereka. Tak memberikan halangan sedikitpun. Diselamatkan sampai pulang lagi ke rumah masing. Segera menemukan Bendungan Air Bersih.
Selesai ketua rombongan melaksanakan salat zuhur. Perjalanan mengikuti aliran air riam dilanjutkan lagi. Mereka berjalan dengan pelan-pelan dan hati-hati agar tak jatuh membentur batu yang terjal.
Di sebuah batu yang indah, mereka berfoto.
Mereka yang berfoto itu adalah Saifun AK (Ketua rombongan) mengenakan syal berwarna biru, berjaket, dan mengenakan baju dalam oranye dekat air. Di samping kanannya yang agak tertunduk dan mengenakan baju kemeja putih adalah Welly, anggota Kompenkat. Di samping kanan Welly, seorang gadis manis yang menggunakan topi hitam, mengenakan baju kaus putih, dan tangannya memegang jaket warna biru adalah Martina Yulina, biasa dipanggil Ulin. Di depan Saifun AK adalah Agus Supiansyah yang menelekan tangan kananya ke dagu dan tangan kanannya itu memakai gelang akar bahar. Di samping kanan Agus Supiansyah adalah seorang gadis manis yang memakai kaca mata putih, bertopi miring ke kiri, dan menggunakan pakaian warna hitam adalah ViVi Sumanti biasa dipanggil Vivi. Nurhayati menjadi juru fotonya.
Mereka melakukan kegiatan berfoto tujuannya untuk mengabadikan setiap detik perjalanan berharga yang mereka lakukan. Karena perjalanan yang mereka lakukan ini adalah salah satu perjalanan indah yang tak dapat mereka lupakan. Bertualang mengikuti aliran riam yang belum pernah dilakukan orang.
Akhirnya mereka menemukan juga Bendungan Air Bersih yang mereka cari. Mereka bersyukur bisa menemukannya. Berarti perjalanan yang mereka lakukan tak sia-sia.
Di Bendungan Air Bersih itu mereka melihat sekilas dua ekor ular kecil yang kira-kira panjangnya 80 sentimeter yang di kepalanya berwarna putih. Sepertinya dua ekor ular itu memakai mahkota. Mereka mencoba mengabadikannya. Tapi HP yang digunakan untuk mengabadikan dua ekor ular itu rusak. Mereka kecewa. Walau mereka kecewa tak dapat mengabadikan dua ekor ular itu, tapi mereka senang. Karena apa yang mereka cari sudah mereka temukan.*

0 komentar: