Jumat, 16 April 2010

Joget Tempel

Daerah itu begitu bising. Bisingnya suara angin yang ribut. Mendendangkan musik yang menyentak, mengeras, dan mengejang. Di sana banyak tumbuh Keladi Birah yang tampangnya entah didatangkan darimana. Tak diketahui jelas asal-usulnya. Di daerah itu, Keladi Birah tumbuh dengan suburnya. Karena tanah tersebut cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan Keladi Birah. Di daerah itu, nutrisi kehidupan yang diperlukan Keladi Birah terpenuhi. Di daerah itu, kehidupan Keladi Birah benar-benar terjamin. Di daerah itu, Keladi Birah betul-betul menikmati kehidupannya.
Angin yang bersenandung menyingkap batang tubuh Keladi Birah sehingga nyaris telanjang. Semi transparan. Mengundang kehadiran Cekue-Cekue yang menghuni pohon-pohon kelapa yang tak jauh tumbuh di daerah itu. Cekue-Cekue mabuk jiwa melihat tarian dan goyangan Keladi Birah yang membangkitkan semangat adrenalinnya. Cekue-Cekue pun mendatangi Keladi Birah dengan gerungan napasnya yang membara untuk ikut menari dan bergoyang bersama Keladi Birah. Mengikuti irama angin dan menikmati warna-warni bintang yang berkerlap-kerlip. Tak pernah hilang menyinari daerah tersebut. Hanya rembulan tak pernah bersinar di daerah ini. Karena sinar rembulan yang dipancarkan di daerah itu dihalangi tabir kegelapan yang mengandung daya magis kuat sehingga sinar rembulan tak pernah menyentuh daerah itu. Sinar rembulan selalu amblas kalau menyinari daerah itu. Daerah itu sepertinya memiliki tabir penangkal sinar rembulan.
Setiap malam daerah itu selalu ramai. Ramai dengan pesta irama angin yang keras dan mengejang. Kerlip-kerlip bintang yang berwarna-warni. Pancaran mobil metalik yang selalu memancarkan cahayanya yang berwarna-warni-merah, kuning, ungu, dan lain sebagainya yang terus berganti setiap saat, seperti warna-warni kerlip-kerlip lampu disko. Pesta itu semakin semarak karena ditimpali desahan suara Cekue-Cekue yang terambung-ambung perasaannya sampai langit ketujuh karena beradu goyangan dengan Keladi Birah.
Cekue-Cekue semakin santer menggoyangkan kepalanya dan meliukan tubuhnya mendekati Keladi Birah yang bergoyang menimbulkan sensasi. Goyangan Cekue-Cekue dan Keladi Birah semakin memanas. Sesekali Cekue-Cekue yang sudah mabuk goyangan menjulurkan lidahnya menjilati batang tubuh Keladi Birah yang terus asyik dalam goyangan. Keladi Birah keenakan saja diperlakukan seperti itu, karena permainan begitulah yang diinginkannya. Permainan mereka itu sebenarnya kalau kita nilai sangat menjijikkan dan memuakkan. Karena, permainan mereka itu telah menjatuhkan martabat baik penduduk daerah tersebut, yang saat ini telah terlena dengan permainan yang mereka tampilkan. Penduduk daerah tersebut tidak sadar bahwa sebenarnya permainan dalam pesta yang mereka tampilkan itu adalah permainan yang mengenakkan sebentar, tetapi menghancurkan kehidupan dengan lama sekali. Berkarat. Penduduk daerah itu sebelumnya pernah diingatkan Ilalang yang memang tokoh pintar yang ada di daerah tersebut, agar penduduk daerahnya tidak larut dalam pesta yang tak beradab itu. Tapi, perkataan Ilalang tersebut tak pernah digubris. Malahan Ilalang mereka marahi beramai-ramai karena telah melarang dan mengacaukan kesenangan mereka. Semakin hari semakin menggila. Semerawut.
* * *
Pesta di hari ketujuh Keladi Birah yang beradu goyangan bersama Cekue tambah semarak dan menarik penduduk setempat. Banyak penduduk setempat yang ikut-ikutan dalam pesta itu. Sehingga pesta tersebut riuh-rendah dan meriah. Apalagi pesta itu dimeriahkan irama angin yang keras dan mengejang. Kerlip-kerlip bintang yang berwarna-warni. Pancaran mobil metalik yang selalu memancarkan cahayanya yang berwarna-warni; merah, kuning, ungu, dan lain sebagainya yang terus berganti setiap saat, seperti warna-warni kerlip-kerlip lampu disko. Semakin seru saja pesta itu. Pesta yang telah menggelegarkan gelak tawa berpadu, keringat berhamburan dan melambungkan angan-angan mereka ke langit keindahan. Langit keindahan yang selama ini belum pernah mereka nikmati. Sehingga mereka melupakan istri-istri mereka di rumah. Melupakan keindahan dan kehangatan istri. Membuat istri mereka tak ada artinya. Membuat istri mereka tak ada gunanya. Padahal kalau dikaji dengan logika bahwa istri adalah tempat untuk berkasih mesra. Tempat berbagi cerita duka dan senang dalam mengarungi kehidupan. Istri adalah pelengkap kehidupan dalam penyemarakan sebuah rumah tangga. Istri adalah sahabat yang setia saat menemani kita dalam suka maupun dukanya kehidupan yang sedang dijalani.
Mereka melupakan istri mereka hanya karena dibuai kenikmatan dan kesegaran sesaat dari goyangan tubuh Keladi Birah yang begitu hangat dan indah dari kehangatan dan keindahan istri mereka. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah melakukan tindakan kesalahan. Kesalahan yang terlalu terlena menurutkan hawa napsu belaka. Kesalahan yang telah mengabaikan istri mereka yang juga mempunyai peran penting untuk membuat mereka menjadi sukses dalam menjalani kehidupan bersama.
Karena, mendapat perlakuan semacam itu dari para suaminya, para istri mereka sepakat untuk menghentikan perilaku suaminya. Para istri mereka beramai-ramai menuju pesta tersebut. Para istri mereka menyuruh suami mereka untuk pulang dan lebih banyak memperhatikan mereka. Seperti kehidupan yang sudah-sudah. Sebelum datangnya pesta meriah itu. Para istri mereka mengajukan protes pada suaminya yang telah mengabaikan mereka. Para istri mereka menuding Keladi Birah sebagai dalang merusak tatanan peradaban rumah tangga mereka. Para istri mereka sepakat untuk mengadili dan mengusir Keladi Birah dari daerah mereka. Agar para suami mereka dapat hidup normal kembali seperti kehidupan semula.
Pertentangan dan protes antara para suami dan para istri di pesta meriah itu menuai keributan. Pertengkaran demi pertengkaran menggelegar. Perang mulut tak dapat dihindarkan. Saling beradu argumen. Kedua belah pihak saling emosian. Sehingga pesta meriah itu diberhentikan pengelola pesta. Tidak sampai di situ saja. Tampar-tamparan dari para suami beradu dengan adu cakar-cakaran dari para istri. Perkelahian itu seperti perkelahian kucing dan anjing. Mereka yang berkelahi ingin memenangkan perkelahian itu. Sehingga perkelahian menjadi keributan massal. Keributan massal yang harus diberhentikan. Kalau tidak akan jatuh korban jiwa. Perangkat daerah itu dengan sigap segera turun tangan untuk menenangkan keributan massal itu. Pimpinan daerah itu terjun langsung mengamankan. Sehingga keributan massal itu bisa direda. Para suami dan para istri yang bertikai digiring perangkat daerah ke balai daerah yang diikuti pimpinan dearah itu. Di balai daerah akan diselesaikan masalah mereka setuntas-tuntasnya.
* * *
Rapat penyelesaian masalah itu langsung dipimpin oleh Pakis Haji sebagai pimpinan daerah setempat. Rapat itu ramai sekali dihadiri oleh penduduk daerah itu. Tidak terkecuali, Ilalang juga hadir. Rapat dimulai dengan mendengarkan keluhan dari kedua pihak dan pihak penyelenggara pesta. Setelah itu barulah dicarikan jalan keluar dari masalah tersebut. Kedua pihak dan pihak penyelenggara pesta tetap bertahan dengan prinsipnya. Rapat berlangsung alot. Karena, masing-masing kedua pihak dan pihak penyelenggara pesta saling tidak mau mengalah. Titik temu penyelesaian masalah mereka semakin menjauh. Melihat dan menghadapi masalan semacam itu yang tidak ada kata temu. Ilalang angkat pendapat. Dia memberikan argumennya.
”Mengapa kita tak curiga dengan kedatangan mobil metalik yang datang dengan tiba-tiba? Mobil tanpa penghuni dan memberikan cahaya warna-warninya yang memukau. Membuat kita terhanyut dalam buaian keindahan semu. Mengapa kita tak curiga dengan kedatangan Cekue dan Keladi Birah yang membuat cahaya rembulan terlindung oleh pengaruh mereka?
Bukankah dulu kita senang saja menikmati keindahan cahaya rembulan dengan kesenangan yang nyata tanpa kehadiran mereka. Bukankah dulu kita senang saja menikmati warna-warni bintang di langit bukan warna-warni bintang di bumi yang dibawa oleh mereka. Mengapa kita kini senang menikmati cahaya kemilau yang sering menyilaukan dan memusingkan kepala. Mengapa daerah kita kini jadi tidak begitu tenang lagi? Mengapa kini istri-istri di daerah ini marah-marah karena suami-suaminya terlena dengan buaian keindahan tarian Cekue dan Keladi Birah? Mengapa kita tidak mengusir mereka yang hanya mengacaukan daerah kita saja? Mengapa kita membenarkan perbuatan yang mereka lakukan. Di mana akidah mulia yang kita punya selama ini? Di mana unsur kebijakan pertimbangan logis yang kita miliki selama ini? Mengapa kita harus menuruti kebobrokan moral yang mereka lakukan dengan mengatasnamakan perubahan baru? Mengapa kita terpengaruh dengan perbuatan mereka yang jelas-jelas melanggar aturan akidah dan ketenangan daerah kita.
Coba kita berpikir jernih. Jangan membawa pikiran yang keruh. Ternyata Kita telah diperdayai oleh mereka dengan goyangan yang memuakkan itu. Goyangan erotis yang menjatuhkan martabat. Goyangan erotis yang menimbulkan perkelahian antara isteri dengan suami. Yang bisa jadi akan meluas. Perkelahian antarkita.
Mengapa dari dulu sampai sekarang kita tidak membasmi mereka? Biar di kemudian hari mereka tidak mengotori daerah kita lagi, sebelum daerah kita bertambah kotor dicap oleh daerah lain sebagai daerah tempat mudarat. Daerah tempat kotoran najis akidah dan pertimbangan logis bersemayam.
Maukah kita seperti itu? Sadarlah wahai saudaraku. Sadarlah. Bangkitlah untuk kembali menikmati kehidupan damai dan tenang seperti dulu, sebelum kehadiran mereka yang hanya sebagai pengacau. Sadarlah wahai saudaraku. Jalan penyelesaian masalah ini hanya satu yaitu mengusir mereka jauh-jauh dari bumi kita yang tercinta ini.”
Tepuk tangan tidak terdengar. Semua orang tertunduk. Semua orang mencoba mencerna apa yang disampaikan Ilalang. Ada sebagian setuju dengan pendapat Ilalang. Tapi lebih banyak mereka tidak setuju. Karena, mereka merasa kepuasan mereka belum terpuaskan seluruhnya. Hal itu dimanfaatkan oleh pihak penyelenggara pesta untuk membela diri mereka.
”Kalau memang benar kami salah di mata kalian. Kami semuanya minta maaf. Tapi, ingat kedatangan kami di sini telah memberikan perubahan luar biasa kepada daerah kalian. Daerah kalian yang dulu sunyi senyap, sekarang tambah semarak dengan kedatangan kami. Kalau saya mengusulkan. Akan lebih baiknya, suami-suami yang mempunyai istri-istri saja yang tidak boleh ikut dalam pesta kami. Tapi yang lain boleh saja. Mungkin itu lebih masuk akal. Cobalan kalian pikirkan saran saya ini.”
Penduduk daerah itu mencerna usul yang disampaikan pihak penyelenggara pesta. Masuk akal juga. Mereka mulai mengatakan setuju dengan usulan yang disampaikan pihak penyelenggara pesta. Ilalang tidak terima. Dia ingin melakukan protes. Tapi protesnya dipotong oleh Pakis Haji. Dia pun jadi batal. Pakis Haji pun memutuskan dan menetapkan keputusan penyelesaian dari masalah itu. Bahwa suami-suami yang mempunyai istri dilarang mengikuti pesta Keladi Birah dan Cekue. Pihak penyelenggara pesta tetap melaksanakan pesta sampai kapanpun. Keputusan itu langsung ditetapkan pada hari itu juga.
Semua penduduk, suami-suami dan istri yang bertikai, pihak penyelenggara pesta, dan Ilalang pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulangnya Ilalang membawa perasaan kesal. Mengapa penduduk daerahnya sudah tidak mempercayainya lagi? Mengapa penduduk daerahnya terjebak kepada permainan semu yang akan menghancurkannya nanti? Tapi aku tak pantang menyerah. Aku akan terus memperjuangkan daerahku sampai mati. Aku akan terus menyadarkan penduduk daerahku dengan kekeliruan mereka selama ini. Agar mereka tahu bahwa Keladi Birah, Cekue, dan pihak penyelenggara pesta setan itu harus keluar dari daerahku. Biar daerahku kembali tenang dan damai seperti dulu.
* * *
Keladi birah tumbang di tanah. Layu menguning. Meregang nyawanya. Di sampingnya beribu Cekue juga terkapar mati. Sepertinya mereka dibantai tanpa ampun. Membuat penduduk daerah itu menjadi gempar. Karena, hiburan mereka sudah tidak ada lagi. Mereka geram dengan orang yang telah membunuh dan membasmi Keladi Birah dan Cekue secara keji. Sebab mereka telah menikmati keindahan pertunjukan Cekue dan Keladi Birah yang sungguh mengasyikkan. Mereka juga mengikuti apa yang dilakukan Cekue dan Keladi Birah. Mereka juga tak bisa mencari tampang Keladi Birah dan Cekue secepatnya. Kalau pun bisa, memerlukan waktu yang lama. Karena, jaraknya yang sangat jauh. Menurut kabar yang penduduk daerah itu dapatkan bahwa tampang-tampang Keladi Birah hanya dapat diperoleh di kota-kota saja. Sudah beruntung secara tiba-tiba mereka datang ke daerah mereka, meramaikan suasana daerah mereka. Belum sampai suasana daerah mereka semarak mencapai puncaknya Keladi Birah telah mati. Penduduk daerah itu berkenang. Suasana daerah mereka akan kembali sunyi senyap tanpa suara dan hiburan yang ramai dan riuh-rendah. Walaupun begitu, penduduk daerah itu tetap mencari pembunuh Keladi Birah.
Setiap waktu. Setiap masa penduduk daerah itu bekerja. Mencari informasi mengenai pembantaian besar-besaran terhadap Keladi Birah dan Cekue-Cekue. Penduduk daerah itu mencarinya dari daerah mereka sampai keluar daerah mereka. Sehingga suatu ketika penduduk daerah itu mendapatkan informasi. Bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah Benalu. Benalu adalah pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran yang membunuh korbannya kalau dia disewa. Pembunuh bayaran yang kejam membunuh korbannya. Makin memperkuat pemikiran mereka. Bahwa memang Benalu dalang dari pembunuhan itu. Mereka beramai-ramai akhir menangkap Benalu. Benalu tidak berkutik saat mereka tangkap. Benalu meronta dan bersumpah bahwa bukan dia yang melakukan pembunuhan itu. Tapi mereka tidak percaya dengan sumpah Benalu. Mereka tetap akan mengadili Benalu. Mereka juga memutuskan sebuah keputusan bahwa hukuman bagi seorang pembunuh adalah dibunuh. Benalu juga akan mereka bunuh. Rundup tertawa senang. Melihat kenyataan itu. Bukan dia yang dibunuh mereka tetapi benalu. Padahal dialah yang melakukan pembunuhan itu. Inilah yang dinamakan keberuntungan.

Balai Berkuak, 1 April 2010
* * * * * * *
Keterangan:
1. Keladi birah : sejenis tumbuhan keladi yang daunnya sangat gatal kalau tersentuh tangan
manusia.
2. Cekue : binatang yang hidup di pohon kelapa yang menggigit tengkuk manusia yang
sulit dilepaskan kalau tidak mendengar petir tunggal.
3. Tampang : bibit; benih

0 komentar: