Rabu, 10 September 2014

Mahkota Kedua

“Ah... Amboi cantiknya,” seruku. Terpana.
“Astaghfirullah....
Gadis itu memekik. Karena, kerudung yang dipakainya robek. Memperlihatkan rambut hitam mengkilat tergerai panjang. Dia berusaha menutup rambut itu. Tetapi tidak bisa. Akhirnya, dia terguguk. Menangis.
Pandanganku tetap tidak beralih dari menatap kecantikan rambut gadis itu. Sesaat dia menengadah. Membuat mata kami saling beradu pandang. Kemudian dia mengalah. Tertunduk dan berdiri. Membawa kemuraman wajah dan kesenduan matanya. Kemudian dia berlari begitu kencang. Membawa deraian rintikan salju di mata. Berjatuhan ke tanah. Sepanjang lintasan lari yang dilalui.
Aku tidak mampu mencegah. Masih terpana.  Hanya temannya saja yang mampu mencegah.
“Tunggu Dila!” Temannya berseru. Lalu menyusul Dila yang sudah berlari jauh.
* * * * *

Rasa-rasa aku pernah melihat dia. Di mana ya? Di tempat mana ya? Pikiranku terus berkejaran dengan waktu.
Ah, lenguhku kesal.
Menyisakan asap kesal menembus tirai angin kamarku. Karena,  aku tidak mampu mengingat kejadian itu. Kejadian di mana aku pernah berjumpa dengan dia.
Kemudian jiwaku terdorong untuk membuka album persahabatan. Mudah-mudahan saja dia ada di sana. Aku mulai membuka lembaran demi lembaran album persahabatan. Aku teliti sedetail mungkin setiap wajah yang terpampang di situ. Wajah dia tidak aku temukan. Mirip dengan dia juga tidak aku temukan.
Sialan, makiku pada diri sendiri. Karena,  pencarianku dalam album persahabatan sia-sia.
Untuk menghilangkan bosan yang menjamah rasa. Aku alihkan aktivitasku pada kegiatan membaca. Aku rengkuh sebuah buku Kahlil Gibran dalam rak buku. Yang berjudul RENUNGAN SPIRITUAL. Aku mulai membaca. Sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Aku mulai belajar memahami kedalaman isi buku itu yang berisi renungan-renungan pembangkit semangat. Cocok sekali dengan suasana hatiku saat ini. Memerlukan sebuah dorongan untuk menghilangkan kekesalan.
Pada halaman seratus dua puluh. Aku agak lama membaca. Karena, dalam halaman itu ada sebuah kalimat yang sungguh menarik hati. Aku meresapi kalimat itu dalam-dalam. Bahkan pembacaanku pada kalimat itu kuulang-ulang sampai berkali-kali agar aku mengerti makna kalimat itu. Menafikan kalimat itu dengan sosok gadis yang ingin  aku kenal. Belum lama ini. Sungguh unik pertemuan itu.
Bunyi kalimat itu adalah wanita muda itu bagaikan mata air yang menyembur dari inti bumi dan mengalir melalui lembah yang berkelok
* * * * *

Hari berganti hari. Membuat aku semakin tersiksa. Sebab wajah mendung dan tangisan dia yang aku jumpai secara tidak langsung itu selalu menganduli pikiranku. Apalagi saat itu aku lihat sorotan mata dia membiaskan kekecewaan. Yang menyatakan aku telah bersalah pada dia. Aku sebenarnya mau saja minta maaf pada dia. Sekaligus ingin mengenal dia. Tetapi di mana aku harus menemukan dia? Menjumpai dia? Yang dapat  aku ingat. Dia mempunyai nama Dila. Itu pun aku ketahui ketika temannya memanggil dia saat dia berlari membawa kekecewaan hati. Paradilakah? Dila Karinakah? Dila Maharanikah? Atau Dila yang lain. Sebab dalam kota yang begini luas. Banyak yang mempunyai nama Dila. Bagaimana ya?
Aku mulai memahami suatu hal. Memahami sebuah petuah yang selalu  aku jalankan. Petuah itu adalah kalau ingin jalan kehidupanmu berjalan mulus dan lancar berusahalah jangan menyakiti wanita dan hargailah mereka.
Padahal aku sudah menyakiti dia yang merupakan seorang wanita. Walau itu aku lakukan secara tidak sengaja. Kalau begitu, bagaimanapun caranya aku harus menemukan dan meminta maaf atas kesalahanku pada dia. Bagaimana caranya?
Setelah mengalami beberapa kali pemikiran. Aku menemukan juga sebuah metode. Segera saja  aku laksanakan metode itu. Aku datangi sebuah radio terkenal di kota ini. Radio Kenari. Aku utarakan maksud hati ini.  Aku minta kepada penyiar untuk menyiarkan sebuah berita.  
Dicari seorang wanita berkerudung oren bernama Dila yang memiliki kebeningan mata yang mempesona. Dila pernah mengalami kejadian yang membuat dia sedih di Pantai Harapan. Ditunggu orang yang ingin sekali minta maaf pada Dila. Dimohon sangat kehadiran Dila.
Di Pantai Harapan. Aku mulai menunggu Dila. Berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Juga sampai berbulan-bulan. Tetapi Dila tidak menunjukkan wajahnya. Apakah Dila marah dengan kejalangan mataku yang menatap wajahnya? Apakah Dila kecewa berat dengan sikapku yang memandang mahkotanya yang bukan milikku?
Yaa Allah, berikan aku petunjuk-Mu. Temukan aku dengan Dila sebelum nyawa merenggutku. Jangan biarkan aku meninggalkan dunia ini dengan membawa sepercik kesalahan pada Dila. Aku takut di akhirat nanti. Aku dijegal untuk memasuki surga kenikmatan-Mu yang hakiki. Padahal aku hanya membekal sedikit kesalahan pada Dila. Yaa Allah, kabulkan keluhan hatiku.
* * * * *

Mengapa aku jadi begini? Diliputi rasa sesak yang tiada ada muara? Mengapa aku dihempaskan  pada hal kalut begini? Apakah aku salah menegakkan prinsipku? Tidak sakit hatikah Rohim bila aku memutuskan perhubungan ini? Tidak dendamkah Rohim bila aku memPHK dia? Aduh.... Mengapa jiwaku menjadi serba salah begini? Bukankah kebenaran di atas segala-galanya? Benarkah prinsipku ini? Tetapi....? Aku tidak boleh larut dalam kebimbangan ini. Aku harus mengambil keputusan.
“Rohim, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Dila.
“Bicarakan saja di sini. Apa yang ingin kau bicarakan. Penting ya?” jawab Rohim.
“Penting sekali Rohim. Ini mengenai pertunangan kita.”
“Mengapa dengan pertunangan kita? Apakah aku telah berbuat salah padamu? Apakah aku telah menyakiti hatimu? Apakah aku...”
“Sudahlah, Rohim. Kau tidak salah apa-apa. Kau tidak pernah menyakiti hatiku. Kau selalu baik padaku. Saat ini aku yang salah. Terlalu teledor dan tidak bisa menjaga pertunangan kita. Maafkan aku, Rohim. Aku katakan ini agar kau tahu. Rohim, pertunangan kita tidak bisa diteruskan lagi. Karena, aku tidak pantas lagi untukmu.”
“Apa?” Rohim kaget mendengar kata Dila.
“Kau memutuskan pertunangan kita? Mengatakan kau tidak pantas buatku? Apa masalahnya?”
Masalahnya tidak bisa aku katakan. Sangat memalukan. Rohim, biarlah masalah ini aku yang menanggungnya. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah ini. Rohim, maafkanlah aku. Ini cincin pertunanganmu aku kembalikan.”
Dila menyerahkan cincin pertunangan yang selalu melingkari jari manisnya kepada Rohim.
Tidak bisa begitu, Dila. Kau memutuskan pertunangan ini hanya sepihak saja. Aku tidak terima. Apalagi kau memutuskan pertunangan ini tanpa sebab yang jelas.”
“Rohim, kau mengertilah. Kau mengertilah posisiku yang terjepit ini.”
Aku telah lama mengertimu, Dila. Dengan selalu berusaha menjaga pertunangan kita dengan baik. Selama pertunangan, kita tidak pernah ada masalah. Tetapi, hari ini kelakuanmu sungguh aneh aku rasakan. Kau memutuskan pertunangan kita tanpa sebab yang jelas. Apa aku tidak merasa sok. Aku berharap bahwa kita bisa menjadi pasangan serasi. Tetapi, ternyata harapanku tidak bisa direalisasikan. Karena, kau telah memutuskan pertunangan ini. Tidak salah, kalau aku ingin mengetahui sebabmu memutuskan pertunangan ini secara sepihak agar aku bisa berlega jiwa dan berusaha menenangkan perasaan. Bahwa kau bukan jodoh yang dikirim Allah untukku. Aku mohon padamu. Katakanlah alasanmu itu, Dila.” Rohim betul-betul meminta.
Dila membatalkan langkah sejenak. Dia menatap Rohim. Dia melihat kelukaan dari mata bening itu. Tetapi apalah daya dan kekuatan dia. Dia tidak bisa mengobati kelukaan itu. Dia tidak tega melihat Rohim tambah terluka. Dila mengalah. Dengan berat hati dia utarakan sebab dia memutuskan pertunangan itu. Mahkotanya sudah dilihat dan dinikmati orang. Rohim sangat terkejut. Antara percaya dan tidak percaya. Berkecamuk dalam dada. Dia ingin meminta kejelasan lebih lanjut lagi dari Dila. Tetapi Dila telah meninggalkan Rohim dalam kebingungan. Pemikiran Rohim berbicara. 
Masak Dila yang taat agama bisa terjebak dalam kemaksiatan. Tidak mungkin. Tetapi...? Bisa saja. Bisa saja Dila dijebak orang yang telah melihat dan menikmati mahkotanya. Kalau memang begitu. Siapa yang telah berani menjebak Dila? Tetapi...? Kalau Dila tidak dijebak. Apakah dilakukan atas suka sama suka. Ini lebih tidak mungkin lagi. Ah, pemikiranku sudah terlalu jauh. Maafkan pemikiranku ini. Sebaiknya aku mencari tahu kebenaran itu.  
Mengenai Dila yang telah memutuskan pertunangan dengan Rohim. Membuat orang tua Dila tidak dapat menerima. Karena, keputusan yang diambil Dila hanya sepihak. Apalagi pemutusan pertunangan itu hanya disebabkan seseorang telah melihat dan menikmati mahkota kedua dari Dila. Bagi orang tua Dila, itu adalah masalah sepele. Orang tua Dila segera mengingatkan anaknya agar mengkaji ulang keputusan yang telah diambil. Tetapi Dila tetap dengan keputusannya. Karena, dia selalu memegang keteguhan yang diyakininya adalah sebuah kebenaran. Apalagi diperkuat dengan dalil keimanan yang kuat. Orang tua Dila merengut sedih. Tidak bisa membujuk anaknya agar dapat membatalkan keputusan yang telah diambil.
Rohim tidak lelah-lelah berusaha mencari tahu kebenaran tentang mahkota Dila yang sudah dilihat dan dinikmati orang lain. Sampai dua minggu pencarian. Dia belum menemukan hasil. Masih terbentur pada hal samar-samar. Tetapi ada sedikit hal melegakan Rohim. Dia mendapatkan informasi dari seseorang bahwa Dila akan bertemu dengan orang yang melihat dan menikmati mahkotanya di Pantai Harapan, Mempawah. Dila minta pertanggungjawaban dari orang tersebut atas kelancangan yang telah melihat dan menikmati mahkotanya.
“Aku harus ke sana,” lirih hati Rohim. “Aku mau tahu tampang orang yang telah melihat dan menikmati mahkota Dila. Selain itu, orang seperti itu harus diberi pelajaran berarti agar dia tidak lancang melihat dan menikmati mahkota orang lain yang bukan muhrimnya.”
Tanpa sepengetahuan Dila. Rohim mengikuti Dila yang ingin menemui seseorang yang telah melihat dan menikmati mahkota kedua Dila. Dila ingin meminta pertanggungjawaban kepada orang tersebut. Gara-gara mahkota kedua dia sudah dilihat dan dinikmati orang tersebut dia harus rela melepaskan pertunangannya dengan Rohim. Dila menganggap bahwa dia sudah tidak pantas dimiliki Rohim. Karena, dia sudah tidak suci lagi dalam mempertahankan sesuatu berharga. Mahkota kedua. Yang tidak sembarangan dilihat dan dinikmati orang lain. Sebelum jalinan pernikahan mengesahkan.
* * * * *

Dari jauh Dila sudah melihat orang tersebut. Duduk menatap deburan ombak menuju daratan. Orang tersebut duduk menunggu dengan sabar. Tempat di mana mahkota kedua dia dilihat dan dinikmati orang tersebut. Dila segera bergegas menuju ke sana. Dila ingin cepat menuntaskan permasalahan. Dila berpikir. Orang tersebut pasti sudah lama menunggu.
“Kasihan dia. Hanya untuk meminta maaf kesalahan yang diperbuat. Dia harus menungguku sekian lama. Dua puluh tujuh hari tanpa pernah dia mengeluh. Sebenarnya dalam hatiku terbetik menemui dia. Sebelum mencapai dua puluh tujuh hari penantian. Tetapi keinginan itu tidak pernah tersampaikan. Di hari dua puluh tujuh penantian, baru aku dapat menemui dia. Mungkin saja liku perjalanan kehidupan yang kulalui ini sudah diatur oleh Allah. Hari ini aku harus tuntas menyelesaikan persoalan mahkota keduaku yang sudah dilihat dan dinikmati dia. Aku musti meminta pertanggungjawaban dari dia. Sehingga persoalan ini selesai. Aku tidak ingin selalu larut dalam persoalan ini. Karena aku juga sudah banyak berkorban demi akidah yang kujaga.”
Dila semakin mendekat. Setelah jarak antara dia dengan orang tersebut hanya seperjangkauan tangan. Dila mengucapkan salam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Orang itu kaget. Orang itu segera menoleh ke asal suara. Orang itu mulai tersenyum. Penantian orang itu membuahkan hasil. Gadis yang ingin dijumpai sudah menampakkan diri. Padahal cukup lama orang itu menantikan pertemuan seperti ini. Pertemuan untuk melepaskan dia dari kegelisahan hidup. Karena, dia selalu dihantui rasa bersalah. Membuat kehidupan yang dijalani dia menjadi tidak tenang. Sebelum dia meminta maaf atas kesalahan tempo hari. Telah lancang membuat gadis tersebut menangis membawa kekecewaan hati. Dia pun mulai menjawab salam tersebut.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Saudari sudah sudi menemuiku. Silakan duduk.”
“Terima kasih,” ucap Dila.
Dila duduk di sebuah batu yang panjang-memanjang. Seperti deretan bangku panjang. Dila memandang orang di depan dengan saksama. Begitu juga orang itu. Mereka saling pandang-memandang. Belum ada sepatah kata terlontar dari mulut mereka. Kemudian mereka saling menundukkan kepala. Merenungi tatapan yang barusan mereka lakukan. Di dalam hati mulai menganalisis. Mulai menelisik kemaafan. Sebentar lagi akan tersampaikan. Akhirnya, orang itu memulai untuk berkenalan. Dila menerima dengan senyuman. Menambah kenyamanan mereka untuk membicarakan persoalan ketidakenakan di antara mereka.
Orang itu memiliki  nama Rahman Nurahman. Nama yang bagus sekali. Begitu sebaliknya dengan Rahman Nurahman. Dia juga mulai mengetahui bahwa gadis yang akan diminta maaf adalah Dila Maharani. Setelah mereka mulai merasa nyaman dengan perkenalan itu. Rahman segera membicarakan persoalan yang sebenarnya.
“Dila, waktu itu walau tidak sengaja. Aku telah lancang melihat dan menikmati kecantikan rambutmu. Sehingga membuat kau menangis. Membawa kekesalanmu atas perlakuanku. Dengan melihat kekesalanmu membuat jiwaku tersiksa. Aku terus dihantui perasaan bersalah. Aku berusaha untuk dapat berjumpa denganmu. Meminta maaf atas kesalahanku. Biar jalan kehidupanku berjalan lancar. Alhamdulillah di hari dua puluh tujuh penantianku. Kau dapat hadir menemuiku. Sekarang setulus hatiku. Aku ingin meminta maaf padamu atas kesalahanku tempo hari. Apapun akan kulakukan demi menebus kesalahanku,” kata Rahman mantap.
Dila diam saja. Dia belum memberikan keputusan. Membuat Rahman semakin tidak mengerti.
“Dila, apakah kau mau memaafkan kesalahanku?” ulang Rahman.
Dila tetap diam. Kemudian beberapa menit terdiam. Dia mulai angkat bicara.
“Maaf ya Rahman, aku tidak bisa memberikan maaf padamu. Karena, kesalahanmu sudah kuanggap besar. Walau itu kau lakukan tidak sengaja.”
“Apa? Kau tidak mau memaafkan kesalahanku?” Rahman terkejut.
Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Padahal tadi dia sudah berkenang bahwa Dila akan mengucapkan. “Aku akan memaafkan kesalahanmu. Sebagai manusia sudah sepatut tempatnya salah. Sesama manusia, kita harus saling memaafkan.”
“Kesalahanku terlalu besar? Aneh? Padahal aku hanya melihat keindahan rambut saja. Mengapa dikatakan kesalahan besar? Memang rambut sangat berharga bagimu. Walau aku tahu itu merupakan aurat dari seorang wanita. Tetapi....? Mengapa tidak bisa dimaafkan? Apakah aku harus berbuat sesuatu agar kau dapat memaafkan kesalahanku? Aku mohon tolong maafkan kesalahanku,” pinta Rahman dengan memelas.
“Ya. Benar katamu. Rambut adalah salah satu mahkota bagi gadis. Mahkota kedua bagiku. Menurutmu penilaianmu, masalah dengan melihat dan menikmati rambut seorang wanita adalah hal kecil. Tetapi bagiku itu adalah masalah yang besar. Kau tahu. Hanya karena mahkota keduaku telah dilihat dan dinikmati olehmu. Aku sampai memutuskan pertunangan. Aku berkorban demi prinsip yang kujaga dengan baik. Aku bisa.... Aku bisa memaafkan kesalahanmu itu dengan satu persyaratan yang harus kaupenuhi. Tidak boleh tidak. Harus kau setujui. Karena Ini sudah menyangkut ke arah sebuah pertanggungjawaban dari sebuah kesalahan. Kalau kau tidak mampu memenuhi maka selamanya aku tidak akan memaafkan kesalahanmu,” jelas Dila.
Rahman melongo mendengar penjelasan. Matanya berkedip-kedip dengan pandangan tertunduk ke bawah. Itu dilakukan dia, karena dia tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Menikmati kecantikan orang lain yang bukan muhrimnya. Dengan cara menjauhi pandangan mata yang menyilaukan.
“Katakan apa persyaratanmu? Aku akan berusaha memenuhi. Karena, aku tidak ingin hidup dalam kesalahan terus,” ujar Rahman.  
Dila menghirup udara segar. Sebelum dia mengatakan persyaratan tersebut. Kemudian dengan pelan dan tegas dia berkata,“Kau harus menikahiku!”
Rahman terkejut mendengar persyaratan itu. Lutut goyah. Bibir kelu untuk berkata.  Badan melemas. Pikiran berkenang, “Sungguh berat persyaratan yang harus kuterima dari sebuah kesalahan ini.”

Bumi Lelabi Putih, 31 Agustus 2014

* * * * * * *

0 komentar: