Senin, 19 Oktober 2009

Asal Mula Nyamuk Menjadi Kecil

Ada sebuah kerajaan yang dipimpin seorang raja yang bergelar Raja Kenyanye. Raja Kenyanye ini sangat buruk tabiatnya, kejam, dan sadis. Di kerajaannya hidup seekor nyamuk yang besarnya seperti ayam. Nyamuk itu kerjanya menghisap darah manusia. Nyamuk itu hidupnya begitu makmur. Karena, setiap saat Raja Kenyanye selalu menyediakan makanan untuknya. Makanan yang berupa persembahan manusia yang direlakan untuk dihisap darahnya oleh nyamuk itu.
Nyamuk itu akan marah kalau Raja Kenyanye tidak menyediakan manusia untuk dihisapnya. Nyamuk itu selalu mengancam Raja Kenyanye, bila dia terlambat menyediakan manusia untuk dihisapnya apalagi kalau Raja Kenyanye tidak dapat menyediakan manusia untuk dihisapnya, maka Raja Kenyanyelah yang akan dihisap darahnya. Oleh karena itu, Raja Kenyanye selalu mengorbankan rakyatnya untuk makanan persembahan si nyamuk daripada dirinya yang dihisap oleh si nyamuk. Sehingga banyak sekali rakyatnya menjadi tumbal keganasan nyamuk itu. Rakyatnya yang ditumbalkan adalan anak-anak kumang di kerajaan itu.
Suatu saat seorang anak kumang akan ditumbalkan Raja Kenyanye untuk makanan nyamuk itu. Anak kumang itu dikurungnya di sebuah ruang yang terkunci. Ruang terkunci yang merupakan ruang khusus yang dipersediakan Raja Kenyanye untuk memberikan setiap persembahannya kepada si nyamuk. Raja Kenyanye tidak tahu, bahwa anak kumang yang akan dikorbankan ini adalah anak kumang yang pintar sekali. Anak kumang itu sudah mendengar tentang keganasan nyamuk itu. Anak kumang itu memeras otaknya untuk berpikir agar dia dapat selamat dari hisapan nyamuk itu. Sekian lama berpikir. Anak kumang itu menemukan akal untuk menyelamatkan dirinya dari santapan si nyamuk dan cara ini sekaligus untuk membunuh si nyamuk.
Sebelum dia dimasukkan ke ruang persembahan untuk si nyamuk. Anak kumang itu meminta pada Raja Kenyanye untuk memberikan waktu sebentar saja. Anak kumang itu mau membakar sebuah pohon keladi. Raja Kenyanye memenuhi keinginan anak kumang itu untuk terakhir kalinya. Setelah sebuah pohon keladi itu selesai dibakar anak kumang itu, maka anak kumang itu segera dimasukkan ke dalam ruangan khusus itu. Dalam ruangan khusus itu anak kumang melaksanakan caranya. Pohon keladi yang dibakarnya yang masih menyisakan api disebarkannya di sekeliling ruangan itu, tempat dia dikurung. Selanjutnya dia tinggal menanti kedatangan nyamuk itu yang akan menghisap darahnya sampai mati.
Si nyamuk yang ditunggu menampakkan dirinya. Nyamuk itu begitu riang mendapati seorang anak yang darahnya begitu segar untuk dihisapnya. Tanpa pikir panjang lagi dia mulai menyambar ke arah anak itu. Tapi, dia terhalang oleh kepulan asap pohon keladi yang terbakar yang disebarkan anak kumang itu. Matanya pedas dan kepalanya pusing. Dia memulih kekuatannya sebentar. Selanjutnya dia menumpahkan kemarahannya karena keinginannya terhalang. Dia segera menerobos asap itu dengan segenap kekuatannya. Dia kecele. Sebab asap pohon keladi yang terbakar itu telah berubah menjadi api yang menyala. Bukannya dia dapat menyambar anak kumang itu untuk dihisap darahnya malahan tubuhnya sendiri yang disambar api dari asap pohon keladi yang terbakar. Dia menjerit dan meraung karena seluruh tubuhnya terbakar. Dia pun mati mengenaskan terbakar api dari asap pohon keladi. Tapi, sebelum nyawanya lepas dari jiwanya. Nyamuk itu masih sempat bersumpah di depan anak kumang itu.
”Aku memang mati hari ini. Tapi, ke depannya aku akan hidup. Aku akan tetap menghisap darah kalian. Aku akan sekali hidup dan sekali mati dalam waktu tujuh hari. Tapi, tubuhku tidaklah sebesar sekarang, tubuhku akan menjadi kecil. Karena, kamu telah mengalahkanku hari ini. ” Setelah mengucapkan sumpah itu. Nyamuk itu mati terkapar.
”Terserah kamu. Kami tidak peduli lagi kalau kamu hidup nantinya. Tapi, kamu tidak bisa lagi membunuh kami dengan hisapanmu. Karena, tubuhmu sudah kecil.”
Anak kumang itu menjadi girang. Dia telah berhasil membasmi nyamuk yang merugikan tersebut. Raja Kenyanye juga senang karena dia terlepas dari kungkungan kekejaman nyamuk itu. Untuk memeriahkan kemenangan anak kumang itu diadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Mengundang semua penduduk kerajaan yang masih hidup. Sejak itulah, nyamuk berbentuk kecil seperti sekarang ini kita lihat.
*******
Catatan:
* Penutur cerita: Raden Koman Sahar
* Cerita rakyat ini berasal dari Desa Durian Sebatang, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

0 komentar: