Senin, 14 September 2009

Dodal dan Tujuh Macan

Di suatu desa yang tidak jauh dari Gunung Samugo hiduplah seorang yang nakal bernama Dodal sedangkan di Gunung Samugo hiduplah ketujuh Macan.
Suatu ketika Sang Dodal pergi menyumpit binatang ke Gunung Samugo. Sampai di puncak Gunung Samugo. Dodal menemukan sebuah kubangan babi yang sangat besar. Bentuk kubangan itu bulat seperti kawah. Kubangan itu disebut Nek Ronang. Biasanya kubangan babi penuh dengan air yang keruh, tapi kubangan babi yang satu ini airnya bersih dan banyak ikan di dalamnya.
Sampai di kubangan itu. Dodal mendengarkan suara-suara yang bersenda gurau. Dodal mendekati suara-suara yang bersenda gurau itu. Memastikan siapa orang-orang yang bersenda gurau itu. Setelah mendekat ke arah suara-suara itu. Dodal melihat ada tujuh Macan yang lagi asyik mandi. Dodal terus memperhatikan ketujuh Macan itu sampai selesai mandi. Ketujuh Macan itu mengambil pakaiannya masing-masing, yang disangkutkannya di sebongkol kayu yang sudah tua dan berbentuk unik. Kayu itu disebut rangkang. Karena kayu itu mirip seperti tulang tengkorak manusia. Setelah berpakaian, ketujuh Macan melompat ke samping kanan. Ketujuh Macan itu hilang raib dari pandangan Dodal.
Dalam persembunyiannya, Dodal merasa takjub. Dodal mengagumi kesaktian tujuh Macan itu. Dodal ingin memiliki kesaktian yang dimiliki ketujuh Macan itu. Walaupun sebenarnya Dodal bukan juga manusia biasa. Dodal juga termasuk manusia yang mempunyai kesaktian. Tapi, dia tidak puas dengan kesaktian yang dimilikinya. Dia ingin sekali menambah kesaktiannya, agar dia menjadi manusia paling sakti. Manusia paling sakti yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun di jagat raya ini. Dodal mulai berpikir.
Ketujuh Macan itu pasti memiliki sesuatu atau barang yang dapat membuat mereka memiliki kesaktian tersebut. Dapat menghilang sekejap mata. Jangan-jangan sesuatu atau barang itu berupa jimat. Bisa jadi. Jimat yang membuat mereka sakti. Jimat itu mungkin mereka simpan di pakaiannya. Karena, setiap kali mereka mandi, pakaian itu selalu mereka lepaskan. Mereka sakti karena jimat. Saya harus dapat memiliki jimat mereka. Biar saya juga dapat memiliki kesaktian seperti mereka. Dapat menghilang sesuai kehendak hati. Bagaimana cara mendapatkan jimat mereka ya?
Dodal sekali lagi berpikir keras, memeras otaknya. Mencari cara untuk mendapatkan jimat ketujuh Macan itu. Hingga akhirnya dia mendapatkan cara itu.
Kalau saya ingin mendapatkan jimat mereka. Saya harus mengubah diri saya menjadi rangkang. Dengan mengubah diri saya menjadi rangkang, mereka tidak akan curiga. Bahwa rangkang itu adalah saya. Tapi, kalau saya mengambil jimat mereka secara paksa bisa jadi urusannya rumit sekali. Saya harus bertarug melawan mereka. Bisa-bisa saya mati terbunuh oleh kesaktian yang mereka miliki. Lebih baik mencari jalan yang aman-aman saja. Saya harus menjadi rangkang. Inilah pilihan yang bagus.
Dodal mulai melaksanakan rencananya. Rencananya yang memuluskan akal liciknya untuk mendapatkan jimat ketujuh Macan yang dilihatnya di kubangan babi itu.
Pagi-pagi sekali Dodal datang di Gunung Samugo. Dia berhenti di kubangan babi. Dia diam sejenak menenangkan perasaannya. Setelah perasaannya tenang, Dia pun merapal mantra kesaktiannya untuk mengubah dirinya menjadi rangkang. Seketika berubahlah Dodal menjadi rangkang. Rangkang untuk menyangkutkan pakaian ketujuh Macan itu.
Beberapa lama Dodal menunggu. Datanglah ketujuh Macan itu untuk mandi. Dodal yang telah menjadi rangkang dengan senang hati menerima kedatangan mereka. Karena, tidak lama lagi dia akan mendapatkan jimat ketujuh Macan itu. Jimat yang akan membuatnya dapat menghilang sekehendak hatinya. Ketujuh Macan itu tidak curiga sama sekali bahwa rangkang yang mereka sangkuti pakaian adalah rangkang palsu. Setelah menyangkuti pakaian mereka di rangkang palsu, wujud perubahan diri dari Dodal oleh kesaktiannya. Ketujuh Macan itu mandi dengan riang dan gembiranya.
Dodal pun segera beraksi. Dodal menggeledah seluruh pakaian yang dimiliki tujuh macan. Dodal menemukan jimat dari ketujuh Macan itu. Jimat itu diambilnya. Setelah dia mendapatkan jimat itu. Dodal membaca mantra kesaktian untuk mengubah dirinya menjadi Dodal lagi. Kemudian, pelan-pelan Dodal mengambil rangkang asli agar tidak diketahui ketujuh Macan yang asyik mandi. Rangkang yang asli ditancapkannya lagi di tempat dia menjadi rangkang. Seluruh pakaian ketujuh macan disangkutkannya lagi. Setelah itu, Dodal pun menghilangkan dirinya dari ketujuh Macan itu.
Ketujuh Macan itu selesailah mandi. Ketujuh Macan itu menuju pakaian yang mereka letakkan. Macan bungsu merasa heran kepada rangkang yang barusan dilihatnya. Rangkang yang dilihatnya ini letaknya berbeda dengan rangkang yang dilihat ketika mereka datang tadi. Macan bungsu berkata kepada abang-abangnya.
”Abang-abang, lihatlah rangkang itu. Aku mendapati keanehan dari rangkang tersebut. Rangkang yang kita lihat datang tadi berdirinya tegak lurus, tapi rangkang yang kita kali ini menjadi condong ke kanan. Letak gantungan pakaian kita pun sudah tak beraturan. Lihatlah!” Macan bungsu menunjuk ke arah rangkang tersebut.
Abang-abangnya melihat rangkang tersebut.
”Biasa saja adikku, tak ada yang dianehkan. Memang tadi rangkang ini memang condong ke kanan. Apanya yang aneh? Seluruh pakaian kita masih tersangkut dengan baik. Apanya yang aneh, adikku? Adikku tak usah mengada-ada. Membuat abang-abangmu bertanya-tanya,” kata abang-abangnya. Semua abang-abangnya mengambil pakaiannya dan langsung dikenakannya. Macan Bungsu juga mengambil pakaian dan mengenakannya.
”Benar abang-abangku, ” protes Macan Bungsu.
”Sudahlah adikku. Buanglah pikiran tak enak itu,” ingatkan Macan Kesatu.
”Kalau begitu kita buktikan saja. Begini, kita periksa jimat yang kita simpan di pakaian kita. Kalau jimat itu hilang, berarti firasat adik benar. Tapi kalau jimat itu tidak hilang berarti firasat adik tidak benar. Mudah-mudahan saja jimat kita tidak hilang dan masih berada di tempatnya,” kata Macan Bungsu.
Ketujuh Macan itu segera memeriksa jimat yang mereka simpan dalam pakaian mereka masing-masing. Mereka sangat terkejut ketika mendapati jimat mereka tidak ada lagi dalam pakaian mereka. Mereka menjadi berang dan sangat marah. Geraham mereka bergemeletukan. Asap panas keluar dari pori-pori kepala mereka. Menunjukkan kemarahan ketujuh Macan itu mencapai klimaksnya.
”Siapa yang telah berani mengambil jimat kita ini?” kata Macan Kedua.
”Ini pasti dilakukan seseorang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Ilmu kesaktian tinggi yang dapat mengubah tubuhnya menjadi rangkang,” kata Macan Kelima.
”Siapa orangnya?” kata Macan Kesatu.
”Orang yang memiliki kesaktian tinggi yang dapat mengubah dirinya menjadi rangkang hanyalah Dodal. Pasti Dodal-lah yang telah mencuri jimat kita,” jelas Macan Bungsu.
”Kalau memang benar dia yang mengambil jimat kita. Mari kita kejar dia. Selagi dia belum berlari jauh,” jawab Macan Kesatu.
”Kita mengejar ke arah mana?” kata Macan Keenam.
”Arah suara ayam,” sahut Macan Bungsu.
”Mengapa harus mencari Dodal ke arah suara ayam?” kata Macan Kesatu heran.
”Kalian tidak tahukah? Bahwa Dodal selama ini yang pernah aku dengar selalu membawa ayam kesayangannya ke mana dia pergi. Ayam itu sama saja dengan sahabat akrabnya. Dari ayamnya ini kita akan mendapatkan petunjuk. Ke mana Dodal melarikan jimat yang kita miliki. Kita harus cepat mengambil jimat kita, sebelum digunakannya. Merugilah kita,” kata Macan Bungsu.
”Oh, begitu,” kata keenam abang Macan Bungsu.
”Aku mendengar suara ayam itu ke arah selatan. Mari kita mengejarnya ke arah selatan, sebelum kita benar-benar kehilangan jejak Dodal,” seru Macan Bungsu.
Selesai berkata begitu. Macan Bungsu melesat ke arah selatan. Keenam abangnya mengikuti ke arah Macan Bungsu melesat. Ketujuh macan itu terus mengejar suara ayam itu sehingga mereka mendapatkan ayam itu. Mata mereka terbelalak melihat ayam itu. Mereka menyumpah dan memaki geram. Karena, mereka tak mendapatkan Dodal yang telah mencuri jimat mereka. Mereka hanya mendapatkan ayam yang diikat dengan buah kelapa yang digulingkan sehingga suara ayam itu dapat berubah-ubah. Itu dilakukan Dodal untuk mengelabui ketujuh macan tersebut. Ketujuh macan itu tak patah semangat. Ketujuh macan itu terus mencari jejak pelarian Dodal. Tak mengenal lelah dan waktu. Hingga akhirnya ketujuh macan itu mendapatkan jejak Dodal. Jejak Dodal yang menuju ke desa Diam Bale. Desa Diam Bale yang terlihat sepi, ketika ketujuh macan itu sampai di sana.
Ketujuh macan itu melihat telapak kaki Dodal di tanah desa itu. Ketujuh macan itu mengikuti telapak kaki Dodal yang menunjukkan ke arah mana Dodal berada. Dodal rupanya bersembunyi di dalam lumbung padi yang bertongkat sembilan. Ketujuh macan itu sampai juga di lumbung padi bertongkat sembilan. Ketujuh macan itu segera berteriak kepada Dodal.
”Dodal....... Kembalikan jimat kami.”
”Jimat kalian? Memangnya aku yang mengambil jimat kalian? Jangan menuduh sembarangan. Jimat kaliankan ada pada kalian!” sahut Dodal yang ada di dalam lumbung padi bertongkat sembilan.
”Kamu jangan bergurau, Dodal. Kamu jangan mengelak dari tuduhan itu. Tuduhan itu benar. Jimat kami telah kamu curi. Kamu mencuri jimat kami saat kami sedang asyik mandi. Kamu mencuri jimat kami dengan mengubah dirimu menjadi rangkang. Rangkang yang merupakan tempat kami menggantungkan pakaian kami saat mandi. Sekali lagi kami peringatkan padamu, Dodal. Kembalikan jimat kami sekarang. Kalau tidak kami akan mengambilnya dengan paksa.”
”Kalau kalian bisa mengambilnya. Ambillah dariku. Tangkaplah aku yang ada di dalam lumbung padi bertongkat sembilan ini.”
”Kamu menantang kami. Baiklah. Kami akan mengambil jimat kami dengan paksa darimu. Bersiaplah kamu, kami tangkap bulat-bulat.”
Ketujuh macan itu siap bergerak masuk ke dalam lumbung padi bertongkat sembilan. Tapi, gerakan ketujuh macan itu terhenti.
”Tunggu dulu, ketujuh macan. Aku ada cara damai agar kalian mendapatkan jimat kalian. Cara damai yang tidak mengandalkan kekerasan,” cegah Dodal.
”Kamu mulai takut kepada kami ya? Sehingga mau berdamai dengan kami. Itu bagus. Daripada kami melakukan tindakan kekerasan.”
”Bukan. Aku tidak takut pada kalian. Tapi, kalau kalian menangkapku akan sia-sia saja. Karena, aku dapat menghilang sesuai kehendak hatiku dengan menggunakan jimat kalian. Kalau aku sudah menghilang, kalian tidak akan dapat menangkapku. Selamanya kalian tidak akan dapat menangkapku. Aku sedikit berbaik hati dan mengurangi kepenasaran kalian, dan untuk mengetahui sejauhmana ilmu kesaktian kalian. Untuk itu, aku mengajukan caranya. Kalau dalam cara menangkapku itu, kalian dapat melakukannya dengan baik maka aku akan menyerahkan jimat kalian. Tapi kalau, kalian tidak dapat melakukannya dengan baik maka kalian harus merelakan jimat kalian menjadi milikku. Bagaimana tawaranku ini? Setujukan?”
Ketujuh macan itu berpikir sejenak. Merenung. Betul juga apa yang dikatakan Dodal. Ketujuh macan itu tidak akan dapat menangkap Dodal kalau Dodal menggunakan jimat mereka untuk menghilang. Lebih baik ketujuh macan itu mengikuti tawaran Dodal.
”Baiklah, kami mengikuti tawaranmu. Apa tawaranmu itu?” kata ketujuh macan itu.
”Caranya. Kalian harus mencabut sembilan tongkat penyangga lumbung padi ini satu persatu. Bila kalian mampu mencabut dan merobohkan kesembilan tongkat penyangga lumbung padi ini maka jimat kalian akan kukembalikan. Tapi, jika kalian tidak dapat mencabut dan merobohkan kesembilan tongkat penyangga lumbung padi ini maka kalian harus merelakan jimat kalian menjadi milikku.”
”Baiklah Dodal. Kalau itu, urusan kecil. Hanya mencabut kesembilan tongkat penyangga lumbung padi ini. Kecil sekali. Dengan sekejap mata kami dapat melakukannya,” kata ketujuh macan itu dengan sombong.
”Silakan saja kalian lakukan. Mudah-mudahan saja kalian dapat mencabutnya,” sahut Dodal.
Ketujuh macan itu menuju sembilan tongkat penyangga lumbung padi itu. Ketujuh macan membagi tugas. Masing-masing dari macan mendapatkan tugas untuk mencabut satu tongkat penyangga lumbung padi itu. Hingga tinggal dua tongkat penyangga yang tersisa. Mereka segera mencabut tongkat penyangga lumbung padi itu. Tujuh tongkat dapat ketujuh macan itu cabut, tinggal dua tongkat lagi yang masih utuh. Ketujuh macan itu bergegas mencabut kedua tongkat itu. Ketika satu tongkat dari kedua tongkat tersebut mereka cabut maka tongkat yang lain menancap kembali seperti semula. Ketujuh macan itu jadi heran. Tapi, ketujuh macan itu tidak mau mempedulikan keanehan itu. Ketujuh macan itu terus mencabut kesembilan tongkat tersebut. Setiap satu tongkat penyangga lumbung padi itu dicabut ketujuh macan itu maka tongkat yang lainnya menancap kembali seperti semula. Begitulah seterusnya. Sampai-sampai ketujuh macan itu kelelahan dan menyerah. Ketujuh macan mengaku kalah melawan kesaktian Dodal. Sebelum ketujuh macan itu pulang dengan tangan hampa. Tidak mendapatkan jimat milik mereka. Ketujuh macan itu berseru keras.
”Dodal, memang kami akui. Kami kalah sakti denganmu. Sesuai dengan perjanjian yang kita sepakati. Kami dengan terpaksa merelakan jimat kami menjadi milikmu. Tapi ingat. Kami juga menyumpahimu. Kamu tidak akan panjang umur dan tidak punya keturunan, jika kamu tidak mendapatkan sembilan kepala manusia untuk kamu letakkan di sembilan tongkat penyangga lumbung padi ini.”
Selesai mengucapkan sumpah itu. Ketujuh macan itu meninggalkan lumbung padi bertongkat sembilan itu menuju ke tempat asal mereka, yaitu Gunung Samugo.
Dodal yang berada di dalam lumbung padi bertongkat sembilan segera keluar dari lumbung padi itu dengan wajah gembira. Karena, dia telah dapat mengalahkan kesaktian dan mendapatkan jimat ketujuh macan Gunung Samugo.
* * *
Catatan:
* Penutur asli: Maria Wenita
* Cerita rakyat ini berasal dari Desa Banjur, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

0 komentar: