Rabu, 19 Agustus 2009

Kemarau bukan Kemarau

Saat kemarau bukan kemarau lagi
Banyak pikir menguntai kata-kata berarti
Dalam catatan harian seribu melodi Dini
Menanyakan kemana diri harus diabadikan
Apakah dalam kemolekan sanubari
Atau dalam tonggak keperkasaan imaji-imaji

Saat kemarau bukan kemarau lagi
Banyak logika bermain senda
Dalam coretan kancah-kancah politik
Semakin gila dengan kegilaan benda
Tak punya rasa untuk mengabadi ragawi sendiri
Di kepedulian ukhrowi atau hapus di kuku manusiawi

Saat kemarau bukan kemarau lagi
Banyak sabda harus diletakkan pada tempatnya
Tempatnya di tempat perenungan kekerdilan jiwa
Membersihkannya tanpa menghitung kekesalan diri

Saat kemarau bukan kemarau lagi
Banyak lafal harus diucapkan benar
Dalam seribu malam bercahaya seri
Mengujuri tubuh dengan sinarnya yang alami

Saat kemarau bukan kemarau lagi
Di sinilah hasrat iman menagih janji
Pada Sang Ilahi
Bersihkan semua hati dari nafsi-nafsi
Dengan datangkan ramadan di akhir kini

Kompleks Kampung Melayu (Balber), 09082009

0 komentar: