Sabtu, 29 Agustus 2009

Manusia Membohongi Malaikat Maut

Zaman dahulu kala. Manusia dapat berbicara dengan malaikat maut sebelum nyawanya dicabut malaikat maut. Karena malaikat maut menampakkan dirinya kepada manusia. Sehingga manusia dapat mengutarakan keinginannya yang belum tersampaikan kepada malaikat maut, sebelum nyawanya dicabut malaikat maut. Malaikat maut selalu menurut keinginan manusia tersebut. Itu dilakukan malaikat maut sebagai penghormatan terakhirnya kepada manusia yang akan dicabut nyawanya. Setelah itu barulah malaikat maut mencabut nyawa manusia itu. Tapi ternyata malaikat maut dibohongi oleh manusia. Sehingga sekarang malaikat maut tak menunda lagi mencabut nyawa manusia kalau sudah waktunya dan dia tidak menampakkan wajahnya. Dengan begitu dia leluasa mencabut nyawa manusia. Begini ceritanya sehingga malaikat maut tidak mau menampakkan diri dan tak mau menuruti keinginan manusia untuk terakhir kalinya.
Suatu ketika malaikat maut mendatangi seorang manusia yang akan dicabut nyawanya. Manusia tersebut berumur sekitar seratus empat puluh tahun. Manusia itu kelihatan tenang menyambut kedatangan malaikat maut.
”Hai manusia, aku akan mencabut nyawamu sekarang!” kata Malaikat Maut.
”Silakan saja. Tapi, malaikat maut sebelum nyawa saya lepas dari raga. Bolehkan saya menikmati buah dari ubi masak yang saya tanam.”
Malaikat Maut berpikir sejenak. Dia pun bermunazat pada Tuhan.
”Tuhan, mahlukmu yang ingin saya ambil nyawa ini meminta tangguh kematiannya sebelum dia memakan ubi masak yang ditanamnya. Tuhan, berilah saya petunjukmu.”
Tuhan menyahut permintaan Malaikat Mau.
”Penuhi saja keinginannya.”
Malaikat Maut pun berkata kepada manusia itu.
”Boleh. Silakan. Sekarang tanamlah ubi masakmu itu di tanah yang kamu inginkan.”
Manusia itu menjadi gembira. Dia mulai menanam ubi masak di punggung dapur rumahnya. Dia menyangka ubi masak itu tidak akan berbuah. Mustahil sekali ubi masak yang ditanamnya bisa berbuah, pikirnya. Dia tidak tahu bahwa kekuasaan Tuhan di atas segala-galanya. Sesuatu bisa saja dijadikan Tuhan dengan kehendak-Nya. Karena, Tuhan punya kehendak atas semua mahluk ciptaan-Nya.
Keesokan harinya ubi yang ditanam manusia itu berbuahlah. Manusia itu mulai makan buah ubi masak yang ditanamnya. Malaikat maut menjadi senang. Karena, dia akan mencabut nyawa manusia itu tidak lama lagi, setelah manusia itu menyelesaikan makan buah ubi masak yang ditanamnya di punggung dapur.
”Hai manusia, sekarang keinginanmu sudah saya penuhi. Kamu sudah makan ubi masak yang kamu tanam itu. Sekarang bersiaplah kamu untuk dicabut nyawamu,” kata Malaikat Maut.
”Tunggu dulu, Malaikat Maut. Saya masih punya keinginan sebelum kamu mencabut nyawa saya,” cegah manusia itu.
”Apalagi keinginanmu, manusia?”
”Saya ingin makan buah kacang tanah goreng yang akan saya tanam di depan rumah saya. Bolehkan?”
”Baiklah, manusia. Saya akan mohon pada Tuhan semoga saja dia mengabulkan keinginanmu,” sahut Malaikat Maut.
”Saya tunggu, Malaikat Maut semoga saja keinginan saya terpenuhi, biar saya tidak mati penasaran.”
Malaikat Maut bermunajat kepada Tuhan. Menyampaikan keinginan manusia yang ingin dicabut nyawanya. Pengaduan Malaikat Maut diterima Tuhan. Tuhan memberikan izin kepada Malaikat Maut untuk memenuhi keinginan manusia itu. Malaikat Maut menyampaikan berita tersebut kepada manusia itu. Manusia itu dengan senang hati menerima kabar gembira itu.
Hebat saya ini. Saya sudah berhasil mengelabui Malaikat Maut. Saya berhasil menunda kematian saya. Mudah-mudahan kacang tanah goreng yang saya tanam itu tidak berbuah. Hingga saya lama hidup dalam dunia ini.
Keesokan harinya, manusia itu terkejut saat dia melihat kacang tanah goreng yang ditanamnya di halaman depan rumahnya, berbuah. Manusia itu tak habis pikir. Mengapa kacang goreng itu bisa berbuah? Padahal menurut pemikiran kacang goreng itu tidak akan berbuah, karena kacang goreng itu sudah mati. Tapi, manusia itu lupa dengan kekuasaan Tuhan. Bahwa apapun yang dijadikan Tuhan akan menjadi kenyataan. Walaupun mustahil dalam pemikiran logika manusia. Karena, Tuhan adalah segala penentu kekuasaan atas mahluk ciptaannya. Manusia itu dengan masgul segera makan buah kacang tanah goreng yang ditanamnya.
Selesai manusia itu makan buah kacang goreng yang ditanamnya. Seketika itu juga Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawanya. Manusia itu mengelak terus. Dia mohon lagi kepada Malaikat Maut agar sebelum dia dicabut nyawanya dia dapat diizinkan melihat neraka biar dia mati penasaran. Karena, kalau tidak dipenuhi keinginannya sebelum mati, bisa jadi dia akan mati penasaran. Malaikat Maut pun bermunazat lagi kepada Tuhan. Munazatnya berupa pemberitahuan kepada Tuhan mengenai keinginan manusia yang ingin dicabut nyawanya. Munazat Malaikat Maut diterima Tuhan. Malaikat Maut tetap diperkenankan memenuhi keinginan manusia itu.
Malaikat Maut pun mengantarkan manusia itu untuk melihat neraka. Malaikat Maut minta izin kepada Malik untuk mengantarkan manusia itu melihat neraka. Malik mengizinkannya. Malaikat Maut bersama manusia itu segera memasuki pintu neraka. Hawa panas neraka sudah menghampar. Memerahkan kulit tubuh mereka. Manusia itu tetap bertahan. Dia harus bisa melihat neraka. Manusia itu dapat melihat neraka, yang apinya berkobar-kobar, dan banyak orang-orang menjerit-jerit minta tolong kepada mereka, agar mereka dapat dikeluarkan dari neraka. Tapi, manusia itu tak mempedulikannya.
Setelah dirasanya cukup. Manusia itu meminta kepada Malaikat Maut untuk membawanya keluar secepat mungkin. Malaikat Maut sesegera mungkin membawa manusia itu keluar dari neraka. Malaikat Maut pamit kepada Malik. Malaikat Mau berterima kasih kepada Malik atas kerjasamanya. Malaikat Maut membawa lagi manusia itu kembali ke rumahnya. Sampai di rumah manusia itu, Malaikat Maut segera mau mencabut nyawa manusia itu. Manusia itu bertangguh lagi. Manusia itu memohon lagi kepada Malaikat Maut agar dapat mengabulkan keinginan terakhirnya, sebelum dicabut nyawanya. Malaikat Maut menunda lagi mencabut nyawanya.
”Katakanlah keinginan terakhirmu, hai manusia?” kata Malaikat Maut.
Manusia itu menyampaikan keinginannya. ”Dia ingin melihat surga sebelum dia dicabut nyawanya.” Malaikat Maut segera bermunazat kepada Tuhan untuk menyampaikan keinginan manusia itu yang terakhir kalinya. Munazat Malaikat Maut diterima Tuhan. Seperti biasanya dia diberi izin untuk memenuhi keinginan manusia itu. Malaikat Maut segera membawa manusia itu ke surga.
Di depan pintu surga, Malaikat Maut dan manusia itu dicegah Ridwan, penjaga pintu surga. Ridwan menanyakan keinginan mereka. Malaikat Maut menyampaikan keinginannya. Keinginannya itu sudah mendapat perkenan dari Tuhan. Ridwan pun mempersilakan manusia itu untuk memasuki surga. Manusia itu memasuki surga dengan senang hati dan sangat gembira. Malaikat Maut menunggu di luar bersama Ridwan. Setelah dirasa cukup melihat surga. Malaikat Maut menyeru manusia itu.
”Hai manusia, batas waktumu berkunjung ke surga sudah habis. Mari kita pulang. Kita tuntaskan urusan pencabutan nyawamu.”
”Saya tidak mau pulang. Saya sudah keenakan di sini. Maafkan saya, Malaikat Maut,” kata manusia itu dari dalam surga.
”Tidak bisa begitu manusia. Kamu harus pulang. Kamu harus saya cabut nyawa dulu. Biar tugas saya selesai. Biar Tuhan tidak marah pada saya, karena melalaikan tugas.”
”Sekali lagi saya minta maaf, Malaikat Maut. Saya sudah betah tinggal di sini. Saya tidak akan keluar lagi dari sini. Karena, di sini sungguh menyenangkan dan membahagiakan hati saya. Selama-lamanya saya akan menetap di sini. Urusanmu dengan Tuhan, bukan urusan saya. Itu urusanmu.”
Malaikat Maut menjadi kesal dan marah. Karena, dia sudah dibohongi manusia itu. Malaikat Maut minta izin kepada Ridwan agar dia bisa diperkenankan masuk dan menarik paksa manusia itu untuk dibawanya pulang ke rumah manusia itu. Ridwan tidak mengizinkan, karena izin dari Tuhannya hanya untuk satu orang saja. Malaikat Maut makin berang. Berang kepada manusia yang telah membohonginya.
Sejak kejadian itu. Malaikat Maut berjanji pada dirinya bahwa dia akan mencabut nyawa manusia kalau memang sudah waktu untuk dicabut nyawanya. Tidak ada penundaan lagi. Tidak ada penangguhan lagi. Karena, Malaikat Maut tidak mau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
*******
Catatan:
* Penutur: Wak Anjang Are
* Cerita rakyat ini berasal dari Desa Durian Sebatang, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Prov insi Kalimantan Barat.

0 komentar: