Rabu, 16 September 2009

Pengantin Baru Tak Boleh Mandi ke Sungai selama Tujuh Hari Perkawinannya

Ada sepasang manusia yang baru saja melangsungkan perkawinannya di Kampung Sungai. Mereka sangat bahagia. Mereka menempati sebuah rumah yang dekat dengan sungai. Suaminya bekerja sebagai pengambil kayu bakar di hutan. Kayu bakar yang dikumpulkannya dijual pada penduduk kampungnya. Hasil penjualan kayu bakar itu digunakan untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Setiap saat suaminya pergi bekerja mengambil kayu bakar. Suaminya terus berpesan kepada istrinya agar tak mencoba mandi ke sungai. Si istrinya mendengarkan pesan tersebut dengan baik. Hari pertama sampai hari keenam si istrinya masih menurut perintah suaminya. Tapi, tepat di hari ketujuh si istri mulai meragukan larangan suaminya. Dalam hatinya bertanya-tanya.
Ada apa dengan larangan itu? Ada apa dengan tak diperbolehkannya saya mandi ke sungai? Ada apa di sana? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan suami saya di sungai sehingga saya dilarang tak boleh mandi ke sana. Pasti ada sesuatu berharga di sungai. Jangan-jangan suami saya menyimpan barang-barang berharga atau jangan-jangan suami saya menyimpan jimat yang menyebabkannya sakti. Berarti suami saya ingin memiliki barang berharga atau kesaktian itu sendiri saja. Ini tak adil. Saya harus mencoba mandi ke sungai. Harus. Bulatlah tekad istri pengambil kayu bakar itu untuk mandi ke sungai.
Setelah suaminya pergi bekerja mengambil kayu bakar ke hutan pada hari ketujuh perkawinannya. Si istri segera pergi mandi ke sungai. Si istri mandi di sungai. Dia membasahkan seluruh tubuhnya dengan centong. Mandi dengan centong dirasakannya tidak puas, maka si istri menceburkan dirinya ke sungai. Saat dia menceburkan dirinya ke sungai, si buaya yang sudah mengintai dari tadi segera mendekatinya. Tak lengah lagi si istri orang itu segera disambar buaya dan dibawanya ke istana Raja Buaya.
Si suami pulanglah dari bekerja mengambil kayu bakar di hutan. Dia menjual kayu bakar itu dulu kepada penduduk kampungnya yang sangat memerlukan. Kayu bakar yang digunakan untuk kegiatan kehidupan penduduk kampungnya. Si suami sangat senangnya, karena perolehan penjualan kayu bakarnya hari ini lebih lumayan dari hari sebelumnya. Dia menuju rumahnya.
Sampai di rumahnya. Dia memanggil istrinya. Tapi, tak ada sahutan dari istrinya. Dia mengulanginya lagi beberapa kali. Istrinya tak pernah menyahuti panggilannya. Si suami mulai merasa tak enak hati. Dia pun masuk ke rumahnya yang memang tak berkunci. Dia mencari istrinya. Tapi, istrinya tak pernah diketemukannya. Si suami menjadi curiga. Jangan-jangan istrinya telah melanggar larangan yang dipesankannya.
Ah, tak boleh saya berprasangka seperti itu. Mudah-mudahan saja dia hanya pergi bertamu ke rumah tetangga.
Si suami mencari istrinya di rumah tetangganya. Tapi, istrinya tak diketemukannya. Si suami semakin gelisah. Si suami terus mencari isterinya dengan menanyakan pada seluruh orang yang berada di kampungnya.
”Apakah ada melihat istrinya?”
Orang-orang di kampungnya menjawab. ”Tidak pernah.”
Gemparlah kampung itu. Istri dari suami pengantin baru itu hilang. Penduduk kampung menunjukkan partisipasinya. Penduduk kampung membantu suami pengantin baru itu mencari istrinya. Semua kampung ditelusuri, tapi istri dari pengantin baru itu tak pernah ditemukan. Penduduk kampung menaruh curiga. Jangan-jangan istri dari pengantin baru itu telah melanggar pantangan dari suaminya yang sudah menjadi tradisi di kampung tersebut. Bahwa dalam waktu tujuh hari seorang pengantin baru tak boleh mandi ke sungai. Karena, kalau hal itu dilanggar maka akan terjadi suatu hal pada orang tersebut. Selama itu penduduk kampung itu tak pernah melanggar pantangan itu, karena penduduk kampung takut dengan kejadian yang akan menimpa orang yang melanggar pantangan tersebut. Pantangan itu sudah berlaku turun-temurun di kampung tersebut.
Salah satu dari penduduk menyarankan. Lebih baik pengantin baru itu menemui dukun. Dukun yang tinggal di ujung kanan desa. Dukun itu terkenal sakti. Dia akan tahu ke mana orang itu pergi. Di samping itu, dukun itu terkenal sakti mengobati penyakit orang. Penyakit apa saja dapat disembuhkan oleh dukun itu. Jadi, kesaktian dukun itu tak pernah diragukan lagi. Bisa jadi, dukun itu tahu ke mana istri pengantin baru itu berada?
”Boleh juga. Saran yang baik sekali”, kata suami pengantin baru itu menyanggupi.
”Apapun akan saya lakukan asalkan istri saya dapat ditemukan dan kembali lagi bersama saya. Mari kita pergi ke sana,” tegaskannya sembari mengajak penduduk kampung agar secepat menemui dukun itu, karena dia tak sabar mengetahui di mana istrinya berada.
”Mari,” sahut penduduk kampung penuh semangat.
Beramai-ramai penduduk kampung dan suami pengantin baru menemui dukun itu. Dukun itu terlihat santai di beranda rumahnya. Dukun itu kaget mendapatkan penduduk kampung yang ramai datang ke rumahnya. Karena, tidak biasanya penduduk kampung datang ramai-ramai. Kalau ingin berobat, biasanya penduduk kampung datang sendiri saja. Apa yang ingin penduduk kampung lakukan pada saya? Apakah saya telah berbuat salah kepada penduduk kampung sehingga penduduk kampung datang ramai-ramai? Atau telah telah terjadi kejadian besar di kampung? Apakah penduduk kampung ingin minta pertolongan dari saya? Pertolongan apa ya?
Penduduk kampung semakin mendekat. Dukun itu semakin penasaran. Apa yang ingin dibuat penduduk kampung datang ramai-ramai ke rumahnya? Akhirnya yang dapat dilakukan dukun itu hanya berdiam diri. Sehingga tak terasa penduduk kampung telah berdiri di hadapannya. Dukun itu menyapa penduduk dengan ramah-tamah.
”Ada apa gerangan kalian datang ramai-ramai ke pondok saya ini?”
”Kami datang ke rumah datuk untuk mengantarkan orang ini. Dia kehilangan istrinya. Tolonglah datuk sudi membantunya,” kata salah satu penduduk kampung yang ikut dalam rombongan itu.
”Benarkah istrimu hilang?” tanya dukun itu pada suami pengantin baru.
”Betul, datuk. Istri saya hilang ketika saya pergi mengambil kayu bakar ke hutan. Istri saya hilang entah ke mana, saya tidak tahu. Untuk itulah, saya minta tolong dengan datuk,” jawab suami pengantin baru.
”Baiklah, saya akan membantumu. Mari kita ke rumahmu. Saya ingin memeriksa rumahmu untuk mengetahui penyebab istrimu hilang dan ke mana istrimu berada,” kata dukun itu kemudian.
”Silakan datuk,” jawab suami pengantin baru itu.
Dukun itu pun memimpin rombongan penduduk kampung menuju rumah suami pengantin baru. Rombongan itu tiba di sana ketika hari beranjak petang. Dukun itu mulai melihat isi rumah suami pengantin baru. Setelah dirasakan tak menemukan istri dari suami pengantin baru. Dukun itu ke luar dari rumah.
”Aku ingin bersemedi dulu. Kalian jangan usik ketenangan saya. Saya ingin meminta petunjuk kepada Yang Kuasa,” kata dukun itu.
Penduduk kampung menganggukkan kepala tanda menyetujui. Dukun itu duduk bersila mengarah ke arah sungai. Matanya terpejam. Tangannya menangkup. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Sesaat dukun itu diam dalam semedinya. Dalam semedinya, dia melihat bahwa istri dari suami pengantin baru berada di istana buaya. Setelah dirasakannya yakin penglihatan batinnya. Dukun itu mengakhiri semedinya. Dukun itu mulai mengatur napasnya dengan teratur, yang sempat kacau. Dia mulai membuka matanya.
Suami pengantin baru itu segera bertanya.
”Bagaimana datuk? Apakah istri saya masih hidup? Kalau masih hidup dia ada di mana?”
”Istrimu masih hidup, tapi dia berada jauh di alam lain,” jawab si Dukun sambil mengelap keringatnya yang keluar dari dahinya.
”Alam lain? Alam apa itu?”
”Alam yang telah terpisah dengan alam kita. Alam yang tak bisa dimasuki dengan peralatan apapun. Alam yang bisa hanya dimasuki dengan ilmu kesaktian tinggi.”
”Oh, begitu. Bisakah kita ke sana, Pak Dukun? Apapun persyaratannya saya akan penuhi. Asalkan kita bisa ke sana dan membawa istri saya kembali.”
”Bisa saja. Tapi, persyaratannya berat. Sanggupkah kamu melakukan itu?”
”Sanggup, Pak Dukun. Katakanlah apa persyaratannya? Saya siap memenuhi dan melakukannya.”
”Pertama, kita akan dapat ke sana berdua saja. Tapi, saat sampai di alam sana, saya tidak bisa berkata-kata, karena keterbatasan ilmu saya. Kedua, jika disuguhkan makanan dan minuman apapun di sana, jangan dimakan. Karena, makanan dan minuman di sana berbeda dengan makanan kita. Ketiga, jika kamu diberi hadiah oleh orang di sana setengah atau sebagian saja untuk pulang. Janganlah kamu menerima apa yang diberikannya dengan setengah atau sebagian saja dari hadiah itu. Tapi, pintalah hadiah itu secara keseluruhan. Itu saja persyaratannya. Kita akan ke sana besok sore. Pas petang serepat. Di tempat ini juga.”
”Baiklah, Pak Dukun. Saya siap melakukannya persyaratan yang Pak Dukun sampaikan,” kata suami pengantin baru itu menyanggupi.
***
Petang serepat telah menjelang. Penduduk Kampung Sungai ramai berkumpul dekat sebuah sungai. Sungai tempat hilangnya istri pengantin baru itu. Penduduk Kampung Sungai ingin melihat prosesi ritual yang dilakukan si dukun untuk mendapatkan istri pengantin baru itu. Penduduk Kampung Sungai juga mendoakan semoga istri pengantin baru itu dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Dukun dan suami pengantin baru itu terlihat sedang duduk bersila di tanah. Dukun itu berkata kepada suami pengantin baru itu.
”Kamu sudah siap? Jangan lupa nasihat saya itu,” kata dukun itu mengingatkan.
”Saya siap, pak. Nasihat bapak tidak akan saya lupa,” jawab suami pengantin baru.
”Kalau sudah siap. Mari kita lakukan perjalanan kita ini. Sekarang pejamkanlah matamu. Sebelum saya suruh buka, jangan dibuka matamu.”
”Baik, pak dukun.”
Dukun itu memejamkan matanya diikuti oleh suami pengantin baru itu. Penduduk Kampung Sungai memperhatikan mereka dengan melantunkan doa semoga yang mereka kerjakan berhasil. Dukun itu komat-kamit membaca mantera.
Kunci pusaka. Kuncinya ilmu. Kunci kekuatan yang maha kuasa. Kunci untuk membuka alam mayapada yang kasat mata. Terbukalah engkau dengan segera. Tujukan kami ke arah sana. Selamat untuk pulang kembali lagi ke tempat semula. Dengan tidak terluka raga. Utuh apa adanya. Berkat khasiat kunci pusaka. Kuncinya ilmu. Kunci kekuatan yang maha kuasa.
Selesai membaca mantera itu dukun dan suami pengantin baru itu berjalan ke sungai dengan mata terpejam. Kedua orang itu memasuki sungai dan segera menghilang ditelan air sungai. Penduduk Kampung Sungai merasa takjub memperhatikan kesaktian dukun itu.
* * *
Dukun dan suami pengantin baru itu sudah berada di Kerajaan Buaya. Kedua orang itu melihat penduduk Kerajaan Buaya seperti manusia biasa. Mereka disambut dengan baik oleh semua penduduk Kerajaan Buaya tersebut. Penduduk Kerajaan Buaya tak pernah mengusik kedua orang itu yang dianggap sebagai tamu. Bahkan penduduk Kerajaan Buaya melaporkan kepada rajanya bahwa ada tamu baru yang datang bertamu di kerajaan mereka. Tamu yang harus diperlakukan baik. Karena, baru sekali ini, kerajaan mereka didatangi oleh tamu. Sudah sepatutnyalah mereka memuliakan tamu. Itu prinsip kerajaan mereka menyambut tamu. Biar tamu mereka merasa senang dan puas.
