Jumat, 16 April 2010

Pempanyat*

Mengapa aku tak boleh mengenal cinta? Mengapa aku ditakdirkan hanya untuk dinikmati sesaat tetapi tak bisa dicintai selamanya? Apakah mungkin karena wajahku yang tak menarik dan cantik? Apakah ukuran untuk dicintai dilihat dari wajah yang menarik dan cantik? Apakah tidak ada ukuran penilaian yang lain? Misalnya dari perilaku dan perbuatan. Padahal aku juga ingin menjadi orang yang dicintai. Disayangi. Begitu manis diperlakukan oleh orang terdekat atau pasangannya. Dimanja dan selalu ada tempat bersandar untuk berbagi rasa dan kesulitan. Sehingga dunia serasanya milik berdua saja. Orang lain dianggap tak punya arti.
Betulkah cinta tak pernah ada dalam kehidupanku? Padahalkan yang aku tahu bahwa Tuhan menciptakan umatnya karena cinta? Cinta adalah rasa menyayangi dan mengasihi yang terdapat dalam lubuk hati terdalam. Bersih dan murni. Tak ada tendensi untuk mengingkari rasa itu yang terus ada. Rasa cinta yang mendalam. Mengapa aku tak pernah mendapatkan cinta itu? Apakah Tuhan tak memberikan padaku yang jelek dan tak cantik ini? Apakah Tuhan memang sentimen padaku? Maaf Tuhan, pemikiranku terlalu kusut sehingga aku berpikiran begitu? Sebenarnya aku hanya ingin tahu saja!
Apakah aku ditakdirkan hanya untuk mengeluarkan keringat teman kencanku berkuah-kuah, mencapai kepuasan napsu belaka? Setelah itu mereka mengacuhkan aku di waktu yang lainnya. Seakan aku ini hanyalah sebagai tempat pelarian untuk pemuasan napsu belaka. Tempat penampung sperma-sperma terlaknat yang tak menjadi janin dalam kehidupan. Karena, sebelum jadi janin, dia sudah kumusnahkan dari kehidupan ini. Mungkinkah karena banyak dosa itulah, aku tak diberikan cinta oleh-Nya. Selamanya tak akan pernah mengenal cinta. Tapi hanya mengenal pelarian orang-orang kesepian untuk memuaskan napsu terkutuk. Hanya mengenal pelarian sperma-sperma terlaknat. Mungkin saja. Kalau begitu adanya, aku tidak akan mengeluh dan protes lagi.
Banyak orang di sekitarku menuduhku manusia tegaan? Tega menyerahkan kehidupan hanya untuk mengejar kepuasan diri. Tega menyerahkan martabat dan kehormatan demi kebutuhan ekonomi yang menghimpit. Bahkan, banyak tuduhan kotor dilontarkan orang-orang di sekitar padaku. Aku terima itu semua. Tapi, pernahkah orang di sekitarku mengerti posisiku yang terjepit ini. Pernahkah orang di sekitarku peduli dengan kemiskinanku. Pernahkah orang di sekitarku membantu meluruskan jalan keinginanku. Orang di sekitarku hanya bisa menilaiku dari apa yang dilihatnya. Aku terima itu. Tapi, dari dalamnya orang di sekitarku tak pernah tahu. Orang di sekitarku hanya bisa mencela dan mencela, tapi membantuku terlepas dari himpitan kehidupan hitam yang kujalani, mereka tak peduli.
Sebenarnya, tidak hanya aku, ada juga teman-temanku yang lain. Yang termasuk pempayat. Pempayat yang biasanya mangkal di kafe remang-remang. Kafe remang-remang yang lampunya juga remang-remang. Selain, di kafe remang-remang, pempayat juga mangkal di losmen yang menyediakan pelayanan serep, warung-warung yang banyak menjual minuman keras. Karena, di tempat itu banyak pelanggan yang nakal. Pelanggan nakal yang tidak hanya sekadar makan-minum, tapi juga ingin meminta pelayanan pemuasan napsu. Pempayat pun memberikan pelayanan prima kepada pelanggan seperti itu sehingga terjadilah pergulatan napsu yang menghantarkan pelanggan pada tingkatan kenikmatan napsu tiada taranya. Kenikmatan napsu dunia.
Aku tidak tahu. Alasan teman-temanku menjadi pempayat. Tapi, kalau aku jadi pempayat. Aku tahu alasannya. Mau tahu? Akan aku beritahu. Aku menjadi pempayat karena aku tak pernah mendapatkan cinta yang mulus dari orang tuaku dan orang-orang yang dekat dalam hidupku. Seharusnya mereka memberikan cinta yang lebih padaku. Tapi, anehnya mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya. Abang dan kakakku juga sama. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku tinggal sendirian dalam kesunyian. Dalam kesunyian itulah, pemikiranku mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cinta. Jalan pintas yang mengantarku menjadi pempayat. Aku kira dengan menjadi pempayat, aku bahkan mendapatkan cinta yang banyak. Ternyata perkiraanku salah. Malahan dengan menjadi pempayat aku semakin sulit untuk mendapatkan cinta. Cinta yang aku cari selama ini. Aku semakin sunyi dan terasing dari cinta yang ingin kumiliki. Cinta menjauh dariku. Lalu aku kadang-kadang berkeluh kesah pada sunyi, sebenarnya cinta untukku di mana? Di simpan di mana oleh Tuhan? Atau memang benar menurut analisis pemikiranku selama ini bahwa aku tak diperkenankan-Nya untuk mendapatkan cinta.
Tapi lain lagi kata teman-temanku yang telah menjadi pempayat. Bahwa aku bisa saja mendapatkan cinta jika seseorang itu dapat bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya padaku. Tapi, mana ada orang yang mau bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah dilakukannya kepada pempayat seperti aku. Kalau pun ada orang yang mau bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya kepada pempayat seperti aku, hanyalah orang suci berhati malaikat.
* * *
Malam itu mengubah semua praduga jelekku mengenai cinta. Bahwa cinta yang kupikir tak pernah hadir dalam kehidupanku. Ternyata malam itu cinta hadir padaku. Aku diberi kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk mengenal cinta. Cinta yang kukenal dan kunikmati ini dikirimnya melalui seorang lelaki berjaket tebal, berkumis tipis, bermata elang. Mata elang lelaki itu melemaskan segala sendi tubuhku. Kaku. Sekaku badan terkena siraman salju. Salju jiwaku yang mulai mengubah perjalanan hidupku. Mungkin inilah bukti kepenyayangan Yang Maha Kuasa untukku.
Malam itu, aku diboking lelaki itu. Kalau sudah diboking begini. Aku sudah mengerti apa yang harus kulakukan padanya. Memberikan servis prima kepadanya. Lelaki itu mengajakku ke sebuah kamar yang sudah dibokingnya. Aku santai saja mengikuti langkah kakinya menuju ke kamar yang dibokingnya. Di kamar itu. Pasti, aku akan melakukan pemuasan gejolak hasrat bersamanya yang sudah berkali-kali kulakukan pada setiap lelaki yang membokingku. Entah sudah berapa puluh lelaki yang telah kupuaskan. Aku sudah tidak tahu. Sudah berapa janin yang tak jadi harus kumusnahkan agar aku tetap tidak punya beban dan setiap waktu dapat melakukan lenguhan birahi dengan banyak lelaki.
Setelah memasuki kamar bokingan, aku mulai mengajaknya untuk melakukan lenguhan birahi, yang biasanya begitulah bila aku sudah diboking. Tapi, lelaki itu menolakku dengan halus. Dia membokingku bukan untuk melakukan lenguhan birahi, tetapi minta ditemani saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Dia ingin aku menjadi pendengar setianya. Karena, dia ingin membagi cerita kehidupannya padaku. Meluahkan segala cerita kehidupannya yang tak pernah ditumpahkannya pada siapapun.
Lelaki itu ingin berbagi cerita kehidupan denganku. Membuat aku jadi berpikir. Sekali lagi aku berpikir. Aneh sekali lelaki ini? Diajak berlenguh birahi tidak mau malah mengajakku menjadi pendengar setia cerita kehidupannya. Lelaki yang memang aneh. Aku berpikir sekali lagi. Pantaskah aku mendengar cerita kehidupannya? Sedangkan aku mahluk kotor. Sepantasnya lelaki itu yang harus mendengar cerita kehidupanku? Cerita kehidupanku yang ingin mendapatkan cinta tapi tak pernah mendapatkan cinta tersebut. Seakan-akan cinta yang kudapatkan itu tak pernah ada dalam kehidupanku. Cerita kehidupanku yang tak pernah dihargai orang-orang di sekitarku. Cerita kehidupanku yang selalu disudutkan orang-orang di sekitarku. Yang hanya pandai menghina dan menyudutkanku dengan melihat tampilan luarnya saja. Tapi, pernahkan mereka introspeksi diri bahwa mereka juga punya kekurangan yang dapat dijadikan cela untuk disudutkan orang lain. Itu yang tidak pernah mereka ketahui. Walaupun cela itu mereka ketahui. Mereka selalu menutup-nutupinya. Itulah kemunafikan mereka. Lebih baik aku yang terus jujur dalam kenyataan. Bukan munafik seperti mereka dan hanya tahu mencela kekurangan orang lain saja.
Aku mencari akal agar lelaki itu dapat kuajak berlenguh birahi. Tapi, lelaki itu tetap menolakku dengan halus dan ramah. Lelaki itu tetap dengan pendiriannya. Bahwa dia hanya minta ditemani berbagi cerita kehidupan. Ini suatu hal yang paling aneh yang harus kuhadapi. Akhirnya, daripada capek sendiri, membujuk lelaki itu tidak mau melakukan lenguhan birahi, aku pun mengalah. Menuruti apa yang diinginkannya. Menjadi pendengar setia cerita kehidupannya.
Dari cerita kehidupannya, dia menginginkan seseorang pendamping hidup yang dapat mendengar cerita kehidupannya dan mau menerima kekurangannya, bukan kelebihannya. Bisa mengerti dan menghargainya. Mampu menanggapi dan memaknai cerita kehidupannya. Dari sinilah, cerita kehidupan yang berbicara tentang cinta telah mengubah jalan pemikiranku. Cinta yang mengubah jalan hidupku.
Di satu sisi lain pemikiranku. Aku tidak percaya tentang cerita kehidupan yang diceritakannya. Aku menganggap perbuatan yang dilakukan lelaki itu adalah perbuatan yang biasa. Perbuatan yang menunjukkan lagu lama lelaki untuk menarik simpati wanita agar wanita itu bersimpati padanya. Setelah wanita itu dapat bersimpati padanya maka lelaki itu merasa menang, karena dia telah menaklukkan wanita itu. Maka wanita itu diperbudaknya dengan keinginannya. Sehingga wanita itu menjadi lelah. Untuk itu, sebagai wanita, aku tidak ingin lelaki itu dapat memperbudakku. Bila perlu aku yang memperbudaknya. Hahaha... tawaku asam kandis. Tertawa untuk menangisi keperihan cerita kehidupanku.
Sekali lagi aku tak mau terjebak perkilahan lelaki itu. Aku harus dapat melepaskan perkilahannya. Dengan menganggap cerita kehidupannya sebagai hembusan angin berlalu. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, tak pernah menyangkut dalam hati. Padahal cerita kehidupannya baik sekali. Mengajakku pada perbuatan yang baik.
Aku makin tambah heran dan terhenyak. Selesai dia bercerita kehidupannya padaku. Lelaki itu membayar waktu bokingnya sesuai dengan tarif biaya boking yang telah disepakati. Aku mau menolak pemberiannya. Tapi tak kesampaian. Karena, dia meninggalkan uang itu di tilam, tempat kami duduk menceritakan cerita kehidupan. Aku hanya bergumam. Memang lelaki aneh.
Di waktu lain, dia datang lagi dengan tampilan yang berbeda. Dia datang dengan wajah segar dan gembira. Dia tidak menceritakan tentang cerita kehidupannya. Dia datang dengan suatu semangat baru. Semangat baru yang menunjukkan bahwa dia telah menemukan kebahagiaannya. Aku merasa bahagia karena dia telah menemukan kebahagiaannya. Tapi, tidak kusangka bahwa kedatangannya kali ini membuatku menjadi shock setengah mati. Setelah aku mendengar permintaannya. Boleh dikatakan aku tidak percaya. Karena, selama ini jangankan ada yang memintaku sesuai apa yang dimintanya. Malahan yang terdengar dari mulut semua lelaki.
Mari kita bermain sampai puas. Mari kita nikmati surga duniawi ini dengan bangga. Terima kasih pelayananmu sangat memuaskan. Kamu memang wanita yang hebat. Kamu memang wanita perkasa.
Sebenarnya apa permintaannya yang membuatku shock? Kalian ingin tahu. Baiklah akan aku beritahu. Biar tidak jadi penasaran kalian. Permintaannya adalah memintaku menjadi istrinya? Gilakan lelaki itu memintaku seperti itu? Tapi, dia memintaku seperti itu saat keadaan jiwanya waras seratus persen. Dia serius memintaku. Itu terbaca dari tatapan matanya yang berkaca-kaca. Dia betul-betul menginginkan aku menjadi istrinya. Membuat aku jadi berpikir. Bukankah selama ini belum pernah terjadi seorang pempayat seperti kami dipinta seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya untuk mengarungi kehidupan rumah tangga selama-lamanya? Belum pernah ada seorang lelaki mau menikahi seorang pempayat, walau pempayat itu mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan wanita yang lain.
Permintaannya itu terus mengocok pemikiranku. Sehingga pertanyaan demi pertanyaan menghiasi otak kepalaku. Masak aku yang dipilihnya menjadi istrinya? Perempuan kotor dan berdebu? Perempuan yang sudah banyak dosanya, berkarat. Apa kelebihanku sehingga dia memilihku menjadi istrinya? Padahalkan di luar masih banyak wanita suci dan baik. Wanita yang bersih dan mulus. Wanita yang tidak jadi perguncingan masyarakat sekitar dan layak menjadi istrinya. Mengapa dia memilihku?
Akhirnya permintaan lelaki itu tidak aku gubris. Aku kesampingkan. Walau dalam tatapan matanya dan kata-katanya tersimpan kesungguhan untuk mengarungi rumah tangga bersamaku. Aku tak peduli dengan semua itu. Apalah artinya rumah tangga bagiku nantinya. Kalau akhirnya rumah tanggaku itu jadi guncingan dan hinaan masyarakat sekitar? Sampai kapan aku dapat bersabar dan bertahan dari guncingan dan hinaan itu?
Lelaki itu tidak berhenti sekali itu saja. Dia terus meminta dan memintaku menjadi istrinya. Dia bilang padaku bahwa akulah yang terbaik untuknya. Jangan kamu pedulikan apa nantinya kata orang. Yang menjalani kehidupan adalah kita. Mantapkanlah hatimu. Aku akan terus memintamu menjadi istriku. Walaupun kamu terus menolakku. Karena, aku yakin dengan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa kamu adalah pasangan hidupku. Walau sekarang kamu belum dapat menerima keinginanku. Nantinya, kamu juga akan mengiyakannya.
Begitu gigihnya dia memperjuangkan keinginannya itu. Membuat analisis otakku semakin bermain dan terus bermain. Membuat aku lebih banyak merenung. Merenungi segala sebab dan akibatnya kalau aku menerima permintaannya. Aku juga meminta saran dan pendapat dari teman-temanku sesama pempanyat mengenai permintaan lelaki itu untuk menjadi istrinya. Teman-temanku memberikan pendapatnya. Kebanyakan teman-temanku mengatakan bahwa itu hanyalah jebakan lelaki itu. Jangan dipenuhi. Karena, belum ada sejarah pempayat yang mendapatkan suami yang betul-betul menyintai kita apa adanya. Yang ada hanyalah penghinaan dan pengucilan oleh masyarakat. Tapi, ada satu temanku yang bernama Syamsiah berpendapat lain.
Dia malah menyuruhku untuk menerima permintaan lelaki itu. Alasannya. Kapan lagi akan menjadi orang baik, kalau kamu tidak mencobanya dari sekarang. Apalagi aku lihat, kamu juga sudah mulai menaruh suka padanya. Hanya kamu lagi bimbang menentukan langkah hidupmu. Kalau aku jadi kamu. Tidak akan ada keraguan lagi dalam hatiku untuk menerima permintaannya. Karena, ini adalah kesempatan emas yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk mengenal cintanya dan memperbaiki citra kehidupan kita di mata masyarakat. Bahwa tidak selamanya kita termasuk dalam kumpulan orang-orang yang jelek dan jahat. Kita juga bisa jadi orang baik. Betul-betul baik. Di sinilah kita akan buktikan pada orang-orang bahwa seorang pempayat juga berhak mendapatkan tempat menjadi orang-orang baik, bukan hanya mereka. Jadi, abaikan saja apa kata teman-teman kita yang menyuruhmu menolak permintaan lelaki itu. Abaikan juga apa gunjingan masyarakat terhadap kita. Jalanilah hidup ini dengan baik. Aku hanya dapat berdoa semoga kamu bahagia bersama lelaki itu. Bahagia dengan merasakan cinta-Nya yang dulu pernah kamu sangsikan.
Mendengarkan penjelasan yang disampaikan temanku itu, aku mulai mendapatkan kemantapan hati. Akan menerima lelaki itu jadi pendamping hidupku. Dalam segala hal nanti lelaki itu akan mengajariku tentang nikmatnya cinta. Nikmatnya hidup berumah tangga. Nikmatnya menghadapi segala persoalan kehidupan dengan berpikiran bijak. Hal itu mulai menghiasi khayalanku. Khayalan tentang kehidupan yang indah-indah.
Aku mulai menunggu kedatangannya di tempat biasa dia berjumpa denganku untuk menyatakan bahwa aku rela jadi istrinya. Aku rela hidup berumah tangga dengannya.
Dua jam. Tiga jam. Bahkan sampai tujuh jam. Sudah berlalu. Lelaki itu belum juga memunculkan dirinya. Tapi aku tetap sabar menunggu kedatangannya. Bahkan aku menguatkan hatiku.
Dia pasti datang! Dia tak pernah ingkar janji.
Namun, pertanyaan demi pertanyaan lain yang membuat kebimbangan diriku juga mengambil tempat menghiasi benakku. Kemana dia? Mengapa dia belum datang? Lama sekali dia datang? Apakah dia hanya mempermainkan hatiku? Belum sempat pertanyaan berikutnya berkecamuk lagi dalam dadaku. Tiba-tiba dia datang. Aku senang, tapi berkecampur kaget. Karena, dia datang dengan wajah pucat. Darah mengalir di bibirnya. Jalannya sempoyongan. Tapi, dia terus melangkah ke arahku. Mata elangnya tak pernah berpaling ke arahku. Sebelum dia mendekat ke arahku. Aku duluan yang memburunya. Lalu kata-kata kepedulianku segera kukeluarkan seketika.
”Ada apa kamu lelaki cintaku?”
”Maafkan aku...,” jawabnya pelan.
Belum sempat aku menanyakan kejelasan kata-katanya itu.
Dia pun roboh dan terkulai lemas.

Balai Berkuak, 1 April 2010
* * * * * * *

Keterangan:
* pempayat : dalam bahasa anak muda Sungai Kualan adalah sejenis binatang yang
menimbulkan bau tak sedap, seperti binatang pempango. Oleh penulis
dikiaskan dengan orang yang tidak diterima oleh warganya karena
perbuatan dan sikapnya yang tidak baik.

0 komentar: