Senin, 19 Oktober 2009

Kajian Pragmatik Terhadap Cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya

Karya sastra sebagaimana setiap karya sastra seni lainnya merupakan suatu kebulatan yang utuh, khas, dan berdiri sendiri. Suatu dunia keindahan dalam wujud bahasa yang dari dirinya sendiri yang tetap dipenuhi dengan kehidupan dan realita. Tetapi juga merupakan satu fenomena dan gejala sejarah yakni sebagai hasil karya seorang seniman tertentu, dari aliran tertentu, zaman tertentu, dan kebudayaan tertentu pula. Yang hasil karya itu tidak lepas dari rangkaian sejarah. Satu pengejawantahan gaya yang juga dimiliki oleh karya-karya lain termasuk aliran, zaman, dan kebudayaan yang sama dengan karya tersebut. Akhirnya, karya sastra sebagaimana juga setiap karya seni lain berbeda-beda tingkatan pencapaiannya sebagai karya yang bermutu, begitu pula tentang kebenaran dan arti kepentingannya. Tegasnya dalam hal ini kesempurnaannya punya ukuran tersendiri yang kebenaran dan kepalsuan serta keagungan atau keremehannya.
Cerpen adalah salah satu karya sastra yang di dalam cerpen itu pengarang dapat mengungkapkan berbagai ide atau gagasan tentang kehidupan yang dapat memperkaya penghayatan tentang kehidupan. Dari karya sastra cerpen yang berjudul ”Anak” karya Putu Wijaya penulis mencoba untuk mengkajinya dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Pendekatan pragmatik yang berfokus atau berorientasi pada pencapaian tujuan, kesenangan, emosi, dan reaksi pembaca mengenai cerpen tersebut.
Cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya menceritakan tentang kehidupan dunia anak. Kehidupan dunia anak yang dengan berbagai karakternya tergambarkan dalam cerpen ini. Karakter-karakter anak yang tergambar dalam cerpen ini dapat kita lihat, seperti sejumlah anak sekolah yang berusaha membuka pintu kandang kebun binatang yang mengakibatkan seorang singa menerkam macan tutul sampai mati, sejumlah anak yang berusaha memasuki sebuah ruangan rahasia, mereka menekan salah satu tombol yang mengakibatkan meluncurnya rudal-rudal dan terjadilah perang nuklir, seorang anak berani memperkosa seorang gadis kecil dan mencabik-cabiknya, seorang anak yang bingung dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi, dan sejumlah anak yang penurut hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya.
Dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya itu merupakan gambaran dunia anak yang kurang adanya bimbingan dari orang tua dan lingkungannya. Sehingga dengan perasaan tidak berdosa atau bersalah, mereka melakukan tindakan yang tidak seharusnya mereka lakukan. Hal ini tergambar pada kutipan peristiwa dalam cerpen itu sebagai berikut: sejumlah anak sekolah yang berusaha membuka pintu kandang kebun binatang yang mengakibatkan seekor singa menerkam macan tutul sampai mati.
Dunia anak juga adalah dunia yang suka ingin tahu tentang segala hal. Jika seorang anak melihat sesuatu, mereka akan penasaran dan berusaha untuk mencari tahu tentang sesuatu itu tanpa memikirkan baik-buruk yang akan terjadi dari sesuatu yang akan diketahuinya itu. Hal ini tergambarkan dalam kutipan cerpen berikut: sejumlah anak yang berusaha memasuki sebuah ruangan rahasia, mereka menekan salah satu tombol yang ada dan mengakibatkan meluncurlah rudal-rudal dan terjadilah perang nuklir.
Selain itu, seorang anak yang belajar sesuatu, misalnya menonton televisi yang bukan menampilkan kehidupan anak apalagi tanpa adanya bimbingan dari orang tuanya maka hal tersebut akan ditiru oleh anak itu. Karena, pada dasarnya dunia anak adalah dunia untuk anak menirukan sesuatu yang dia lihat dan dia dengar. Dari peniruan itu akan berakibat fatal pada dirinya sendiri. Hal ini tergambarkan pada kutipan cerpen berikut: seorang anak berani memperkosa seorang gadis kecil dan mencabik-cabiknya.
Setiap orang mempunyai watak, karakter serta sifat-sifat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga seorang anak, mereka mempunyai sifat serta sikap yang berbeda-beda pula. Ada yang mempunyai sikap membantah. Ada yang mempunyai sikap cerdik. Ada yang mempunyai sikap lambat dalam berpikir dan lain sebagainya. Hal ini tergambarkan dalam kutipan cerpen berikut: seorang anak yang bingung dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Selain itu, ada sebagian anak yang memang malas untuk melakukan sesuatu, artinya tidak kreatif. Mereka menuruti apa yang menjadi kehendak orang tua dan menerima apa adanya. Walaupun kehendak orang tua salah sekalipun. Hal ini tergambarkan pada kutipan cerpen berikut: sejumlah anak yang penurut hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya.
Dari cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya ini juga mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan cerpen ini adalah peristiwa-peristiwa di dalam cerpen ini mengandung nilai-nilai pendidikan yang menjadi perhatian setiap pembaca, khususnya pembaca tingkatan orang tua. Nilai-nilai pendidikan yang mengajarkan pada orang tua untuk membimbing anaknya yang merupakan sebuah kewajiban orang tua untuk menjadikan anaknya menjadikan anaknya orang baik dan membentuk sikap anaknya agar dapat terarah tanpa membatasi kreativitas anaknya. Orang tua janganlah terlalu merendahkan atau meremehkan pendapat anaknya. Sebaiknya orang tua memberikan kesempatan kepada anaknya utnuk mengungkapkan argumennya. Orang tua haruslah memberikan ilmu pengetahuan atau pengajaran kepada anaknya dengan diiringi suatu sikap mempraktikannya dulu dan memberikan suatu keterampilan hidup tertentu, yang dapat diterapkan anak dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, kelebihan cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya adalah ada sebagian kata-kata yang digunakan pengarang dapat menimbulkan emosi pembaca, seperti:
Mengapa anak-anak sekarang menjadi buas? Di zaman kami anak-anak tidak sebejat ini. Kalian sudah terlalu liar sekarang?
Perang nuklir pun pecah dan akhirnya dunia berantakan seratus kali lebih runyam dari bisa dibayangkan oleh film ”The Day After”.
Dia sudah melalap film-film Indonesia yang panas.
Seorang anak memperkosa dan mencabik-cabik mayat seorang gadis kecil.
Kekurangan dari cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya ini antara lain: isi yang ditampilkan oleh cerpen ini cenderung untuk dibaca oleh pembaca tingkatan orang tua. Karena, dalam cerpen ini lebih mengarahkan pada suatu akibat tidak dibimbingnya seorang anak oleh orang tuanya. Sehingga seorang anak leluasa melakukan perbuatan sesuai kehendak hatinya.
Selain itu, bahasa-bahasa yang digunakan pengarang dalam cerpen ini, sebagian ada yang sulit dimengerti oleh pembaca, karena memakai bahasa perkiasan yang mendalam maknanya. Hal ini dapat terlihat dalam kutipan cerpen berikut:
Tak peduli teguran para sepuh.
Membetot sasaran yang sudah direncanakan dengan amat mengerikan.
Dia sudah melalap film-film Indonesia yang panas.
Kejahatan sudah mengganas dan merambah pada anak-anak ingusan.
Itulah kajian pragmatik dari cerpen ”Anak” karya Putu Wijaya. Semoga kajian ini dapat menambah ilmu pengetahuan kita dalam mengkaji sebuah karya sasta apapun, bisa cerpen, novel, dan lain sebagainya dengan pendekatan pragmatik. Semoga.
~&&&~