Raja Buaya mengeluarkan titah. Dia menyuruh seorang pengawal kerajaannya untuk menjemput kedua orang itu untuk datang ke istana. Pengawal itu melaksanakan titah rajanya. Pengawal itu menjemput kedua orang itu untuk dibawa ke istana. Dengan senang hati, kedua orang itu mengikuti ajakan pengawal kerajaan untuk datang ke istana.
Setibanya di istana, kedua orang itu disambut baik dan dijamu makan-minum sepuas-puasnya. Sehingga kedua orang itu, merasa puas. Tapi, kedua orang itu tidak lupa dengan tujuan mereka datang kemari. Kedua orang itu mengutarakan keinginan mereka datang ke mari pada Raja Buaya. Raja Buaya dengan ramah menanggapi keinginan kedua orang itu.
”Saya tak melihat istri Anda. Jika sekiranya saya melihatnya akan saya berikan pada Anda. Tapi, saya hanya mempunyai hewan peliharaan saja. Kalau Anda ingin buktinya, kita boleh lihat. Mari kita lihat hewan peliharaan saya.”
”Bolehlah,” sahut suami pengantin baru itu sekaligus mewakili suara mengiyakan dukunnya yang berada di samping kanannya.
Kedua orang itu mengikuti langkah Raja Buaya menunjukkan hewan peliharaannya yang sudah duluan melangkah. Hewan peliharaan Raja Buaya banyak sekali. Kedua orang itu memuji Raja Buaya yang sangat produktif mengembangkan peternakan sehingga hasil peternakannya sangat banyak. Terakhir mereka melihat kandang kambing. Di kandang kambing ini, kedua orang itu melihat ada satu kambing yang melonjak kegirangan melihat mereka datang. Kambing itu sepertinya mengenal mereka. Dukun itu mengedipkan matanya kepada suami pengantin baru. Dukun itu menyuruh suami pengantin baru untuk meminta kambing yang melonjak kegirangan itu. Suami pengantin baru mengerti arti lirikan mata dukun itu kepadanya. Dia dengan ramah berujar.
”Mulia paduka raja, bolehkah saya meminta kambing ini untuk oleh-oleh kami bawa pulang sebagai tanda penghormatanmu memuliakan tamu.”
”Boleh. Tapi, apakah tidak terlalu berat kalau kamu membawanya satu ekor begini? Saya tawarkan satu hal, agar ringan membawanya pulang, kamu bawa saja sebagian daging kambing ini. Bagaimana dengan tawaran saya?” kata Raja Buaya dengan ramahnya.
Suami pengantin baru itu berpikir. Benar juga kata Raja Buaya. Lebih baik saya membawa sebagian saja daging kambing itu. Itukan ringan. Lupalah suami pengantin baru itu dengan nasihat dukunnya. Kalau diberikan setengah barang atau benda dari sana, jangan kamu terima. Tapi, mintalah semuanya. Mintalah yang utuh.
”Tawaran yang bagus sekali, mulia paduka raja. Kalau begitu, saya minta bagian tangannya saja. Karena, saya suka dengan daging tangan kambing,” kata suami pengantin baru menerima tawaran Raja Buaya.
Mendengar apa yang dikatakan suami pengantin baru itu, dukunnya memberikan isyarat lagi melalui gerakan tubuhnya. Tapi, isyarat tubuh dukun itu tak dipedulikan suami pengantin baru. Dukunnya menjadi kesal. Kesal yang hanya disimpannya dalam hati.
Kambing itu menjadi sendu mendengar pembicaraan itu. Dia bersedih hati. Kalau saja dia bisa berkata lantang. Dia akan berteriak kepada suaminya.
Suami saya, ini saya adalah istrimu yang hilang itu. Bawalah saya dari sini. Suami saya, mendengar apa yang kamu katakan kepada Raja Buaya. Saya menjadi sedih, karena saya harus mengalami kematian seperti ini. Kematian yang akan menyisakan luka. Luka padamu yang berupa penyesalan seumur hidup, karena tidak mau menuruti kemauan dukunmu, yang saya lihat dari gerakan tubuhnya memberikan isyarat yang benar bahwa saya adalah istrimu. Suami saya, tangan kambing yang kamu lihat itu sebenarnya adalah tangan saya. Yang akan terlihat jelas kalau kamu sudah sampai ke Kampung Sungai. Terakhir kali, saya hanya dapat berucap maafkan kesalahan saya yang tidak mau mendengarkan nasihatmu.
Kambing yang melonjak-lonjak kegirangan itu kemudian dipotong. Tangan kambing itu diberikan kepada suami pengantin baru. Tangan kambing itu dibawalah suami pengantin baru itu dengan bangga. Dia mengucapkan terima kasih kepada Raja Buaya yang telah memberinya tangan kambing yang sangat disukainya. Raja Buaya tersenyum. Raja Buaya mengajak kedua orang itu kembali lagi ke istana.
Setibanya di istana, kedua orang itu dijamu lagi sepuas-puasnya oleh Raja Buaya. Suami pengantin baru itu menikmati jamuan itu dengan gembira, hanya dukunnya yang tidak berselera. Dia bersedih, karena gagal membawa kembali istri pengantin baru dengan utuhnya. Kesedihan dukunnya tak pernah dihiraukan dan terbaca oleh suami pengantin baru itu. Setelah menikmati jamuan itu sepuas-puasnya. Kedua orang itu pamit diri untuk pulang ke tempat asalnya, Kampung Sungai. Karena, waktu perjalanan mereka sudah berakhir. Kalau ditambah lagi waktunya, bisa jadi membuat kefatalan pada diri mereka. Mereka bisa saja terbunuh, karena keterbatasan dari ilmu dukun itu, yang hanya mampu menangkal kehebatan ilmu Kerajaan Buaya sampai waktu itu saja. Raja Buaya dengan tersenyum melepaskan kepergian kedua orang itu. Raja Buaya menyuruh pengawalnya untuk mengantar kedua orang itu di gerbang perbatasan. Pengawal itu melaksanakan titah rajanya. Pengawal itu mengantarkan kedua orang itu di gerbang perbatasan. Di gerbang perbatasan, kedua orang itu melambaikan tangannya kepada pengawal itu sebagai tanda perpisahan. Kedua orang itu segera melewati perbatasan. Setelah melewati perbatasan itu, kedua orang itu keluar dari air sungai. Kedua orang itu terdampar di pantai sungai Kampung Sungai.
”Alhamdulillah, kita selamat. Kita sudah kembali utuh lagi. Tapi, saya menyesal dengan sikapmu yang telah melanggar nasihat saya sehingga risikonya kamu tanggung sendiri. Coba kamu mau mendengar isyarat yang saya berikan. Maka, penyesalanmu tidak akan terjadi hari ini. Tangan kambing yang kamu lihat di alam sana, sebenarnya adalah tangan istrimu. Kambing itu sebenarnya adalah istrimu. Sekarang, lihat apa yang telah kamu lakukan itu. Lihatlah oleh-oleh yang kamu bawa itu. Kalau kamu ingin pembuktiannya. Lihatlah segera!” kata dukun itu sambil kesal dan marah kepada suami pengantin baru itu.
Suami pengantin baru itu membuka oleh-oleh yang dibawanya. Waktu dia melihat oleh-oleh itu, dia pun menjerit histeris. Dia menangis sejadi-jadinya. Benar apa yang dikatakan dukun itu bahwa tangan kambing yang dibawanya di alam sana adalah tangan istri tercintanya. Di tangan istrinya itu masih melekat indah cincin perkawinan mereka.
Sejak kejadian itu. Dari dulu sampai sekarang, penduduk Kampung Sungai yang sekarang lebih dikenal dengan Desa Durian Sebatang tidak berani melanggar pantangan itu bahwa pengantin baru tidak boleh mandi ke sungai selama tujuh hari perkawinannya. Kalau hal itu dilanggar, pengantin baru itu bisa diambil buaya atau kesurupan buaya. (*)
*******
Catatan:
* Penutur cerita: Raden Koman Sahar
* Cerita rakyat ini berasal dari Desa Durian Sebatang, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat

0 komentar: