Senin, 19 Oktober 2009

Lubang Nabo

Ada sepasang manusia yang menikah muda. Pengantin baru. Mereka berbahagia sekali menikmati hari pengantin mereka. Suatu saat istrinya berkeinginan mandi ke air batang Banjur. Dia minta izin kepada suaminya.
”Bang, adik ingin mandi ke air batang Banjur. Sebentar saja. Bolehkan?”
”Bolehlah. Aku temani ya. Biar mandinya seru,” kata suaminya memberi izin.
”Tidak usahlah, Bang. Biar adik mandi sendiri. Bang, adik pergi dulu.” Istrinya pamit pada suaminya.
”Ya, dik,” jawab suaminya.
Istrinya segera berjalan menuju air batang Banjur. Di air batang Banjur, dia mandi sepuas-puasnya. Asyik-asyiknya mandi. Dia melihat ada mahkota yang berwarna merah, hanyut di air batang Banjur. Kehadiran mahkota itu menarik perhatiannya. Matanya tak melepas memandang mahkota itu. Dia ingin memiliki mahkota itu. Dia menunggu mahkota itu sampai di dekatnya yang akan dihanyutkan arus air batang Banjur. Pelan-pelan mahkota itu mendekat ke arahnya. Tangannya dengan sigap menggapai mahkota itu. Tapi, dia terkejut sangat. Ternyata mahkota itu bukanlah mahkota tetapi kepala Nabo. Nabo sungguh girang mendapatkan manusia, karena sudah lama dia tidak pernah mendapatkan manusia. Ini adalah kesempatan emasnya untuk mendapatkan manusia. Nabo bergerak cepat. Nabo menangkap perempuan itu dengan paksa. Perempuan itu berontak dan berteriak minta tolong. Tapi, tidak ada yang mendengarnya. Karena, suasana saat itu dalam keadaan sunyi. Jadi, suara minta tolong perempuan itu hilang ditelan angin dan suasana yang sunyi. Perempuan itu tetap berontak sekuat tenaganya. Tapi, tenaganya tak sebanding dengan tenaga Nabo. Tenaga Nabo yang begitu kuat dan perkasa. Akhirnya, dia harus rela dibawa Nabo ke lubangnya. Dia disekap Nabo di lubangnya.
Di rumahnya. Suaminya mulai gelisah. Karena, istrinya lama sekali kembali. Padahal tadi istrinya hanya bilang sebentar saja mandinya. Sekarang mengapa jadi lama. Istrinya malah tidak kembali ke rumahnya. Suaminya mulai tidak menenang. Perasaan was-was mulai menghantuinya. Sehingga suaminya memutuskan untuk menemui istrinya yang katanya mandi ke air batang Banjur. Sampai di air batang Banjur, suaminya tidak menemukan istrinya mandi. Kemana lagi dia? Suaminya mencari istrinya di semua daerah yang berada dekat air batang Banjur. Tapi, suaminya tidak menemukan istrinya.
Jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada istriku. Lebih baik aku tanyakan pada dukun. Ke mana istriku berada? Semoga saja dukun itu mengetahui keberadaan istriku lewat kesaktiannya yang tidak pernah diragukan lagi.
Suaminya pun menuju ke rumah dukun. Saat dukun itu dalam keadaan bersantai di depan selasar rumahnya. Dukun itu menanyakan keperluan apa pada orang yang mendatanginya. Orang yang datang segera mengutarakan keperluannya. Dukun itu manggut-manggut. Kemudian dukun bersila panggung. Tangan kanannya menempel lurus di paha kanan, sama seperti tangan kirinya. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Dukun itu sedang melakukan tapa untuk mengetahui di mana istri orang itu berada melalui ilmu kesaktiannya. Dukun itu melihat bahwa istri orang itu berada di air batang Banjur. Setelah mendapatkan petunjuk itu, dukun itu menghentikan tapanya. Dukun itu pun memberitahukan kepada orang itu bahwa istrinya ada di air batang Banjur kepada dukun. Orang itu kaget mendapatkan istrinya berada di air batang Banjur.
”Pak dukun, bagaimana caranya kita mendapatkan istriku? Apakah dia masih hidup?” tanya orang itu.
”Caranya kita harus menyelam dan mengambil istrimu. Dia masih hidup atau sudah mati, aku tidak tahu. Kita berdoa saja pada Tuhan, semoga saja istrimu masih hidup,” jawab dukun itu. ”Lebih baik itu menyelam ke air batang Banjur, kita minta orang kampung sini yang pandai menyelam untuk melakukannya.” Dukun itu memberikan usulannya. Orang itu menyetujui usulan yang disampaikan dukun itu. Mereka segera mencari orang kampung yang pandai menyelam. Didapatkanlah tiga orang yang pandai menyelam. Penyelaman pun dilakukan oleh tiga penyelam disaksikan orang itu, dukun, dan orang kampung yang juga tertarik dengan kejadian itu. Karena, selama ini belum pernah terjadi seseorang disembunyikan binatang di air batang Banjur. Mereka ingin tahu binatang apa yang menyembunyikan istri orang itu. Buaya, ular atau ada binatang yang lain.
Di kedalaman air batang Banjur, ketiga penyelam itu menemukan sebuah lubang. Lubang yang memanjang. Lubang itu gelap. Ketiga penyelam itu menemukan hasil selamannya kepada orang yang ada di permukaan air batang Banjur. Orang-orang hanya terlongo mendengarkan kata.
”Ini pasti lubang Nabo,” kata dukun itu.
”Kalau memang itu lubang Nabo. Kita harus segera menggali secepatnya. Jangan tunggu lambat lagi. Karena, kalau kita terlambat bisa-bisa kita akan menyesal kemudian,” kata salah satu warga desa.
”Betul katanya. Mari kita lakukan secepatnya,” sahut dukun itu.
Ramai-ramai warga desa menggali lubang itu. Cukup dalam juga. Sehingga mereka menemukan lubang lagi yang bercabang tiga. Mereka heran, tapi hanya sebentar. Selanjutnya mereka tidak mempedulikan keanehan itu. Lubang yang bercabang itu mereka gali terus sehingga mereka menemukan istri pengantin baru tersebut yang sudah terbujur kaku. Tapi, mereka tidak menemukan Nabo yang menyekapnya. Mungkin saja Nabonya sudah melarikan diri sebelumnya. Karena, kalau dia bertahan di dalam lubangnya bersama istri pengantin baru itu bisa dipastikan dia akan dibunuh warga desa yang menemukannya nanti. Lebih baik dia melarikan diri tapi selamat dari kematian.
Istri pengantin baru yang mereka temukan di lubang Nabo itu mereka letakkan di hadapan si dukun. Warga desa meminta pada si dukun untuk melihat dengan ilmu kesaktiannya, apakah istri dari pengantin baru itu masih hidup atau sudah tidak bernyawa lagi?
Dukun itu segera mengerahkan ilmu kesaktiannya. Lewat ilmu kesaktiannya, dukun itu mendapatkan petunjuk dari Tuhan bahwa istri dari pengantin baru itu sudah tidak bernyawa lagi. Dia tidak bernyawa lagi, karena semangatnya diambil oleh Nabo. Dukun itu segera mengatakan pada semua warga desa bahwa istri dari pengantin baru yang ditemukan di lubang Nabo sudah tidak bernyawa lagi. Mendengar istrinya meninggal dunia, suaminya menangis dan meraung sekeras-kerasnya. Seakan-akan suaminya tidak merelakan kepergian istrinya. Karena, terlalu cepat istrinya meninggalkannya untuk pergi selama-lamanya. Padahal baru sebentar rasanya, dia bersama istri tercintanya menikmati madu manis pernikahannya.
* * * * * * *
Catatan:
* Nabo : naga
* Cerita ini berasal dari daerah air batang Banjur (Simpang Dua), Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat dan dituturkan oleh penutur lokal, yaitu Muriyanti.

0 komentar: