Selasa, 13 Oktober 2009

Batu Adol

Sepasang suami istri dan anaknya tinggal di sebuah pedukuhan 1) di Dawak 2). Suaminya bernama Adol dan istrinya bernama Jumiah. Adol dan Jumiah mempunyai seorang anak yang bernama Ujang. Setiap hari sepasang suami istri itu kerjanya mengolah lakonya 3) dengan ditanam padi, sedangkan anaknya asyik bermain-main di sekitar pedukuhan. Sehingga tidak terasa lako yang mereka olah menghasilkan padi yang banyak. Dari hasil padi itu separuhnya mereka jual kepada penduduk yang berada di sekitar pedukuhannya dan separuhnya lagi mereka gunakan untuk kehidupan mereka. Mereka menjalani kehidupan itu seperti air mengalir. Tiada mengeluh dan tiada berkeluh kesah. Mereka menikmati kehidupan itu dengan tetap selalu menyukurinya.
Hari itu istri Adol balik 4) dari lako. Waktu itu tengah hari. Istri Adol kepanasan. Untuk menghilangkan kepanasannya, Istri Adol menuju tempat pemandian yang tidak berapa jauh dari tempat mereka belako. Tempat pemandian itu berupa legukan air seperti kolam. Yang air legukan itu berasal dari air pancuran yang mengalir dari aluran air hamparan batu yang bersumber dari ketinggian (mungguk) di atas legukan tersebut.
Rupanya, legukan yang dijadikan tempat pemandian itu berair jernih dan banyak terdapat udang. Kedalaman legukan itu kira-kira satu meteran. Tak menunggu lebih lama lagi, setelah melihat tempat pemandian itu istri Adol segera menceburkan diri untuk mandi. Istri Adol mandi di legukan itu tanpa menggunakan busana alias telanjang bulat.
Dia terlihat asyik mandi dan menikmati kesejukan air legukan itu. Tidak lupa juga dia membersihkan tubuhnya dengan mengambil batu yang ada di legukan itu lalu digosok-gosokannya ke tubuhnya. Sehingga tubuhnya menjadi bersih dari kotoran tanah akibat gosokan batu legukan itu. Dia tidak menyadari bahwa ada seekor udang mendekati dirinya. Dia terus saja asyik menikmati kesejukan air legukan itu. Setelah dekat, udang itu menjepit susunya. Dia menjerit kesakitan. Karena, jepitan udang di susunya terus mengencang. Dia mencoba melepaskan jepitan udang itu dari susunya sambil menyumpah.
”Udang kurang ajar. Udang terlaknat. Bisa-bisanya menjepit susu saya.”
Tapi, usaha yang lakukannya tidak berhasil. Dia tidak pantang menyerah. Dia terus melepaskan jepitan udang itu dari susunya dengan seluruh daya dan usahanya. Seluruh daya dan usaha yang dilakukan tetap sia-sia belaka. Bukannya jepitan udang lepas dari susunya malahan jepitan udang semakin kuat. Membuat kekuatan tubuhnya melemas. Dia terduduk lemas sembari menahan kesakitan jepitan udang di susunya. Dalam keadaan lemas dan kesakitan, dia mengumpulkan sisa-sisa tenaga tubuhnya. Dia berhasil melakukannya. Dengan kekuatan sisa-sisa tenaganya, dia melangkahkan kakinya menuju pedukuhan. Sambil berjalan dia berpikir. Mudah-mudahan saja suaminya dapat menolongnya melepaskan jepitan udang dari susunya. Dia sampai ke pedukuhannya. Setibanya di pedukuhannya. Dia langsung berteriak lantang.
”Suamiku tolong. Tolong aku. Tolong lepaskan jepitan udang ini dari susuku.”
Mendengar teriakan istrinya, suaminya keluar. Anaknya juga berhenti bermain mendengar teriakan umaknya 5).
”Ada apa istriku? Pertolongan apa yang musti kuberikan,” kata suaminya.
”Bang, coba abang lihat jepitan udang di susuku ini. Tolonglah abang lepaskan jepitan udang itu. Jepitan udang itu membuat aku kesakitan. Tolonglah, Bang! Cepat!” jawab istrinya sambil menunjukkan susunya yang dijepit udang.
Suaminya segera melihat apa yang ditunjukkan istrinya. Suaminya bukan membantu istrinya melepaskan jepitan udang itu dari susu istrinya. Malahan suaminya mengetawakan kelucuan susu istrinya yang dijepit udang. Karena, selama ini jarang sekali dia melihat ada susu perempuan sampai dijepit udang. Paling-paling yang dijepit udang adalah kaki perempuan. Hari ini dia melihat bahwa susu perempuan dijepit udang. Pemandangan beginikan lucu sekali? Rugi untuk dilewatkan.
”Aduh..... Bang, jangan ketawa terus. Cepatlah lepaskan jepitan udang dari susuku.” Istrinya sedikit emosi karena diketawakan suaminya. Tapi, suaminya tetap saja tertawa. Dia tidak mempedulikan apa yang diminta istrinya. Suaminya tetap ketawa sampai berair mata saking lucunya melihat susu istrinya dijepit udang. Ujang, anaknya, juga ketawa melihat susu umaknya dijepit udang. Sehingga riuhlah suara ketawa itu. Membuat istrinya sangat marah.
”Kalian keterlaluan......... Tega! Aduh..........” Pekik istrinya. Karena, jepitan udang di susunya semakin mengencang.
Selesai istrinya memekik itu. Entah mengapa. Tiba-tiba angin ribut menderu-deru. Guntur menggelegak. Kilat sambar menyambar. Sepertinya alam berduka melihat ketidakpedulian suami terhadap istrinya yang ditimpa kesakitan. Ketidakmauan anak menolong meringankan penderitan umaknya. Alam kasihan melihat nasib mereka. Sehingga alam memutuskan untuk mengakhiri kehidupan mereka. Alam pun memerintahkan petir untuk melaksanakan pengakhiran itu. Petir beraksi. Petir segera memanah si istri, si suami dan anaknya. Mereka dijadikan petir menjadi batu. Istrinya menjadi batu dalam keadaan sedang naik tangga rumah. Suaminya menjadi batu saat sedang berdiri di rumah menertawakan istrinya. Anaknya dijadikan batu dalam keadaan sedang bermain. Akhirnya, batu tersebut dinamakan orang-orang Batu Adol.
Daerah di mana Batu Adol itu berada tetap dijadikan orang-orang daerah belako. Orang-orang yang belako di dekat Batu Adol masih sering mendengarkan suara seperti menangis, sepertinya suara Istri Adol yang merasa kesakitan, karena susunya dijepit udang. Selain itu, orang-orang yang berada di sekitar daerah Batu Adol tidak berani menertawakan kelucuan seseorang secara berlebih-lebihan, takutnya mereka akan dipanah petir menjadi batu, seperti Adol dan keluarganya.

* * * * * * *
Catatan:
* 1) pedukuhan : tempat tinggal yang ada di sebuah ladang atau sawah
* 2) Dawak : daerah peladangan atau persawahan yang berupa hutan rimba di daerah Dawak dekat Selantak
* 3) Lako : Sawah; ladang
* 4) balik : Pulang
* 5) Umak : Ibu
* Penutur cerita : Muriyanti
* Cerita ini berasal dari daerah Dawak dekat Selantak (Simpang Dua), Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

0 komentar: