Rabu, 19 Agustus 2009

Lelaki Berjaket Mendapatkan Bintang di Bumi

Dalam kegelapan ini Lelaki Berjaket terus mendaki nan mendaki jalanan yang berbatu dengan campuran tanah merah bertebaran di samping kanan dan kirinya. Dia terus menanjaki jalan sampai ke dataran tinggi. Di atas dataran tinggi itu terdapat bongkahan tanah merah yang menggunduk. Dia memperlambat langkahnya. Dia mencoba menikmati setiap denyut nadinya. Tapi, dia tak mendapatkan apa yang ingin didapatkannya, yaitu bintang di bumi. Hari ini, mungkin dia tak mendapatkan bintang tersebut. Tapi, bisa saja hari besok, lusa, tulat, langkat, dia bisa mendapatkan bintang tersebut.
Mengapa Lelaki Berjaket itu begitu antusias ingin mendapatkan bintang di bumi? Bukankah bintang di bumi sulit sekali didapatkan. Sulit dijangkau. Orang-orang yang melihatnya bertanya.
Mengapa Lelaki Berjaket tak lelah-lelahnya ingin mendapatkan bintang di bumi? Bukankah bintang di bumi tak bisa didapatkan. Mengapa Lelaki Berjaket tetap berkeras jiwa ingin mendapatkan bintang di bumi? Bukankah itu adalah perbuatan mustahil dan dianggap sinting bagi orang yang mengerjakannya. Tapi, Lelaki Berjaket tak mempedulikannya. Karena Lelaki Berjaket yakin apa yang diusahakannya akan berhasil. Asalkan dia terus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Itulah pemikiran dan keyakinan Lelaki Berjaket, yang terus mantap dan tak pernah tergoyahkan oleh siapapun.
Kadang-kadang orang yang melihatnya juga berpikir. Apakah bintang di bumi yang ingin didapatkan Lelaki Berjaket itu lebih berharga dari seorang kekasih? Atau apakah bintang di bumi yang ingin didapatkan Lelaki Berjaket itu lebih berarti dari Tuhan yang disembahnya?
Lelaki Berjaket mengajak seorang temannya untuk menemaninya mendapatkan bintang di bumi. Temannya menolak dan mengatakannya sinting. Tapi, Lelaki Berjaket terus meminta temannya agar menemaninya untuk mendapatkan bintang di bumi. Karena dibujuk terus bujuk. Akhirnya, temannya mau juga menemani Lelaki Berjaket untuk mendapatkan bintang di bumi.
Dalam perjalanannya menemani Lelaki Berjaket untuk mendapatkan bintang di bumi, temannya selalu berkomentar.
“Mengapa kamu selalu ingin mendapatkan bintang di bumi? Bukankah bintang di bumi itu sulit didapatkan. Lebih baik kita mendapatkan bintang di langit. Dengan pesawat Apollo kita ke langit dan kita ambil bintang di langit itu. Beres. Selesaikan urusannya. Mengapa kamu harus sulit-sulit ingin mendapatkan bintang di bumi?”
“Kalau bintang di langit saya sudah tahu. Yang saya ingin dapatkan bukan bintang di langit, tetapi bintang di bumi. Karena dalam impian saya, saya dapat menggenggam bintang yang bukan berasal dari langit tetapi berasal dari bumi. Bintang yang berasal dari bumi itu saya genggam erat dengan kedua belah tangan saya. Tangan saya bersinar putih. Kemudian sinar putih merembesi jalan darah saya. Lalu sekujur tubuh saya berwarna putih. Saya menjadi manusia cahaya. Saat menjadi manusia cahaya, orang-orang memandang saya dengan penuh kekaguman dan memuji-muji saya.”
“Segala impian kamu percaya. Saya beritahu ya. Tidak ada bintang seperti itu di bumi. Bintang seperti itu hanya halusinasi saja.”
“Tidak mungkin. Sebab saya mengalami impian itu berkali-kali. Saya yakin apa yang saya impikan itu adalah sebuah petunjuk bahwa saya harus mendapatkan bintang di bumi itu sampai dapat agar saya dapat dikagumi dan dihormati semua orang.”
“Terserah kamulah,” jawab temannya kesal.
***
Lelaki Berjaket bertanya kepada Gadisnya.
“Di mana dia harus mendapatkan bintang di bumi”
Gadisnya tidak dapat menjawab. Gadisnya termenung dan bingung. Gadisnya berpikir. Jangan-jangan abangnya terlalu jauh berimajinasi.
Selama sejarah bumi ini ada, belum ada tersiar kabar bahwa bintang dapat berada di bumi. Juga belum pernah tersiar bintang di langit berada di bumi. Tapi, dengan perputaran waktu yang ada bisa saja sekarang ini bintang di langit berada bumi.
Bintang di langit berada di bumi? Itu mustahil terjadi. Kalau itu sampai terjadi. Sama saja menyalahi aturan Allah. Atau mungkin bintang di bumi yang dimaksud abangnya adalah bintang dalam arti simbol atau lambang kehidupan. Mungkin saja. Tapi… Bintang di bumi itu dilambangkan dengan apa? Pusing otak Gadisnya memikirkan hal tersebut.
Malam ini. Begitu lain dirasakan Lelaki Berjaket. Lelaki Berjaket bergerilya di bumi. Semua pelosok bumi didatanginya. Tapi, bintang di bumi yang ingin didapatkannya belum juga ditemukannya. Lelaki Berjaket tak pernah patah semangat. Dia terus mencari bintang di bumi itu. Dia akan membuktikan pada semua orang bahwa bintang di bumi itu ada. Nyata.
Lelaki Berjaket menelepon Gadisnya. Dia tetap menanyakan pertanyaan yang sama.
“Di mana dia harus mencari bintang di bumi?”
Gadisnya tak bisa membalas telepon Lelaki Berjaket. Gadisnya berdiam. Abangnya terkena sindrom apa? Sehingga terus semangat ingin mendapatkan bintang di bumi. Gadisnya malah mengalihkan pembicaraan.
“Abang berada di mana sekarang?”
“Saya lagi berdiri di depan rumah. Lagi melihat langit senyap. Pohon beku. Tanah diam. Rumah mati?”
“Kok rumah bisa mati, Bang?”
“Yalah, Gadis saya. Rumahkan tak bisa bicara. Rumahkan tak bisa makan. Rumahkan tak bisa berkembang.”
“Tapi, dalam rumahkan tempat orang bicara. Dalam rumahkan tempat orang makan. Dalam rumahkan tempat orang berkembang. Masihkah rumah dikatakan mati?”
“Yalah, Gadis saya. Itukan hanya sebagian kehidupan tambahan yang ada dalam badannya rumah, bukan bagian penting badannya rumah. Bagian penting badannya rumah, kan mati. Jadi rumah tetap disebut rumah mati.”
Dengan iseng-iseng Gadisnya berseru dari seberang.
“Bang, saya dapat ide untuk menemukan bintang di bumi? Ini menurut pemikiran saya. Mudah-mudahan saja ada benarnya. Kalau salah, biasalah. Karena itu adalah ide.”
“Cobalah kamu sampaikan idemu itu!” sahut Lelaki Berjaket tak sabaran.
“Abang datangi saja tempat bernama jiwa. Jiwa yang terdalam dan sakral. Mungkin saja, di sana bercokolnya bintang di bumi yang ingin abang dapatkan. Tapi, untuk ke sana abang harus dapat melakukan penyatuan jiwa yang sakral.”
“Ooo… begitu. Saya akan pertimbangkan usulanmu.”
***
Di lain waktu. Lelaki Berjaket berdiri di pedataran tinggi. Matanya memandang jauh ke depan. Terpandanglah olehnya hamparan pepohonan yang sama rata. Kelokan air sungai yang berliku-liku seperti guratan kecil dalam tulisan alam. Lelaki Berjaket berdehem.
Cantik. Sungguh cantik panorama alam.
Mungkinkah bintang di bumi ada di sana?
Lelaki Berjaket segera berjalan di hamparan pepohonan yang sama rata. Pepohonan sama rata yang barusan dilihatnya. Tapi, bintang di bumi yang ingin didapatkannya tak ditemukannya di sana. Lelaki Berjaket kelelahan. Dia istirahat sebentar. Dari dahinya yang mulus berleleran butiran keringat pendar. Asam asin.
Kemudian Lelaki Berjaket melanjutkan pencariannya di kelokan air sungai yang berliku-liku seperti guratan kecil dalam tulisan alam. Tapi, dia kecewa. Yang didapatkannya hanya lelah saja. Bintang di bumi yang ingin didapatkannya tak pernah ditemukannya. Akhirnya, dia membisu. Merenung.
Lelaki Berjaket menanggalkan jaketnya, karena kepanasan. Dia hanya mengenakan baju lengan pendek. Matanya liar memandang semua arah bumi di dekatnya. Kalau-kalau bintang di bumi akan ditemukannya.
Lelaki Berjaket mengirimkan SMS pada Teman Wanitanya. Teman Wanitanya yang jauh di seberang lautan. Teman Wanitanya yang pernah dijumpainya ketika Lelaki Berjaket pergi menghadiri sebuah pertemuan akbar, Kepenulisan Asia Tenggara. Mastera. Isi SMS yang dikirim Lelaki Berjaket adalah menanyakan. Di mana dia harus menemukan bintang di bumi?
Teman Wanitanya membalas SMS Lelaki Berjaket. Lelaki Berjaket dapat menemukan bintang di bumi yang berada di planetarium. Bintangnya lebih romantis dan nyata serta dapat menghilangkan kejenuhan. Karena Teman Wanitanya pernah melihat bintang tersebut. Lelaki Berjaket tersentak. Dari jawaban Teman Wanitanya. Dia menemukan kehidupan baru. Pemikiran baru. Bintang di bumi yang dicarinya selama ini berada di planetarium.
Haruskah dia mengarungi lautan untuk menemukan bintang di bumi itu? Haruskah dia menemui Teman Wanitanya? Haruskah dia meminta Teman Wanitanya agar menunjukkan tempat planetarium itu berada? Jawabannya harus. Sebab dia ingin sekali secepatnya menemukan bintang di bumi yang berada di planetarium agar kehidupannya berubah baik.
Lelaki Berjaket belum puas dengan pertimbangan pikiran dan jawaban Teman Wanitanya. Lelaki Berjaket lalu menanyakan perihalnya itu pada Temannya yang berada di Surabaya.
“Di mana dia harus menemukan bintang di bumi?”
Dari kecil sampai sebesarnya sekarang, Temannya yang di Surabaya tak pernah mendengar bahwa bintang ada di bumi. Sepengetahuannya, bintang itu tetap berada di langit biru. Untuk tidak mengecewakan temannya yang bertanya. Temannya di Surabaya memberikan jawaban bahwa Pak Kiai adalah orang yang tepat untuk dimintai penjelasan mengenai kemauan temannya.
Hari ini. Lelaki Berjaket tak memakai jaket. Dia tak melakukan perjalanan untuk mendapatkan bintang di bumi. Sebab dia diserang flu hebat. Bersin-bersin nyaring. Sehingga tubuhnya melemah. Pengembaraannya terhenti sementara. Tapi, dalam hatinya masih membarakan semangat untuk mendapatkan bintang di bumi. Sampai kapanpun.
***
Terjadi kebimbangan dalam pikiran Lelaki Berjaket. Karena, banyak pilihan tempat yang harus ditujunya untuk menemukan bintang di bumi? Teman Wanitanya mengatakan bahwa bintang di bumi dapat ditemukan di planetarium. Pak Kiai mengatakan bahwa bintang di bumi dapat ditemukan di kedalaman hati dan pemikiran yang berlandaskan iman dan takwa. Gadisnya mengatakan bahwa bintang di bumi dapat ditemukan di jiwa. Semuanya jadi semerawut. Mungkinkah untuk membuktikan kebenaran ucapan semuanya, Lelaki Berjaket harus mendatangi ketiga tempat tersebut. Di planetarium? Di kedalaman hati dan pemikiran yang berlandaskan iman dan takwa? Di jiwa?
Lelaki Berjaket memutuskan untuk mengunjungi tempat yang pertama, yaitu Planetarium. Dia ingin membuktikan kebenaran ucapan Teman Wanitanya. Dia menemui Teman Wanitanya di Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang Lion. Setibanya di kediaman Teman Wanitanya, dia disambut dengan baik dan ramah. Teman Wanitanya yang hari itu memakai kerudung pink yang merupakan warna yang selalu disenangi Lelaki Berjaket. Kemudian antara dua insan itu terjadi kontak senyuman kehangatan. Pengakraban. Selanjutnya, Teman Wanitanya segera mengajak Lelaki Berjaket untuk mengunjungi planetarium. Lelaki Berjaket merasa senang. Setelah melihat bintang besar yang terdapat dalam etalase kaca di planetarium. Lelaki Berjaket menyipitkan matanya. Bibirnya beku. Bintang yang dilihatnya itu adalah tiruan bintang di bumi. Bukan bintang asli. Lelaki Berjaket kecewa. Lelaki Berjaket memutuskan untuk cepat pulang. Sebab masih ada dua tempat lagi yang harus dikunjunginya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Nanti keburu dia mati, berarti pencariannya gagal. Tapi, Teman Wanitanya mencegahnya. Menyuruh Lelaki Berjaket untuk menginap beberapa waktu di rumahnya. Lelaki Berjaket menolak dengan halus. Teman Wanitanya terus merayu. Lelaki Berjaket tetap dengan pendiriannya. Dia harus pulang secepatnya. Teman Wanitanya mengalah dan menghargai keputusan Lelaki Berjaket.
Sebelum Lelaki Berjaket pulang ke daerah asalnya. Secara tak terduga-duga Teman Wanitanya mengatakan sesuatu yang membuat kebimbangan pikiran pada Lelaki Berjaket. Karena, Teman Wanitanya mengatakan bahwa selama bertemu Lelaki Berjaket pertama kali. Teman Wanitanya telah menaruh hasrat padanya. Hal yang tak wajar dirasakannya. Tapi, perasaan itu sungguh damai dan tenang. Teman Wanitanya telah menyayangi Lelaki Berjaket. Teman Wanitanya berharap, Lelaki Berjaket dapat mempertimbangkan keinginannya untuk menjadi bintang kehidupan dalam kehidupan Lelaki Berjaket. Walaupun Teman Wanitanya tahu, harapannya tipis untuk diterima Lelaki Berjaket. Tapi, tidak salahkan bila dia berharap seperti itu?
Lelaki Berjaket kaget mendengarkan apa yang dikatakan Teman Wanitanya. Lelaki Berjaket tak menyangka bahwa Teman Wanitanya menyayanginya. Sejenak Lelaki Berjaket berdiam diri. Hanya matanya saja memandang mata Teman Wanitanya. Di mata Teman Wanitanya, Lelaki Berjaket menemukan keseriusan dan kedamaian. Tenang tak beriak. Lelaki Berjaket pernah merasakan itu saat mereka akrab bergaul dalam pertemuan akbar, Kepenulisan Asia Tenggara. Mastera. Lelaki Berjaket tak boleh larut dalam perasaannya.
Tekadnya pun bulat untuk mengabaikan segala hal yang akan menghambat keinginannya untuk mendapatkan bintang di bumi. Seperti yang dilakukannya pada Teman Wanitanya. Mengabaikan kenangan indah, damai, dan tenang dengan Teman Wanitanya. Karena, dia tahu bahwa kalau dia larut dalam kenangan itu, apalagi memenuhi keinginan Teman Wanitanya untuk menjadi bintang kehidupan, maka misinya untuk menemukan bintang di bumi gagal total. Selamanya dia tidak akan dihormati dan dimuliakan oleh orang lain, seperti petunjuk yang dia dapatkan dalam impiannya. Dia harus berani mengambil risiko itu. Mengabaikan kenangan indahnya bersama Teman Wanitanya asalkan dia mendapatkan bintang di bumi.
Selain itu, dia harus sadar diri bahwa Teman Wanitanya bukanlah orang yang tepat dijadikan pendamping hidupnya. Orang yang tepat menjadi pendamping hidupnya, sudah ada, yaitu Gadisnya yang masih tetap setia menunggunya. Gadisnya yang tak pernah goyah untuk selalu hidup bersamanya. Gadisnya yang sudah jadi pancaran hatinya. Gadisnya yang telah jadi panutan hatinya. Gadisnya yang telah siap menjadi pendamping hidupnya untuk selama-lamanya. Sepertinya Lelaki Berjaket sudah cocok bersama Gadisnya untuk mengarungi suka dan dukanya kehidupan berkeluarga. Kaki Lelaki Berjaket mantap menaiki tangga pesawat terbang Lion yang membawanya pulang ke daerah asalnya.
***
Lelaki Berjaket mulai melakukan perbuatan mempertebal iman dan ketakwaannya, agar dia dapat menemukan kedalaman hatinya. Tapi, Lelaki Berjaket kebingungan. Seberapa besar kedalaman hati yang harus ditempuhnya untuk mendapatkan bintang di bumi. Lelaki Berjaket akhirnya menemui Pak Kiai lagi untuk menanyakan seberapa dalam hatinya harus menempuh kehidupan untuk mendapatkan bintang di bumi. Pak Kiai tak mampu berkata-kata. Sebab, Pak Kiai juga tidak tahu berapa dalamnya hati manusia. Karena selama ini, kedalaman hati manusia tak pernah bisa diterka. Kedalaman hati manusia merupakan rahasia Sang Pencipta-Nya. Lelaki Berjaket heran. Sebab, tanyanya tak dijawab Pak Kiai. Lelaki Berjaket meminta ketegasan Pak Kiai mengenai apa yang ditanyakannya. Sampai di kedalaman berapa, hatinya harus mendapatkan bintang di bumi?
Pak Kiai hanya tersenyum. Menampakkan giginya yang putih. Sesekali tangan Pak Kiai membelai jenggotnya yang panjang menjuntai lantai. Mata Pak Kiai terus saja berkedip indah. Sampai Lelaki Berjaket memaksa pun, Pak Kiai hanya pamer senyum. Lelaki Berjaket kesal sendiri. Lelaki Berjaket pulang ke rumahnya. Lelaki Berjaket mulai berpikir. Apakah dia akan meneruskan atau tidak pengembaraannya ke tempat yang dikatakan Pak Kiai untuk menemukan bintang di bumi? Sedangkan Pak Kiai tak dapat menjelaskan tempat tersebut secara detail. Membuat dia bingung. Dia tidak ingin bingung. Karena, baginya kebingungan akan membuat ketidakjelasan tujuan yang ingin digapainya. Dia ingat suatu ajaran hidup yang mengatakan tentang kebingungan itu, yaitu kalau suatu hal membuat kebingungan pada dirimu, sebaiknya kamu tinggalkan kebingungan itu. Lakukan saja sesuatu yang jelas dan nyata untuk dilakukan. Dia pun segera membuang kebingungan itu. Dia memutuskan tidak akan melanjutkan pengembarannya ke tempat yang dikatakan Pak Kiai untuk mendapatkan bintang di bumi. Tapi, dia akan melanjutkan pengembaraannya ke tempat ketiga, seperti yang dikatakan Gadisnya. Di jiwa? Jiwa yang mana? Jiwa yang bagaimana?
Lelaki Berjaket ingat suatu hal yang dikatakan Gadisnya. Untuk menemukan jiwa, dia harus melakukan penyatuan jiwa yang sakral. Penyatuan jiwa sakral itu bagaimana? Apakah dia harus menyatukan jiwanya ke jiwa itu, sedangkan jiwa itu masih belum jelas di mana dia berada? Memakai apa dia harus melakukan penyatuan jiwa yang sakral? Ataukah dia perlu orang lain untuk menyatukan jiwa yang sakral? Siapa orangnya? Kalau pun orang lain itu ditemukan. Kapan penyatuan jiwa yang sakral itu dilakukan? Di mana penyatuan jiwa sakral itu akan dilangsungkan? Ini sesuatu yang absurd. Menuntut pemikiran jernih. Dari keabsurdan tempat jiwa itu berada, Lelaki Berjaket tertantang serius untuk mendapatkan jawabannya. Dia harus mendapatkan jawabannya. Karena dia adalah lelaki yang pantang menyerah.
***
Orang-orang begitu ramai. Orang ramai itu duduk berjejeran. Dari ruang tengah sampai ruang depan. Berdesakan. Berpanasan dan berleleran keringat tubuh. Karena, kipas angin buatan tidak ada, hanya mengandalkan kipas angin alami. Hari ini, kipas angin alami tidak bertiup. Semakin kentaralah kepanasan yang dirasakan orang-orang yang duduk berdesakan. Orang ramai itu berpakaian bagus dan rapi. Orang ramai itu tersenyum. Mata orang ramai itu terpusat kepada Lelaki Berjaket yang sedang berhadapan dengan Pak Penghulu. Lelaki Berjaket yang memakai jaket putih, topi putih, celana putih, semuanya serba putih. Lelaki Berjaket tak berhenti tersenyum. Lelaki Berjaket sedang menghadapi hari bersejarah dalam hidupnya. Hari yang menentukannya untuk mengucapkan ikrar penyatuan jiwa, dua badan satu jiwa dengan Gadisnya. Gadisnya yang duduk anggun di sampingnya. Mengenakan baju beludru gemerlapan dan rok modis berkilauan, menambahkan kecantikan Gadisnya terpancar jelas. Seperti bidadari yang turun dari kayangan.
Lelaki Berjaket menjabat tangan Pak Penghulu untuk melakukan ikrar penyatuan jiwa. Lelaki Berjaket melakukannya dengan tenang dan damai. Saat Lelaki Berjaket selesai mengucapkan kata penyatuan jiwa itu. Seketika muncullah bintang di bumi yang berwarna putih, menyilaukan pandangan mata semua orang yang hadir, karena kilauannya yang terlalu benderang. Bintang di bumi yang muncul tersebut digenggam erat dua tangan Lelaki Berjaket. Seterusnya tanpa diperintah Lelaki Berjaket, bintang di bumi masuk dalam tubuhnya, membuat tubuhnya putih benderang. Lelaki Berjaket menjadi manusia cahaya. Mata orang ramai yang hadir serentak memandang Lelaki Berjaket dengan terpana dan berdecak kagum.

Balai Berkuak, 15 Agustus 2009
***
Keterangan:
~ tulat : hari sesudah lusa
~ langkat : hari sesudah tulat

0 komentar: